The Consequences of the “Missing Girls” of China

GT 7

 

Penulis: Avraham Y. Ebenstein and Ethan Jennings Sharygin

Tahun: 2009

Jurnal: THE WORLD BANK ECONOMIC REVIEW, VOL. 23, NO. 3, pp. 399–425

Publisher: Oxford University Press on behalf of the International Bank

 

Tujuan Penelitian

Sejak kebijakan satu anak diketuk palu pada tahun 1979, China mengalami kenaikan perbandingan kelahiran antara pria dan wanita yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang yang lahir antara tahun 1980-2000 mempunyai jumlah 22 juta pria yang lebih banyak dibanding wanita. Jurnal ini akan memberikan simulasi yang menguraikan bagaimana perbedaan yang cukup besar dari perbandingan jenis kelamin dapat berpengaruh terhadap probabilitas gagalnya pernikahan di China pada abad ke-21. Terdapat tiga konsekuensi dari kejadian tersebut: meratanya prostitusi dan penyakit seksual (dalam hal ini HIV), keadaan ekonomi dan kesehatan fisik dari pria yang gagal menikah, dan berkurangnya tingkat kepedulian terhadap lansia, khususnya pria lanjut usia yang gagal menikah.

Bagian 1: Informasi Demografi tentang Pernikahan, Fertilitas, dan Perbandingan Jenis Kelamin

Sebenarnya China pernah mengalami kejadian serupa pada tahun 1900-an, tetapi dengan penyebab yang berbeda. Perbandingan pria yang lebih banyak daripada wanita menyebabkan tingginya kematian bayi perempuan. Sensus menunjukkan hampir 6 persen dari pria yang lahir antara tahun 1935-1945 gagal atau tidak pernah menikah, dibandingkan dengan hanya 0,18 persen dari wanita.

GT 1

Source: Authors’ analysis based on data from China National Bureau of Statistics (1982,

Relatif terhadap generasi baby boom (1950-1960an), tingkat fertilitas yang semakin tinggi dan peran orang tua yang tidak lagi memilih jenis kelamin anak mengakibatkan semakin rendahnya perbandingan antar jenis kelamin. Pertumbuhan populasi ini membebaskan pria untuk mencari wanita yang lebih muda. Jarak umur antara pria dan wanita dapat menurun karena pria dapat menikah di umur yang relatif muda (gambar 1).

GT 2

Model simulasi ini mempunyai 4 skenario berbeda untuk perbandingan antar jenis kelamin saat lahir di China dari tahun 2006-2100. Skenario pertama mengasumsikan koreksi langsung yang cukup optimis, tetapi merepresentasikan lower bound untuk analisis ini, dimana perbandingan jenis kelamin saat lahir adalah 1.06. Skenario kedua mengasumsikan kebijakan resmi seperti kampanye Care for Girls efektif dalam menstabilkan perbandingan jenis kelamin saat lahir di 1.09. Skenario ketiga mengasumsikan bahwa perbandingan jenis kelamin saat lahir pada tahun 2005 adalah tepat di 1.18. Skenario terakhir mengasumsikan kemunduran lebih lanjut dari perbandingan jenis kelamin atau prediksi yang pesimis, yaitu 1.25.

GT 3

Source: Authors’ analysis based on data from China National Bureau of Statistics (2000)

Hasil dari simulasi ini dituang dalam gambar 3 di atas. Dengan asumsi dasar, persebaran pria berumur ≥25 yang gagal menikah akan melebihi 5 persen pada tahun 2020. Di skenario yang paling optimis, dimana perbandingan jenis kelamin kembali normal pada tahun 2006, persebaran pria yang gagal menikah akan stabil di bawah 10 persen pada tahun 2060. Di skenario kedua, pria yang gagal menikah akan mencapai 10-12 persen pada tahun 2060. Sedangkan di skenario ketiga dan keempat, dimana perbandingan jenis kelamin saat lahir di 1.18 dan 1.25, persebaran pria yang gagal menikah akan mencapai puncaknya sebesar 15 persen sampai 20 persen. Di bagian-bagian berikutnya, empat skenario tersebut akan digunakan sebagai asumsi dasar dari jurnal ini.

Bagian 2: Dampak Negatif dari Tingginya Perbandingan Jenis Kelamin

Bagian ini menerangkan tiga dampak negatif dari tingginya perbandingan jenis kelamin, yaitu meningkatnya HIV, prostitusi, dan migrasi. Selama pertengahan tahun 1990an, HIV mulai menyebar ke daerah-daerah baru yang sebelumnya tidak dianggap beresiko. Karena jumlah pria bertambah, penularan HIV melalui kontak seks komersial akan menjadi masalah yang semakin parah. Pada tahun 1980an, pekerja seks komersial (PSK) hanya merepresentasikan sebagian kecil dari populasi, tetapi pada tahun 1990-2000 prostitusi berkembang dengan pesat. Bukti terbaru menunjukkan bahwa pria berusia muda di China lebih banyak daripada pria berusia lebih tua untuk membayar PSK, dimana 12.6 persen pria berusia 21-30 tahun dan 8,8 persen pria berusia 31-40 tahun.

