PRIMERA: Economics Perspective of Motherhood

Anak merupakan cerminan dari orang tua. Bagaimana cara orang tua membesarkan dan mendidik tentu sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup anak mereka. Kedekatan hubungan antara orang tua dan anak juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya  ialah mengenai orang tua (khususnya Ibu) yang bekerja atau tidak bekerja. Banyak yang menganggap ibu yang bekerja akan mengurangi kualitas perkembangan kognitif anaknya. Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan kognitif anak akan meningkat jika Ibu mendampingi dan merawat anaknya secara intensif dalam 3 tahun pertama hidupnya. Ibu yang bekerja dinilai akan memberikan manfaat positif berupa meningkatnya pendapatan keluarga dan dapat meningkatkan kesejahteraan anak dan keluarganya. Selain itu, Ibu yang bekerja juga bisa dijadikan contoh positif bagi anak-anaknya untuk meniti karier mereka di masa depan. Di sisi lain, ibu yang bekerja di luar rumah diyakini akan mengurangi perkembangan kognitif, emosi, dan sosial dari anaknya dikarenakan kurangnya waktu untuk berinteraksi, merawat, dan mengawasi anaknya. Bagaimana hubungan antara pola asuh ibu dengan perkembangan anak secara akademis dan sosial serta economic outcome-nya? Simak Primera dari Divisi Penelitian Kanopi FEB UI kali ini: Economics Perspective of Motherhood!

Dalam penelitian ini, kami menyebarkan kuesioner kepada 120 orang mahasiswa FEB UI berbagai jurusan (35% Akuntansi, 29.17% Manajemen, 19.17% Ilmu Ekonomi, 8.33% Ilmu Ekonomi Islam, dan 8.33% Bisnis Islam) dan berbagai lapisan angkatan (17% angkatan 2014, 14% angkatan 2015, 33% angkatan 2016, dan 36% angkatan 2017). Responden kami terbagi secara rata dengan komposisi 60 orang laki-laki dan 60 orang perempuan.

Pada bagian pertama penelitian ini, kami ingin mengetahui bagaimana tingkat kedekatan seorang anak dengan orang tuanya (khususnya Ibu) dan bagaimana dengan hasil dari perkembangan akademik serta tingkat resiko ekonomi yang akan dipilih seorang anak. Sebanyak 61 orang dari 120 responden kami tinggal bersama dengan orang tua mereka di hari perkuliahan, sedangkan sisanya tidak. Kemudian, 35% dari seluruh responden menjawab bahwa mereka jarang menghabiskan waktu bersama dengan ibunya, sementara yang sangat sering hanya 20% saja. Walaupun 35% responden  jarang menghabiskan waktu dengan orang tua (khususnya ibu), tetapi keseluruhan responden masih sangat sering (36.67%) dan sering (18.33%) berkomunikasi dengan orang tuanya baik melalui telepon, pesan singkat, atau tatap muka. Apakah responden yang merupakan seorang anak pernah merasa diminta untuk membalas jasa kedua orang tuanya? Ternyata 93 orang responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah diminta untuk membalas jasa kedua orang tuanya. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang tua tidak menganggap anaknya sebagai suatu ‘investasi’.

Rata-rata responden memiliki waktu jam belajar mandiri di luar kegiatan belajar di kampus sebanyak 8 jam per minggu. Akan tetapi, 40 dari 120 responden memiliki waktu jam belajar mandiri di atas rata-rata yaitu di atas 10 jam per minggu. Sebanyak 22 orang dari 40 responden tersebut tinggal bersama orang tuanya, 29 orang di antaranya sering atau sangat sering berkomunikasi dengan ibu, dan 20 orang juga tercatat sering atau sangat sering menghabiskan waktu dengan orang tua, khususnya ibu.  Dari pihak manakah kecerdasan intelektual dan emosional diturunkan? 45.83% dari responden kami percaya bahwa kecerdasan intelektual mereka diturunkan dari Ibu, dan 56.67% dari responden percaya bahwa kecerdasan emosional mereka juga diturunkan dari Ibu mereka. Lalu, 25 orang dari seluruh responden menyatakan bahwa kecerdasan intelektual dan emosionalnya sama-sama diturunkan dari ibu, dan 17 orang di antaranya sering atau sangat sering berkomunikasi dengan ibu mereka. Disini, kita dapat melihat bahwa peran ibu sangatlah penting dalam pembentukan kecerdasan intelektual dan emosional dari seorang anak. Namun, kami menemukan sebuah temuan yang unik di mana 10 orang dari keseluruhan responden menyatakan bahwa kecerdasan emosional dan intelektual mereka tidak diturunkan dari kedua orang tua mereka, dan setengah dari 10 orang tersebut jarang menghabiskan waktu dengan ibunya.

