Primera: The Tale of a Human, a Monkey, and a Panic Monster.

primera w logo 0

Kita menunda. Kami menunda sebelum menulis esai ini; mungkin anda juga menunda sebelum membacanya. Mahasiswa mungkin adalah bagian dari masyarakat yang paling mahir dalam melakukan hal ini. Ketika hendak mengumpulkan tugas yang sebenarnya memiliki waktu pengumpulan yang cukup lama, mereka justru akan mengerjakannya semalam sebelum pengumpulannya dengan berbagai alasan seperti mengerjakan hal lain yang lebih penting dan banyak ide justru bermunculan ketika waktu hendak memenggal nilai mereka menjadi E.

‘Menunda’ itu sendiri telah dipelajari oleh berbagai ilmuwan sosial. Beberapa ilmuwan menjadikan penundaan sebagai sifat personal dan lainnya menyimpulkan bahwa penunda memiliki kepercayaandiri yang rendah dan menghubungkan sifat tersebut pada kemalasan atau kurangnya control diri (Burka dan Yuen, 1983). Salam sebuah kerangka pilihan yang rasional, menunda bukan merupakan irrational personality disorder. Menunda itu sebuah kegiatan logis ,walau berpotensi terpapar pada inefisiensi, yang didorong oleh perbandingan biaya dan manfaat yang dirasakan.[1]

Dalam esai ini, kami akan mengulas penundaan yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dengan meninjau teori ilmuwan dan mengembangkan hipotesis tentang 3 topik utama: Apa keuntungan menunda, skala prioritas untuk tidak menunda, dan efek waktu kuliah dan liburan dalam produktivitas.

Demografi

Dalam penelitian ini, terdapat 134 responden dimana 29.1% merupakan mahasiswa Akuntansi, 29.1% lagi merupakan mahasiswa Manajemen, 20.9% merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi, 10.45% merupakan mahasiswa Bisnis Islam, dan 10.45% lagi merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi Islam. Dari antaranya, 34% adalah angkatan 2017, 31% adalah angkatan 2016, 21% adalah angkatan 2015, dan 14% adalah angkatan 2014. Responden terbagi menjadi 55 laki-laki dan 79 perempuan.

Apa Keuntungan Menunda

Gratifikasi Instan adalah apa yang menjadi distraksi utama dalam melakukan sebuah pekerjaan (Mankiw, 2015). Gratifikasi instan tertanam jauh di dalam alam bawah sadar manusia. Sifat ini merupakan hal yang esensial sebagai alat bertahan hidup manusia ketika mereka hidup di gua and mengusir predator. Namun, saat ini kita hidup dalam sebuah peradaban sosial yang maju dimana membuat keputusan secara rasional jauh lebih berharga dari mengikuti keinginan yang impulsif[2]. Tim Urban dalam presentasinya di TED menggambarkan Gratifikasi Instan sebagai ‘The Monkey in all of us’.

Membeli suatu barang yang sangat diinginkan, barang yang sedang trending, atau barang yang langka tentu lebih menggiurkan daripada menabungkan uang pembelian itu untuk keperluan di masa yang akan datang. Dalam mengerjakan tugas yang sulit, manusia akan mengurangi waktu pengerjaannya, namun ketika dihadapkan degan prospek melakukan tugas tersebut sekarang mereka memilih untuk menundanya. Bahkan mahasiswa yang mengakui dirinya tidak menunda, mengalami rayuan gratifikasi dalam melakukan pekerjaannya. Perbedaan mereka dengan para penunda yaitu, penunda terlena bujukan gratifikasi ini sehingga mereka terdistraksi oleh hal-hal lain. Di era digital ini, bentuk gratifikasi instan semakin banyak dan melenakan. Video-video di Youtube, foto-foto di Instagram, atau bahkan barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan di Amazon.

Dalam data yang kami peroleh dari mahasiswa yang mengaku tidak menunda, keuntungan yang mereka rasakan adalah memiliki banyak waktu di masa yang akan datang dan hasil lebih maksimal. Namun ketika mereka diminta untuk menilai hasil pekerjaan tanpa penundaan itu, kami mendapatkan nilai rata-rata sebesar 7.75 sedangkan mahasiswa yang menunda menilai hasil pekerjaan mereka sebesar 7.2. Margin yang cukup rendah (0.55) untuk keuntungan yang didapatkan ketika menunda yaitu pengerjaan hal yang lebih penting dan ide-ide yang bermunculan ketika mendekati tenggat.

