How Do Cultural Producers Make Creative Decisions? Lesson from the Catwalk

gtest aby

 

Pengarang: Frederic Godart dan Ashley Mears

Tahun: 2009

Nama Jurnal : Social Forces, Vol. 88, No. 2 (December 2009), pp. 671-692

 

Latar Belakang                                    

Dimulai dari mengapa kita harus membuat sebuat akun LinkedIn hingga mengutilisasi momen langka – seperti saat pertemuan dengan orang-orang penting dengan berbagai macam pembicaraan, pada intinya segala kegiatan tersebut bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian akan persepsi orang-orang mengenai diri kita dan memberikan kita sebuah posisi tertentu di lingkungan masyarakat. Hal ini pun berlaku di pasar peragawan-peragawati yang pada dasarnya merupakan sebuah bentuk turunan dari cultural market. Istilah cultural economics memiliki artian sebuah cabang ilmu ekonomi yang menghubungkan kultur dengan outcomes seseorang dalam melakukan tindakan ekonomi. Sehingga cultural market adalah sebuah pasar di mana keputusan untuk membeli atau menjual sangat dipengaruhi oleh variabel kultur yang berlaku di masyarakat. Industri model fesyen mampu dikatakan sebagai prototip dari bentuk ekonomi kreatif/kultural karena peragawan-peragawati disini merupakan sebuah barang yang memiliki sifat simbolik (symbolic goods).

Beberapa orang percaya bahwa alasan untuk memilih peragawati adalah paras atau kemolekan tubuh yang dimiliki oleh sang empunya. Beberapa orang pun kerap kali menggunakan asumsi terjahatnya untuk menjawab pertanyaan mengapa sebuah rumah mode memilih peragawati untuk memeragakan busananya pada suatu peragaan busana. Namun, jauh dari sebatas rupa dan tabiat dari sang peragawati, keputusan rumah busana – yang di sini merupakan sebuah produsen dalam cultural market – terkait peragawati yang digunakan ialah “information sharing” dan status yang dimiliki rumah busana dan peragawati di dalam lingkungan industri fesyen. Informasi dan status menjadi sangat vital bagi industri ini mengingat industri ini memiliki tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi dan karakteristik peragawati yang nampak sejatinya tidaklah signifikan – ditambah pada industri ini, sudah ada seleksi yang lebih dulu dilakukan oleh  sebuah agensi peragawati. Hal ini mengakibatkan semakin homogennya peragawati yang siap untuk diseleksi kembali, sehingga tidak ada faktor nampak yang membedakan, dan hal ini terlihat seperti gambling dimana probabilitas untuk mendapatkan peragawati yang baik juga 50:50 karena dipengaruhi oleh unsur ketidakpastian yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, karena alasan inilah setiap rumah busana harus mengutilisasi setiap informasi yang ada dengan baik – terkait kualitas, kapabilitas, serta pengalaman peragawati yang mengikuti seleksi untuk akhirnya diperkerjakan oleh rumah busana..

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana produsen dalam cultural economy membuat sebuah keputusan yang kreatif. Dalam kasus ini, keputusan tersebut digambarkan dengan bagaimana rumah mode (fashion producers) memilih peragawati yang akan memeragakan busananya pada peragaan busana yang akan diadakan. Faktor-faktor yang sekiranya sangat mempengaruhi keputusan mereka di tengah-tengah tingginya tingkat ketidakpastian juga tak luput dibahas di dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

Metodologi

Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi partisipan, wawancara, dan network analysis dengan data peragaan busana mingguan koleksi musim semi dan musim panas tahun 2007 yang didapat dari laman website Style.com . Pada penelitian kali ini, peneliti hanya berfokus pada peragawati bukan peragawan karena beberapa alasan diantaranya peragawati mendapatkan perhatian yang lebih serius dibandingkan dengan peragawan terbukti dari beberapa data yang tersedia.