Untuk mengetahui bagaimana migrasi dapat memengaruhi penularan HIV, khususnya migrasi ke pusat kota perkotaan di China, akan sangat membantu jika memeriksa arus dan pola migrasi yang diprediksikan. Jika membandingkan distribusi geografis dari perbandingan jenis kelamin saat lahir dengan distribusi dari perbandingan jenis kelamin antara orang dewasa saat ini, maka akan terlihat daerah mana yang akan menjadi migrasi di masa mendatang. Saat pria berusia ≤15 tahun memasuki usia dewasa, akan terjadi kenaikan permintaan dan penawaran yang tidak seimbang di “pasar perrnikahan”. Hal ini akan menyebabkan tingginya probabilitas yang negatif seperti seks komersial. Pada saat yang bersamaan, ketika wanita yang bermigrasi ke kota-kota yang lebih kaya untuk memaksimalkan prospek pernikahan mereka, para pemuda tadi akan menghadapi tekanan untuk bermigrasi ke kota-kota tersebut, sehingga kedua kelompok ini dapat menularkan HIV dari desa ke kota. Hasil dari Yang (2006) menunjukkan kekhawatiran dari migran pria mengalami peningkatan penularan HIV.

GT 4

Source: Authors’ analysis using data from China National Bureau of Statistics (2000)

Koneksi antara perbandingan jenis kelamin, tingkat prostitusi, dan migrasi memang cukup kompleks, tetapi jelas bahwa faktor-faktor tersebut akan meningkatkan penularan HIV di China. Hasil dari simulasi sederhana yang dilakukan (tabel 2) menunjukkan bagaimana prostitusi dapat berkembang. Simulasi tersebut menunjukkan persebaran pria yang membayar untuk seks, dengan asumsi bahwa gender, status pernikahan, dan tingkat usia tertentu pernah membayar untuk seks pada abad ke 21. Simulasi HIV tersebut juga mengasumsikan rasio 1.4 pria terhadap wanita dan rasio 1.7 pria lajang terhadap pria menikah. The Chinese Health and Family Life Survei menemukan bahwa 14,7 persen dari pria lajang dan 7,3 persen dari pria yang telah menikah mengaku pernah membayar untuk seks pada tahun 2000. Persebaran pria dengan usia ≥25 tahun yang pernah membayar untuk seks meningkat dari 6,5 persen menjadi 8-9 persen dan tingkat penularan HIV juga meningkat dari 0,3 per 1000 menjadi 0,8-1,1 per 1000.

Bagian 3: Dukungan Untuk Lansia yang Tidak Mempunyai Anak

GT 5

Bagian ini akan membahas dampak dari perubahan struktur demografi di China dengan pertumbuhan populasi dari pria yang belum menikah dan berpotensi tidak mempunyai anak, pada kemampuan untuk merawat para lansia. Distribusi usia di China pada tahun 2000 merupakan dampak dari baby boom yang terjadi pada tahun 1960an, sehingga menghasilkan banyaknya orang berusia 30-40 pada tahun 2000. Di sisi lain, second baby boom yang terjadi pada tahun 1990an menyebabkan banyaknya jumlah balita pada tahun 2000 (gambar 4). Meskipun populasi di China empat kali lebih besar dari United States, tetapi angka kelahiran di China tiga kali lebih kecil daripada United States. Hal ini menyebabkan perkiraan populasi di China jauh lebih buruk daripada United States. Perbandingan ketergantungan orang tua akan sangat memprihatinkan di China, dengan sejumlah besar populasi memasuki usia tanpa pekerja muda untuk menggantikan mereka.

Seperti yang Lee (1994) diskusikan, alokasi dukungan sumber daya untuk lansia dapat dimediasi oleh pasar keuangan, program sector public atau transfer intrahousehold. Sebuah survei yang baru dilakukan terhadap kepala rumah tangga di pedesaan menunjukkan bahwa 62 persen menggantungkan anak-anak mereka sebagai sumber utama perawatan orang tua, sementara hanya 29 persen yang menyimpan tabungan pribadi untuk antisipasi di hari tua. persiapan yang kurang memadai pada lansia di kalangan penduduk pedesaan dapat menyebabkan keuangan yang semakin buruk dan ketidakstabilan politik. Asumsi budaya tradisional di China adalah bahwa orang tua yang beranjak ke lansia akan dirawat oleh anak-anak mereka. Pola hidup dan keputusan fertilitas juga berdasarkan dukungan keluarga. Oleh karena itu, jika masalah ini tidak segera diatasi, maka akan terjadi careless yang dihadapi oleh para lansia di masa mendatang.