Dapat dipertanyakan mengapa penunda pada akhirnya mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya dan apa yang menyebabkan seorang mahasiswa mendapatkan energi tambahan sehingga dapat menyelesaikan sebuah tugas yang harusnya diselesaikan selama 1 minggu menjadi satu malam. Jawabannya adalah Panic Monster. Panic Monster merupakan sebuah insentif yang jauh melampaui nilai yang ditawarkan gratifikasi instan. Rasa takut, rasa cemas, dan rasa tanggung jawab merupakan contoh-contoh dari internal trigger (Nir Eyal, 2014) yang membangunkan monster ini dari lelapnya.

Skala Prioritas Mahasiswa

Skala Prioritas adalah suatu daftar yang berisikan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia sesuai dengan tingkat pemenuhannya (Waluyo, 2008). Tenggat waktu membuat suatu keperluan naik tingkatannya pada skala ini, sehingga suatu tugas yang selama ini tertunda akan menjadi sangat penting prioritasnya dan membangunkan Panic Monster. Responden yang kami teliti yaitu mahasiswa fakultas ekonomi, juga memiliki skala prioritas yang mana pada saat penelitian kami membagi daftar urutannya menjadi tugas perkuliahan, tugas organisasi, dan tugas luar perkuliahan (freelancing atau bekerja).

Kedua golongan mahasiswa, penunda dan yang tidak, sama-sama sepakat bahwa tugas perkuliahan merupakan prioritas paling utama diikuti oleh tugas organisasi dan tugas di luar perkuliahan. Keduanya menyatakan kesadaran mereka bahwa perkuliahan dan akademik merupakan kewajiban utama dan tujuan awal mereka melanjutkan pendidikan serta tugas-tugas tersebut menyangkut masa depan mereka. Sedangkan tugas organisasi dan di luar perkuliahan dilakukan untuk sekedar memenuhi rasa tanggung jawab dan mendapatkan pengetahuan seperti soft skill.

Waktu Kuliah vs Waktu Liburan

 

Produktivitas memiliki beberapa faktor pemengaruh, salah satunya adalah lingkungan kerja. Kami berhipotesis bahwa suasana liburan akan melenakan mahasiswa dari target-target yang hendak mereka capai. Namun hal tersebut terbantahkan dengan hasil survey yang menunjukkan kenaikan persentase penyelesaian rencana-rencana produktif yang telah mereka buat seperti olahraga, membaca buku, dan mengikuti lomba. Mahasiswa yang sering kali menunda menyatakan kenaikan persentase yang 1.7 kali lebih besar dari mahasiswa yang tidak menunda.

Panic Monster, dalam rangka menyelesaikan target-target, tidak terbangun selama liburan. Hal ini disebabkan ketidakadaan tenggat waktu dan tekanan, suasana yang lebih santai, dan waktu luang yang lebih banyak. Ketidakadaan Panic Monster semustinya memberikan alih kepada gratifikasi instan sehingga seseorang menjadi lebih terdistraksi.

Kesimpulan

Tidak ada ‘non-procrastinator’ yang ada hanyalah orang-orang yang mampu mengontrol dirinya lebih baik daripada sebagian yang lain. Pernyataan tersebut didukung dengan hasil penelitian berupa mahasiswa yang mengakui dirinya tidak menunda juga terdistraksi oleh gratifikasi instan. Penunda yang disebutkan sebelumnya ‘memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah’ menilai hasil pekerjaan tidak jauh berbeda dari nilai yang diberikan non-procrastinator. Penunda memiliki keuntungan berupa waktu yang dapat dialokasikan untuk hal lain yang lebih penting dan kemungkinan mendapatkan ide-ide yang lebih baik seiring waktu. Mahasiswa yang mengaku tidak menunda memiliki keuntungan waktu yang tersisa lebih banyak dan hasil yang dicapai lebih maksimal, keduanya merupakan biaya yang harus dibayarkan penunda. Skala prioritas kedua golongan dalam memeringkat antara perkuliahan, organisasi, dan kegiatan di luar keduanya adalah sama dengan perkuliahan di posisi paling awal diikuti organisasi dan kegiatan lainnya. Hal tersebut berlandaskan alasan awal melanjutkan pendidikan, tanggung jawab, dan kepentingan masa depan. Waktu liburan meningkatkan tingkat sukses rencana-rencana sebesar 1.7 kali dari rencana yang sama di waktu kuliah.

[1] Zarick, Lisa M., and Robert Stonebraker. “I’LL DO IT TOMORROW: THE LOGIC OF PROCRASTINATION.” College Teaching, vol. 57, no. 4, 2009, pp. 211–215. JSTOR, JSTOR, www.jstor.org/stable/25763397.

[2] http://mindpotentialpower.com/instant-gratification.html

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in