The Window Tax: A Case Study in Excess Burden

GTESTWITHTEARS

 

Penulis: Wallace E. Oates and Robert M. Schwab

Tahun: 2016

Jurnal: Journal of Economic Perspectives Vol. 29 No. 1

Publisher: American Economic Association

 

 

Latar Belakang

Pajak Jendela sebagai bukti kebijakan fiskal yang aneh dan kelam melanda Inggris-Skotlandia pada pemerintahan King William III di tahun 1696 – 1851. Pajak ini adalah salah satu pendahulu dari pajak properti modern yang sangat menyiksa warga Inggris dan Skotlandia. Hal ini dikarenakan efek distorsi pajak yang nantinya berdampak pada kesejahteraan sosial dan menimbulkan dead-weight loss yang semakin besar. Adanya kehadiran Pajak Jendela ini menyebabkan para pembayar payak berupaya mengurangi tagihan pajak melalui tindakan seperti menaikkan jendela agar tidak nampak oleh assestment tax dan pembangunan rumah dengan jendela yang sangat sedikit. Terkadang seluruh lantai rumah tidak berjendela.

Kehadiran Pajak Jendela ini membuat dua efek: efek kesehatan (adverse health effect) dan estetika (aesthetic effect) yang membuat ratusan warga negara menderita bahkan meninggal karena ruangan rumah yang pengap, bau, dan gelap. Mereka terpaksa membayar udara dan cahaya karena pajak jendela. Meskipun ada banyak protes, pajak tersebut terus berlanjut selama lebih dari satu setengah abad: pajak jendela akhirnya dicabut pada tahun 1851.

 Tujuan Penelitian

Tujuan peneliti dalam jurnal ini ada tiga:

  1. Pertama, peneliti memberikan sejarah singkat tentang pajak
  2. Kedua, peneliti telah mengumpulkan dataset dari mikrofilm catatan pajak daerah selama periode ini yang menunjukkan jumlah jendela di tempat tinggal individu. Menggambar data ini, peneliti dapat membuktikan beberapa hipotesis dasar mengenai pengaruh pajak terhadap jumlah jendela dan untuk menghitung ukuran kasar yang pasti dari kelebihan beban (dead-weight loss) terkait dengan pajak jendela.
  3. Menjelaskan konsep kelebihan beban (dead-weight loss) dan kaitannya dengan pajak jendela yang dapat memiliki efek samping serius terhadap kesejahteraan sosial.

Pembahasan

  • Sejarah Singkat Pajak Jendela

Pajak Jendela dikenakan selama 150 tahun sejak tahun 1696 hingga 1851. Pajak tersebut dimaksudkan sebagai retribusi sementara, tapi terestrukturisasi dan nilainya meningkat beberapa kali. Pajak Jendela ini dikenakan atas dasar kekurangan dana pemerintahan akibat perang semenjak Revolusi Inggris sehingga pajak pendapatan tidak cukup untuk menanggungnya. Pajak jendela ini dapat membantu pemerintahan dalam Perang Napoleon di tahun 1797.

Pajak ini dipungut dari penghuni, bukan pemilik tempat tinggalnya. Dengan demikian, penyewa, yang bukan pemilik rumah, harus membayar pajaknya. Namun, bangunan dengan rumah petak besar di kota-kota, atau beberapa apartemen, adalah sebuah pengecualian. Untuk rumah petak atau beberapa apartemen, pajak dikenakan kepada tuan rumah sebagai pemiliki tempat tinggal tunggal. Hal ini menyebabkan kondisi yang sangat buruk bagi masyarakat miskin di kota – kota, seperti tuan tanah yang memblokir jendela dan membangun rumah-rumah petak tanpa cahaya yang memadai dan ventilasi (Glantz 2008, hal 33). Terdapat pengecualian dalam objek pajak yaitu: kantor publik, rumah pertanian dengan biaya kurang dari 200 pounds/year, perusahaan keju susu, perusahaan roti, dan rumah pembuat gerobak.

Pajak jendela sebenarnya adalah pengganti dan penyederhana dari penerapan pajak perapian (hearth tax), dimana pajak ini mengharuskan penilai pajak harus memasuki setiap ruangan rumah dan menghitung cerobong asap dan tungku perapian sebagai objek pajak. Namun pajak jendela ini memiliki kelemahan dalam peraturan mendefinsikan “jendela”. Seorang individu mungkin harus membayar pajak jika ada batu bata yang jatuh dari dinding jika lubangnya memancar cahaya dan udara ke dalam rumah. Memang, jika tempat tinggal sudah berada di salah satu titik “Notch”, lubang baru dari batu bata yang hilang bisa memaksa penduduk untuk membayar lebih tinggi tingkat di setiap jendela di rumah. Masalah ini merupakan sumber kerusuhan yang cukup besar

Meskipun struktur tarif pajak jendela direvisi berkali-kali selama periode yang panjang ini, satu fitur sangat penting bagi penelitian kami adalah: Pajak tidak terdiri dari serangkaian tingkat marjinal yang naik dengan mulus namun termasuk serangkaian “Notch” – titik di mana jika ada sedikit perubahan dalam perilaku – seperti penambahan jendela – menyebabkan perubahan besar dalam kewajiban pajak.