Di penelitian kali ini, dapat dilihat bahwa dua pendekatan dilakukan untuk menemukan jawaban mengenai tujuan penelitian. Pertama, peneliti melakukan wawancara kepada produsen (penyedia rumah mode), agensi peragawati, pihak yang melakukan casting, hingga peragawati itu sendiri. Untuk memperkuat keabsahan data kualitatif yang didapat, peneliti mencoba melakukan pembuktian network analysis melalui uji regresi dengan metode multiple regression Quadratic Assignment Procedure (QAP). Pada penelitian kali ini, terdapat dua variabel utama yang mempengaruhi keputusan produsen dalam cultural market, pertama ialah status dari penyedia rumah mode dan peragawati – dan yang kedua ialah information sharing yang terjadi di lingkungan bisnis rumah mode.

Data mengenai konektivitas penyedia rumah mode atau fashion houses dengan peragawati didapatkan melalui website Style.com untuk rentang waktu koleksi musim semi dan musim panas pada tahun 2007. Untuk menguji hipotesis yang menyatakan apabila information sharing dan status rumah mode atau peragawati  membentuk sebuah pola tentang keputusan produsen dalam cultural market, peneliti mengukur semakin tinggi kualitas rumah mode dengan melihat seberapa banyak artikel mengenai rumah mode tersebut muncul di majalah Vogue selama empat bulan sebelum peragaan koleksi musim semi dan panas 2007 diadakan. Pengukuran terkait status ini tidaklah sempurna, namun data yang didapatkan cukup robust. Selanjutnya, untuk mengkuantifikasikan variabel information sharing, peneliti menggunakan data “shared city location” dan “organizational link” untuk memasukkan afiliasi rumah mode  dengan korporasi rumah mode internasional atau yang dikenal dengan istilah “fashion empire” – atau afiliasi antara sub-brand dengan brand yang sama. Biasanya mereka saling memberikan informasi yang sama mengenai peragawati dan memiliki kemungkinan untuk menentukan keputusan mengenai ya-tidaknya rumah mode menggunakan peragawati tersebut. Variabel terakhir yang digunakan adalah “resources similarity” dimana variabel ini merupakan sebuah matriks 171×171 yang dinotasikan dengan cij dimana i adalah usia rumah mode i dan dikali dengan j yang menggambarkan usia rumah mode j.

Pembahasan

gtest aby

Pada tabel dua, dapat dilihat hubungan korelasi antar setiap variabel yang digunakan dalam penelitian kali ini. Sedangkan untuk melihat hasil regresi yang dilakukan untuk melihat hubungan antar setiap variabel dependen dengan variabel independen, tabel tiga dapat kita lihat dengan seksama.

gtest aby 2

Pada tabel tiga kita dapat temui apabila High/high status signifikan mempengaruhi variabel dependen secara positif. Menunjukkan apabila rumah mode yang berkualitas dengan peragawati yang dikatakan “hot” (permintaannya sangat tinggi dibandingkan dengan yang lain) membuat intensitas untuk melakukan sharing of models semakin tinggi (0.35***). Sementara itu kualitas rumah mode yang rendah memiliki keterbatasan untuk menggunakan jasa peragawati berkualitas tinggi, pun sebaliknya, sehingga meskipun hasilnya signifikan, hubungan di antara high/low status dan low/high status kurang dapat dijelaskan dengan baik. Di sisi lain, karena rumah mode yang berkualitas rendah tidak mampu menggunakan jasa peragawati berkualitas tinggi, mereka memiliki tendensi untuk hanya menggunakan peragawati berkualitas rendah (tidak “hot” dibandingkan peragawati lain) sehingga rumah mode berkualitas rendah dibanding menggunakan peragawati berkualitas rendah secara berulang-ulang, mereka lebih baik menggunakan jasa pendatang baru yang masuk ke dalam industru. Hal ini dapat dilihat dari koefisien low/low status yang secara negatif signifikan terhadap intensitas penggunaan peragawati (sharing models) secara berulang-ulang.

 

Diulas oleh Aby Dwi Prasetya (Wakil Divisi Penelitian)

Ilustrasi oleh Rizki Fajar Satrya (Staff Biro Penerbitan dan Informasi)

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in