Lebih dari setengah responden (63 orang) selalu dipenuhi kebutuhan primer dan sekundernya oleh orang tua. Sisanya, 57 responden menyediakan kebutuhan primer dan sekunder sendiri, baik membeli dengan menggunakan uang dari orang tuanya ataupun uang milik sendiri dan 28 dari 57 orang tersebut jarang menghabiskan waktu dengan orang tuanya. Bagian selanjutnya menjelaskan tentang bagaimana seseorang memilih di antara 2 pilihan yang memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda. Responden harus memilih antara pilihan A yang akan memberikan pendapatan tetap, atau pilihan B yang akan memberikan pendapatan lebih besar namun memiliki ketidakpastian (kemungkinan dapat sebesar 50% dan kemungkinan tidak dapat apa-apa sebesar 50%). Kami membuat matriks pilihan seperti di bawah ini:

primera 1

Hasilnya, 16 dari 120 orang responden memiliki tingkat pengambilan resiko yang sangat rendah (risk averse), karena mereka memilih pendapatan tetap 10 juta pada 5 kondisi yang berbeda (memilih 0/5 kondisi beresiko). Lalu, 2 dari 120 responden memiliki tingkat pengambilan resiko yang rendah (memilih 1/5 kondisi beresiko), 16 dari 120 responden memiliki tingkat pengambilan resiko yang moderat (memilih 2/5 kondisi beresiko), 25 dari 120 responden memiliki tingkat pengambilan resiko yang tinggi (memilih 3/5 kondisi beresiko), 19 dari 120 responden memiliki tingkat pengambilan resiko yang sangat tinggi (memilih 4/5 kondisi beresiko), dan 13 dari 120 responden memiliki tingkat pengambilan resiko yang paling tinggi (memilih 5/5 kondisi beresiko). Akan tetapi, 29 dari 120 responden tidak konsisten dalam menentukan pilihannya karena mereka cenderung memilih pilihan B pada nominal selisih yang lebih kecil (nomor 1 dan 2) dan beralih ke pilihan A pada nominal selisih yang lebih besar (seperti nomor 3-5). Kami tidak dapat menemukan hubungan yang jelas antara pola asuh dengan tingkat pengambilan resiko seseorang. Selanjutnya, kami mengajukan pertanyaan eksperimen game theory mengenai bagaimana pilihan seseorang akan memengaruhi pilihan orang lain, tetapi responden tidak mengetahui pilihan temannya. Matriks pilihan adalah sebagai berikut:

primera 2

Kami pun mendapatkan hasil sebagai berikut: sebanyak 73.33% responden memilih kartu merah dan 26.67% responden memilih kartu hitam. Responden yang memilih kartu merah dianggap rasional karena memilih keputusan terbaik dalam segala kemungkinan. Sedangkan, yang memilih kartu hitam tidak rasional karena berarti responden berharap orang lain melakukan hal yang sama untuk memaksimalkan keuntungan, tanpa mempedulikan resiko yang dia ambil.