Penetapan tarif pajak dibagi menjadi dua periode:

gtest 1
Pemilik rumah yang membeli 10 jendela dengan demikian membayar pajak 6 pence di jendela ke 10 dan juga pada masing-masing 9 jendela lainnya yang sebelumnya tidak terkena pajak. Jadi total pajak pada jendela ke 10 adalah 60 pence, yang setara dengan 5 shilling. Oleh karena itu, pajak jendela mendistorsi keputusan dan menyebabkan beban berlebih, maka orang akan berharap menemukan banyak rumah dengan jendela 9, 14, atau 19 tapi sangat sedikit dengan 10, 15, atau 20. Tes argumen ini akan dibahas di bawah ini. 

  • Adverse Health and Aesthetic Effects of The Window Tax

Pajak Jendela membuat efek distorsi semakin besar sehingga membebani orang miskin akibat alokasi sumber daya alam yang tidak efisien. Di banyak rumah, batu bata menggantikan jendela yang ada sebelumnya. Apalagi rumah yang baru dibangun jumlah jendela dihemat dengan cara drastis. Paling tidak satu gedung apartemen di Edinburgh tidak memiliki jendela sama sekali pada seluruh lantai dua (berisi kamar tidur). Tentu saja, ada beberapa contoh di mana penduduk memiliki banyak jendela sebagai sarana untuk menampilkan kekayaan mereka (Aesthetic Efect). Efek buruk yang paling serius dari pajak jendela adalah pada kesehatan manusia. Sedikitnya ventilasi dan udara segar yang baik mendorong berbagai penyakit seperti disentri, gangren, dan tifus. Dalam satu contoh pada tahun 1781, penyakit tifus membunuh banyak warga di Carlisle. Dr. John Heysham menelusuri asal-usul wabah ke rumah yang dihuni oleh enam keluarga miskin (Guthrie 1867, hal. 409), dan menggambarkan tempat tinggal dengan cara berikut:

Untuk mengurangi pajak jendela, semua sumber ventilasi dilepaskan. Bau di rumah ini sangat menyengat. Tidak ada bukti bahwa demam tersebut diimpor ke rumah ini, tapi hal itu disebarkan ke bagian lain kota, dan 52 dari penduduk terbunuh.

6 Serangkaian petisi ke DPR mengakibatkan penunjukan komisaris dan komite untuk mempelajari masalah pajak jendela di paruh pertama abad ke-19. Pada tahun 1846, petugas medis mengajukan petisi kepada Parlemen untuk penghapusannya pajak jendela, yang menghasilkan pembubaran pajak jendela di tahun 1851.

  • Seberapa Besar Kelebihan Beban dari Pajak Jendela?

Disini peneliti memberikan 3 kasus permintaan jendela dengan asumsi pajak jendela dikenakan pada satu notch (pada tingkat 9 jendela pada tahun 1747 – 1757) dan penawaran jendela bersifat perfectly elastic.

  1. Kasus 1 menunjukkan konsumen yang memiliki sedikit jendela pada tingkat sebelum  dan tidak dikenakan pajak. Pada Kasus 1 ini, konsumen tidak membayar pajak dan tidak mengalami kerugian (deadweightloss) yaitu mendapat surplus konsumen sebesar D+B+C.
  2. Kasus 2 adalah konsumen yang membeli jendela lebih dari yang sebelumnya belum terkena pajak dan sampai diterapkan pajak  sehingga menderita kerugian sebesar A+B+C, dengan A+B sebagai nilai pajak yang harus dibayar dan C deadweightloss.
  3. Kasus 3 adalah konsumen yang membeli jendela lebih dari yang sebelumnya belum terkena pajak dan ternyata diterapkan pajak sehingga menderita deadweightloss sebesar D+B+C.

gtest 2

gtest 3

Konsumen yang jatuh di Kasus II dapat dikatakan adalah mereka yang memilih membayar pajak. Sedangkan di Kasus III adalah mereka yang menghindari pajak sehingga mendistorsi perilakunya mengurangi pajak dengan jendela yang lebih sedikit ke titik notch. Namun konsumen dalam memilih pilihan di Kasus II atau III tergantung dari kerugian/ deadweightloss yang dialami setiap kasusnya. Konsumen akan memilih Kasus II jika kerugian A+B+C < D+B+C, begitu sebaliknya jika memilih Kasus III. Disini dapat ditarik kesimpulan, pengambilan keputusan untuk membayar atau tidak membayar pajak tergantung luas area D (yang merupakan selisih antara willingness to pay dengan harga setelah pajak) sama, lebih kecil, atau lebih besar dengan area A (yang merupakan nilai pajak yang harus dibayar).

