Motivated Bayesians: Feeling Moral While Acting Egoistically

gtest 1

 

Penulis: Fransesca Gino, Michael I. Norton, dan Roberto A. Weber

Tahun: 2016

Jurnal: Journal of Economic Perspectives Vol. 30 No. 3

Publisher: American Economic Association

 

Tujuan Penelitian

Riset membuktikan bahwa perilaku seseorang mencermikan keadilan, kejujuran, efisiensi sebagai pencerminan dari apa yang dianggap “benar” dan “baik”. Oleh karena itu fungsi utilitas manusia berasal dari dua hal yaitu utilitas dari hasil yang memihak kepentingan pribadi dan utilitas dari berperilaku murah hati, jujur, dan apapun itu yang mencerminkan apa yang dianggap “baik”. Jurnal ini ingin membuktikan bahwa terdapat kecenderungan bagi seseseorang untuk memanfaatkan pembenaran dan ketidakpastian dalam membuat sebuah keputusan yang egois, tidak jujur, dan tidak beretika, tanpa merasa bahwa apa yang dia lakukan adalah hal yang “buruk”. Kebanyakan orang cenderung bersifat “motivated bayesians”, mereka merasa bahwa perilaku mereka bermoral, jujur, adil sementara tetap mengejar kepentingan mereka (selfinterest). Motivated bayesians dalam pembuatan keputusan memiliki implikasi yang penting dalam perilaku ekonomi seperti pemberian donasi, korupsi, penyuapan, dan deskriminasi di pasar tenaga kerja.

Metodologi dan Hasil

gtest 1

Eksperimen dilakukan dengan menyajikan dua pilihan dihadapan si pembuat keputusan (decision maker) yaitu pilihan A dan pilihan B. Pilihan A dapat dilihat sebagai pilihan yang egois karena memberikan $6 untuk diri sendiri sedangkan orang lain hanya diberikan $1. Sedangkan pilihan B dianggap sebagai pilihan yang adil yang bisa diinterpretasikan sebagai pilihan bermoral. Jika dihadapkan dengan kondisi seperti ini, 74% partisipan memilih pilihan kedua, merelakan $1 demi bertindak sesuai dengan konsiderasi moral.

gtest 2

Pada eksperimen kedua, si pembuat keputusan dihadapkan dengan pay-off yang sama pada eksperimen 1 (baseline game) untuk dirinya sendiri. Namun pay-off untuk orang lain tidak diketahui, atau dinotasikan dengan “?” (tanda tanya). Terdapat 2 kemungkinan pay-off yang terjadi. Pada kemungkinan 1 pay-off identik dengan baseline game, memilih pilihan A adalah tindakan egois yang merugikan pihak lain. Namun pada kemungkinan 2, bertindak egois juga menjadi bermoral karena pay-off untuk orang lain juga meningkat ketika pembuat keputusan memilih pay-off yang lebih tinggi untuk dirinya sendiri. Pembuat keputusan harus menekan reveal bottom untuk mengetahui pay-off yang berlaku.

Pada baseline game, informasi dari pay-off akan memotivasi kebanyakan orang untuk mengorbankan pay-off yang lebih tinggi demi pay-off yang lebih adil. Namun pada hidden-information game hanya 37% dari partisipan yang bersikap demikian (memilih pilihan B). Bahkan sekitar 50%  partisipan tidak menekan tombol reveal game untuk mengetahui pay-off yang berlaku. Eksperimen ini membuktikan bahwa kebanyakan orang cenderung mengabaikan konsekuensi dari pilihan mereka ketika informasinya dibatasi (menghadapi ketidakpastian). Pengabaian ini adalah salah satu bentuk dari keegoisan seseorang. Informasi yang disembunyikan ini memberikan ruang gerak bagi persepsi mereka. kebanyakan orang memang tidak bisa meyakinkan diri mereka bahwa memilih ($6, $1) lebih bermoral dari memilih ($5,$5). Namun sebaliknya, orang akan mudah meyakinkan diri mereka bahwa memilih ($6,?) dibanding ($5,?) itu tidak terlalu buruk (dalam kondisi mengabaikan konsekuensi).

