Homeownership and Subjective Wellbeing in Urban China: Does Owning a House Make You Happier?

gtest aca

Pengarang: Feng Hu

Tahun: 2013

Nama Jurnal: Social Indicators Research, Vol. 110, No. 3 (2013), pp. 951-971

 

Latar Belakang

Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi tiap individu. Tempat tinggal yang umum dimiliki kebanyakan masyarakat adalah rumah. Meskipun menurut riset yang ada, Negara-negara maju memiliki persentase tingkat kepemilikan yang rendah dibandingkan di Negara-negara berkembang. Tetapi, penelitian ini berfokus pada Negara China dimana masih terdapat  keinginan kuat untuk memiliki rumah. Hal ini disebabkan oleh tradisi budaya China dan terdapat sebuah puisi pada Dinasti Tang menyebutkan “I want to seek for a great mansion with thousands of rooms where all poor people on the earth could find shelter and thus feel happy”. Bahkan, pihak laki-laki harus menyiapkan rumah apabila ingin menikah dengan pasangannya. Terlihat bahwa kepemilikan sebuah rumah menambah value seseorang dalam tatanan masyarakat China. Beberapa alasan tersebut mengakibatkan tingginya kenginan untuk memiliki rumah bagi masyarakat China. Di lain sisi, tingginya permintaan terhadap properti rumah dengan lahan yang terbatas berdampak pada harga rumah yang sangat mahal. Untuk membeli rumah dibutuhkan sejumlah uang yang banyak atau mencicil dengan bunga yang tergolong tinggi dan dalam jangka waktu yang relatif panjang. Penelitian ini ingin mengetahui apakah kepemilikan rumah dampak positif atau dampak negatif pada Life satisfaction seseorang. Apakah dampak positif berupa meningkatnya value individu lebih tinggi daripada beban cicilan hutang dan bunganya?

Data

Penelitian ini menggunakan data dari Chinese General Social Survey. Survey ini dilakukan oleh Departemen Sosiologi, Renim University of China, dan Survey Research Center, Universitas Hongkong of Science and Technology. Pada gelombang 2006, survei ini menggunakan stratified random sampling method dimana terdapat 4 phase yaitu district, street, neighborhood committee, dan household. Responden berkisar umur 18 tahun hingga 69 tahun yang sudah tinggal di daerah tersebut atau akan tinggal lebih dari 1 pekan. Survei ini dilakukan pada 28 provinsi dimana termasuk daerah perkotaan dan pedesaan. Peneliti dapat menggunakan data dari Chinese General Social Survey karena terdapat informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Tersedianya data tipe-tipe rumah tangga seperti jumlah keluarga, pendapatan, tempat tinggal, data karakteristik rumah tangga seperti umur, jenis kelamin, edukasi, dan pekerjaan, dan data situasi rumah seperti kepemilikan rumah dan kondisi rumah.

Selain itu terdapat data mengenai life satisfaction yang terbagi dalam 2 pertanyaan. Pertanyaan pertama mengenai kepuasan terhadap situasi rumahnya. Dilakukan dengan bertanya seberapa puas anda terhadap situasi rumah?. Dengan jawaban sangat puas, puas, tidak puas, dan sangat tidak puas. Pertanyaan kedua tentang kebahagiaan secara keseluruhan. Pertanyaannya berupa seberapa besar kebahagiaan yang anda rasakan terhadap hidup anda secara keseluruhan akhir-akhir ini?. Jawaban berupa skala dengan 1 adalah sangat tidak bahagia hingga 5 adalah sangat bahagia. Peneliti untuk tulisan ini hanya menggunakan data responden dari perkotaan dimana dibagi dua yaitu kota besar dan kota kecil.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan metode ordered probit model dengan rumus sebagai berikut:

gtest aca 1

Kepuasan individu terhadap rumah atau kepuasan secara keseluruhan di notasikan variable y. HO mencerminkan variable of interest dimana merupakan kepemilikan rumah. X mencerminkan variabel-variabel lain atau variable of control seperti karakter individual, karakteristik rumah tangga dan house-related features. Selanjutnya pengolahan data-data tersebut dengan metode OLS regression.

Pembahasan

Pada tabel  2 menunjukkan bahwa housing satisfaction lebih tinggi pada pemilik rumah (51,6% satisfied) daripada peminjam rumah (28,6% satisfied). Selanjutnya pemilik rumah pada kota kecil  lebih tinggi kepuasannya (53,64%) terhadap housing situation dibandingkan pemilik rumah pada kota besar (48.33%). Hal ini diakibatkan oleh relatif lebih tingginya harga rumah di kota besar dibandingkan di kota kecil.

Tabel 3 menunjukkan efek kepemilikan rumah terhadap individual housing satisfaction. Terlihat bahwa kepemilikan rumah terhadap individual housing satisfaction berdampak positif dan signifikan secara statistik. Pada tabel 4, terlihat bahwa efek positif kepemilikan rumah terhadap individual housing satisfaction lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Berdasarkan lokasi, terdapat efek yang positif dimana efek yang dirasakan pada kota kecil lebih besar dibandingkan dengan kota besar. Selain itu, ternyata, seseorang yang telah bercerai memiliki efek yang negatif dan signifikan secara statistik terhadap hal ini.

Efek kepemilikan rumah terhadap overall happiness memiliki efek yang positif baik bagi laki-laki maupun perempuan serta sedikitnya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, pada tabel 5. Sama halnya, memiliki efek yang positif di kota besar dan kota kecil. Kepemilikan rumah memiliki dampak terhadap aspek-aspek lain dalam kehidupan sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan dalam laki-laki dan perempuan serta di kota kecil dan kota besar. Pada tabel 6 yang menunjukkan efek kepemilikan rumah terhadap overall happiness dengan variable of control adalah individual housing satisfaction. Terlihat, seseorang yang sudah menikah memiki efek positif dan signifikan secara statistik. Hal yang menarik, laki-laki yang sudah menikah memiliki efek kepemilikan rumah terhadap individual overall happiness yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang sudah menikah. Dari segi pendidikan, dapat dilihat bahwa secara umum memiliki efek positif terkait hal ini.

gtest aca 2 gtest aca 3 gtest aca 4 gtest aca 5 gtest aca 6 gtest aca 7 gtest aca 8 gtest aca 9 gtest aca 10 gtest aca 11

 

Diulas oleh Naura Nafisha

Ilustrasi oleh Cassya Diaraningtyas

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in