Pada bagian kedua, kami ingin mengetahui bagaimana karier serta pola asuh orang tua dan kepuasan yang didapatkan oleh anak-anaknya. Setengah dari responden memiliki ibu yang bekerja (sebagai PNS, Wirausaha, Pegawai Swasta), dan setengahnya lagi memiliki ibu yang tidak bekerja. Sebanyak 62 orang dari responden menjawab bahwa ibu mereka hanya menyumbangkan 0%-20% dari total pengeluaran keluarga, hal ini disebabkan karena 60 orang responden memiliki ibu yang tidak bekerja. Kemudian, 68 responden juga lebih menyukai jika ibunya tidak bekerja. Bagaimana tipe pola asuh ibu mereka dan seperti apa tipe pola asuh yang akan dipilih paling banyak? Kami mengidentifikasi pola asuh ke dalam 4 jenis, yaitu: (1) Authoritharian: anak harus mengikuti perintah orang tua tanpa ada kesempatan untuk berpendapat; (2) Authorative: orang tua mengajarkan anak untuk mandiri dengan batasan tertentu; (3) Permissive: orang tua memberi pengawasan yang sangat longgar; (4) Neglective: orang tua memberi waktu dan biaya yang sedikit kepada anaknya.

Sebanyak 80% dari keseluruhan responden diasuh dengan cara authorative oleh kedua orang tuanya dan 82.5% dari keseluruhan responden juga mengakui jika mereka cocok dengan pola asuh tersebut. Bahkan, dari 40 responden yang memiliki jam belajar di luar kuliah yang di atas rata-rata, 37 responden dibesarkan dengan pola asuh authorative. Ketika ditanya pola asuh mana yang paling baik dan cocok sebagian besar menjawab pola asuh authorative. Alasan yang mendasari banyak responden memilih pola asuh authorative antara lain karena pola asuh tersebut menjadikan mereka memiliki pribadi yang lebih dewasa (mereka kelak akan menggantikan dan meneruskan peran orang tua), menjadi lebih mandiri dan bisa menjaga diri, membangun karakter diri, dan melatih tanggung jawab. Orang yang memilih metode authoritharian mengaku bahwa dirinya merupakan seorang pelanggar peraturan dan pembangkang. Sedangkan orang yang memilih metode permissive mengaku telah mengetahui apa yang dapat ia lakukan dan yang tidak, serta kebanyakan dari mereka menginginkan kebebasan tanpa campur tangan dari orang tua. Kebanyakan dari responden memberikan nilai kepuasan 9/10 terhadap pola asuh orang tuanya, dengan rata-rata 8.7/10 yang berarti kebanyakan dari responden sudah puas dan cocok dengan pola asuh orang tuanya di rumah. Terakhir, 39 dari 60 responden laki-laki ingin mencari pasangan yang memiliki sifat yang sama dengan ibunya. Dari data yang kami dapat, laki-laki cenderung memilih pasangan yang bersifat seperti ibunya (39 dari 60 responden), sedangkan pada perempuan tidak ditemukan kecenderungan yang kuat untuk memilih pasangan yang bersifat seperti ayahnya (25 dari 60 responden) jika dibandingkan dengan kecenderungan laki-laki terhadap ibunya.

Pada intinya, setiap orang tua memiliki pola asuhnya masing-masing dan tingkat kedekatan yang berbeda. Terdapat hubungan antara jenis pola asuh dan kedekatan orang tua terhadap hasil akademis anak (berupa jam belajar yang lebih dari rata-rata), di mana anak yang lebih dekat dan sering menghabiskan waktu dengan ibunya, serta yang dibesarkan dengan pola asuh authorative akan lebih rajin belajar. Kami tidak menemukan hubungan antara pola asuh dan kedekatan orang tua dengan resiko ekonomi yang akan diambil anaknya. Namun kebanyakan dari responden telah memiliki pemikiran yang rasional jika dilihat dari pertanyaan eksperimen yang telah kami ajukan. Sebagian besar responden yang diasuh dengan metode authorative juga merasa cocok dengan jenis pola asuh tersebut dan responden secara rata-rata juga memberikan nilai kepuasan yang tinggi terhadap pola asuh orang tuanya.

 

Diulas oleh Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2018

Ilustrasi oleh Firli Wulansari Wahyuputri (Staf Biro Penerbitan dan Informasi Kanopi FEB UI 2018)

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in