Selain itu, tingkat deadweightloss dan pengambilan keputusan untuk mengurangi jendela atau tetap membayar pajak dipengaruhi dari tingkat elastisistas permintaan. Semakin elastis permintaan jendela, maka konsumen membeli banyak jendela dengan tetap dikenakan pajak (Kasus II). Hal tersebut dikarenakan semakin besarnya pengorbanan willingness to pay yang dikeluarkan dibanding beban membayar pajak (A<D). Begitu pula, semakin inelastis permintaan, konsumen maka akan memilih untuk mengurangi jendela di tingkat notch (Kasus III) karena beban membayar pajak lebih tinggi (A>D).

Metode dan Hasil Penelitian

  1. Metode Model Simulasi

Model Simulasi ini dikembangkan oleh Oates dan Schwab dengan ketentuan sebagai berikut: terdapat 1.000 konsumen dengan fungsi permintaan yang menunjukkan willingness to pay terhadap pembelian dari 0,1,2,…, 60 jendela.

gtest 8

gtest 4

Setelah itu, kami membandingkan dengan data kebijakan pajak jendela di tahun 1747-1757 dan tahun 1761-1765 (adanya kenaikan tarif pada rentangan tahun tersebut) dengan hasil simulasi sesuai model diatas.

gtest 5

 

Berdasarkan hasil simulasi pada 1.000 konsumen tersebut, kehadiran pajak jendela membuat efek distorsi pajak yang mengubah para pemilik rumah untuk memiliki sejumlah jendela di tingkat notch yaitu sebesar 29,7% (berdasarkan Tabel 1.4 Simulation Result). Selain itu, pajak jendela terbukti menimbulkan kelebihan beban (excess burden). Dengan diketahui dari hasil simulasi bahwa terdapat deadweightloss sebesar 13.4% dari total pendapatan pajak yang dibayarkan (dibandingkan pada data asli hasilnya lebih jauh menjadi 62%). Secara lebih detail, peneliti juga menghitung kelebihan beban marginal dari pajak jendela terhadap kenaikan pajak marjinal, dengan menaikkan tarif pajak 10% dalam model. Kami menemukan kelebihan beban marjinal 0.23 yang artinya meningkatkan tambahan $ 1 dari pendapatan pajak melalui pajak jendela akan menghasilkan tambahan $ 0,23 dari beban berlebih.

  1. Metode Statistik

Data terdiri dari 496 rumah selama tahun 1747-1757 yang diambil kebanyakan di Ludlow, kota pasar di Shropshire , dekat perbatasan Wales, dan 170 rumah di tahun 1761-1765. Uji statistik menggunakan Chi-Square Test menolak hipotesis bahwa ada jumlah rumah yang sama dengan 8, 9, atau 10 jendela; dengan jendela 13, 14, atau 15; atau dengan 18, 19, atau 20 jendela di tahun 1747-1757. Sedangkan untuk di tahun 1761-1765, yaitu: 6,7,8 ; 10,11,12, dan 18,19,20 jendela. Jelas sekali bahwa orang menanggapi pajak jendela dengan memasang di salah satu notch sehingga meminimalkan tanggung jawab pajak mereka.

gtest 6 Singkatnya, bukti dari dua sampel kami cukup jelas bahwa ada kecenderungan untuk mengubah perilaku guna mengurangi pembayaran pajak jendela. Orang memilih jumlah jendela untuk tidak memuaskan preferensi mereka sendiri, tapi untuk menghindari tingkat pajak yang lebih tinggi. Dengan demikian, Pajak jendela, menghasilkan “Excess Burden” atau kelebihan beban yang nyata.

Kesimpulan

Pajak jendela mewakili kasus kelebihan beban yang sangat jelas dan transparan karena pajak jendela menempatkan biaya mahal pada pembayar pajak di samping kewajiban pajak mereka akibat penyesuaian perilaku menghindari pajak. Dalam merancang sistem perpajakan, penting untuk mempertimbangkan masalah ini. Yang ideal, pada prinsipnya, adalah pajak netral cenderung meningkatkan pendapatan yang diinginkan namun tidak mendistorsi perilaku pembayar pajak sehingga tidak menimbulkan beban tambahan. Pajak semacam itu adalah pajak nilai tanah murni (atau di Indonesia disebut Pajak Bumi Bangunan(PBB)) yang dipungut pada nilai tanah – yaitu nilainya tanpa perbaikan. Dengan demikian, nilai yang dinilai dari tanah sepenuhnya independen terhadap keputusan yang dibuat oleh pemilik tanah. Berbeda dengan pajak jendela, yang memberikan contoh menarik dari biaya tambahan yang timbul ketika kewajiban pajak properti bergantung pada perilaku pemilik properti, sedangkan pajak tanah tidak menciptakan insentif untuk menghindari pajak.

 

Diulas oleh Rizqi Qurniawan

Ilustrasi oleh Norman Hasudungan

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in