Bagian 4: Status Pernikahan dan Kesejahteraan

Bagian ini akan menjelaskan hubungan antara kesejahteraan dan status pernikahan, diukur dari tingkat kemiskinan yang lebih tinggi, kesehatan yang lebih buruk, dan harapan hidup yang lebih pendek diantara pria yang gagal menikah. Pemilihan pria produktif dalam pernikahan diukur dari pria yang lebih sehat dan kekayaan yang lebih tinggi. Survei membuktikan bahwa pria di China yang gagal menikah memiliki penghasilan yang lebih sedikit dan tinggal di rumah yang kurang layak, serta lebih dari 89 persen yang menyatakan bahwa mereka berada di kesehatan yang lebih buruk daripada pria yang menikah. Hal ini karena secara teoritis, pernikahan dapat meningkatkan kesehatan pria dalam kesejahteraan rumah tangga.

GT 6

Tingkat mortalitas (kematian) tersirat pada pria yang menikah dan tidak menikah antara tahun 1990-2000 berdasarkan status pernikahan dan mengalkulasikannya dalam presentase. Laki-laki yang menikah dan tidak menikah berusia 55-59 tahun memiliki tingkat mortalitas yang hampir sama. Namun, pada usia yang lebih tua pria yang tidak menikah memiliki tingat mortalitas yang cukup lebih tinggi dibanding pria yang menikah.

Bukti dari luar China menunjukkan bahwa bargaining power wanita yang lebih besar dapat berdampak positif untuk kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Hal ini tentu saja akan terjadi pada pria yang menemukan pasangan untuk menikah, tetapi tidak bagi pria yang tidak menikah. Bukti yang disajikan di sini menunjukkan bahwa perubahan demografi di China yang dramatis pada abad ke 21, kesulitan untuk mendukung populasi lansia di China, dan tingginya perbandingan jenis kelamin, akan semakin menolak dukungan untuk lansia tanpa anak.

Bagian 5: Respon Kebijakan Pemerintah

Respon pemerintah dalam menanggulangi permasalahan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua strategi utama. Pertama, meningkatkan ‘value’ dari wanita ke dalam pola pikir orang tua dan menurunkan tersedianya teknologi untuk memilih jenis kelamin. Kampanye The Care for Girls yang dilakukan di 24 kabupaten dengan tingkat perbandingan jenis kelamin yang tinggi, memberikan insentif untuk mengurangi defisit pada wanita dengan memberikan pendidikan gratis untuk mereka. Usaha ini dinilai efektif karena berhasil menurunkan perbandingan jenis kelamin saat lahir dari 125 pada tahun 1999 menjadi 114 pada tahun 2002.

Strategi kedua adalah menindak keras aborsi selektif jenis kelamin, dalam hal ini wanita. Beberapa hukum legislatif bertujuan untuk mengekang praktik tersebut dan menghukum pelaku yang melanggar. Jika orang tua tertangkap basah sedang melakukan aborsi anak dengan alasan jenis kelamin, maka dokter yang menangani persalinan akan diberi sanksi dan orang tua akan kehilangan hak untuk memiliki anak lain. Meskipun tindakan telah dilakukan dengan cepat, China masih harus mengendalikan tingginya perbandingan jenis kelamin dalam 20 tahun terakhir ini. Karena menurut Zhang Weiqing, direktur dari Kementrian Kependudukan China, memperkirakan bahwa masih dibutuhkan 10-15 tahun untuk mengembalikan perbandingan jenis kelamin menjadi normal.

Kesimpulan

Jurnal ini mencoba menguraikan konsekuensi-konsekuensi dari tingginya perbandingan jenis kelamin saat lahir. Konsekuensi tersebut diantaranya adalah tingginya prostitusi, migrasi internal, tingginya penularan HIV, rendahnya dukungan lansia di kalangan pedesaan, dan menyusul pada rendahnya kesehatan dan kesejahteraan pria jika mereka gagal untuk menikah.

Meskipun kebijakan satu anak dapat menghasilkan keuntungan ekonomi dalam jangka pendek, dimana sebagian besar pria berusia produktif, tetapi bukan berarti dalam jangka panjang pria-pria tersebut tidak akan mengalami penuaan. Pria yang tidak pernah menikah tidak akan memiliki keluarga untuk mendukung mereka di usia tua. Persebaran usia ≥65 tahun diproyeksikan mencapai puncaknya antara tahun 2050-2060 sebesar ≥35 persen. Karena dalam sejarahnya, China selalu mengandalkan sistem family support untuk orang tua, dengan orang tua yang tinggal dengan anak laki-laki dewasa mereka. Tanpa perubahan sistem yang tepat untuk mendukung lansia dalam surplus populasi working-age, pembenahan dalam fertilitas, dan perubahan menuju perataan perbandingan jenis kelamin saat lahir di China, maka permasalahan-permasalahan di atas tidak akan dapat terselesaikan.

 

Diulas oleh Utomo Noor

Ilustrasi oleh Stevannie Gunawan

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in