Eksperimen 3

gtest 3

Pada eksperimen ini, partisipan diminta untuk mengocok dadu dan melaporkan hasil pengocokan dadu tersebut. Semakin tinggi angka yang muncul maka semakin banyak pay-off yang akan didapatkan. Eksperimen ini memberikan kesempatan kepada partisipan untuk berbohong dengan memalsukan laporan pengocokan dadu. Bisa saja seseorang melaporkan angka “6” yaitu angka yang memberikan pay-off paling tinggi tanpa tahu apakah sebenarnya dia benar mendapat angka “6”. Terdapat dua kondisi dalam eksperimen ini, partisipan akan diminta untuk mengocok dadu sebanyak 1 kali (single roll) atau mengocok dadu sebanyak 3 kali berturut-turut (multiple rolls) dengan hanya melaporkan pengocokan yang pertama. Dilihat dari diagram yang menunjukkan distribusi angka yang dilaporkan, orang akan cenderung lebih banyak berbohong ketika mereka mengocok berkali-kali dibanding mengocok hanya sekali. Distribusi dari multiple rolls juga hampir mendekati distribusi dari best-of-three (melaporkan angka tertinggi dari 3 kali pengocokan). Hal ini menunjukkan bahwa melaporkan “yang tidak terhitung tapi pernah terjadi” (kocokan kedua dan ketiga) membuat seseorang memiliki justifikasi moral dalam melaporkan sebagai hasilnya. Berbohong dengan keadaan seperti itu dinilai lebih baik dibanding dengan berbohong tentang hal yang tidak pernah terjadi.

Eksperimen 4

gtest 4

Pada eksperimen ini, partisipan diberikan pilihan untuk mendonasikan uangnya untuk amal tetapi dengan resiko amal tidak tersalurkan (kemungkinan pemborosan atau korupsi). Terdapat dua treatment dalam eksperimen ini. Treatment 1 adalah keadaan “self-charity trade-off” dimana partisipan diminta untuk memilih antara mengalokasikan uang untuk dinikmati secara pribadi atau mendonasikan uang untuk amal dimana satu diantaranya memiliki resiko. Treatment 2 adalah keadaan “no self-charity trade-off” dimana partisipan memilih antara sejumlah uang (dengan jumlah yang ditetapkan) untuk diri sendiri atau lotre yang beresiko untuk diri sendiri, dan memilih antara sejumlah uang (dengan jumlah yang ditetapkan) untuk amal atau lotre untuk amal.

Grafik diatas menunjukkan bahwa ketika tidak ada trade-off antara egoisme dan melakukan amal, orang akan memberikan valuasi yang setara antara lotre untuk diri sendiri dan ketidakpastian untuk amal. Mereka akan merasakan kerugian yang sama saja ketika tidak mendapatkan uang dari lotre maupun donasi mereka tidak tersampaikan. Namun ketika terdapat trade-off antara egoisme dan melakukan amal, terdapat perlakuan yang berbeda terhadap resiko antara lotre untuk diri sendiri dan untuk amal. Lotre untuk diri sendiri divaluasi lebih tinggi bahkan di atas expected value. Sedangkan untuk amal dinilai cenderung lebih rendah dari expected value. Hal ini menunjukkan bahwa orang lebih risk-loving terhadap lotre untuk diri sendiri dan lebih risk-averse terhadap ketidakpastian dalam berdonasi. Hal ini memunculkan justifikasi kepada orang untuk menyimpan uang. “Saya akan berdonasi, namun itu hanya akan sia-sia” atau “Pengeluaran donasinya terlalu tinggi”. Mereka pun akan memiliki pembenaran untuk tidak memberikan donasi.

 

Diulas oleh Daniera Nanda Ariefti (Kepala Divisi Penelitian)

Ilustrasi oleh Calista Endrina Dewi (Kepala Biro Penerbitan dan Informasi)

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in