PRIMERA: Revolution in Consumption, Does it Exist

KANOPI_PrimeraGoods

Revolution in Consumption: Does it Exist?

 

Belakangan ini, terdapat suatu fenomena menarik yang melanda perekonomian Indonesia. Dari sepinya pasar elektronik Glodok dan pusat perbelanjaan Mangga Dua hingga tutupnya banyak gerai-gerai department store di mall-mall ternama, muncullah suatu pertanyaan mengenai konsumsi masyarakat Indonesia karena sebenarnya, terdapat pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia sebesar 5% di tahun 2017 dari tahun sebelumnya. Banyak yang beranggapan fenomena berkurangnya ketertarikan masyarakat terhadap gerai ritel konvensional diatribusikan kepada fenomena digital economy dan mewabahnya media ritel online. Meskipun demikian, ternyata angka penjualan dari e-commerce hanya sebesar 0.8% dari angka ritel nasional.

            Muncullah diskusi publik yang mencoba mencari tahu alasan dari fenomena tersebut. Salah satu penjelasan yang konkrit mengatribusikan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang bergeser dari “goods-based consumption” ke “experience-based consumption”, suatu hal yang dianggap ciri-ciri konsumen kelas menengah dimana sekarang, 60% masyarakat Indonesia telah mencapai status tersebut. Experience-based consumption tersebut dapat disebut juga sebagai barang leisure, yaitu barang/jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hiburan, relaksasi, dan kesenangan. Barang/jasa leisure termasuk berlibur, hangout di kafe baru, berolahraga di pusat kebugaran, pergi ke salon dan sebagainya. Hal ini dibandingkan dengan goods-based consumption atau barang/jasa non-leisure, yaitu hal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memenuhi kebutuhan pangan, membeli barang konsumsi seperti pakaian dan perangkat elektronik, dan sebagainya.

Berangkat dari diskursus tersebut, Divisi Penelitian KANOPI FEB UI hendak mencari tahu apakah pola tersebut tercermin pula dalam lingkup mahasiswa FEB UI. Apakah mahasiswa FEB UI juga mengalami perubahan pola konsumsi dari non-leisure activities ke leisure activities?

            Dalam penelitian ini, terdapat 118 responden dimana 33% merupakan mahasiswa Akuntansi, 33% lagi merupakan mahasiswa Manajemen, 17% merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi, 8.5% merupakan mahasiswa Bisnis Islam, dan 8.5% lagi merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi Islam. Dari antaranya, 34% adalah angkatan 2017, 31% adalah angkatan 2016, 21% adalah angkatan 2015, dan 14% adalah angkatan 2014. Dari segi usia, 6% responden berusia 17 tahun, 28% berusia 18 tahun, 27% berusia 19 tahun, 23% berusia 20 tahun, 13.5% berusia 21 tahun, dan 2.5% berusia 22 tahun. Responden pun terbagi secara rata dengan 59 responden laki-laki dan 59 responden perempuan.

            Dalam bagian pertama penelitian kami ini, kami ingin mengetahui kecenderungan konsumsi mahasiswa FEB UI untuk memilih antara leisure dan non-leisure goods. Kami memberikan lima kasus dimana responden harus memilih antara dua jenis barang/jasa leisure dan non-leisure. Secara keseluruhan, kami menemukan bahwa responden cenderung memilih untuk mengkonsumsi barang-barang non-leisure. Dengan uang Rp 50.000,00, 81% responden lebih memilih untuk 2-3 kali makan di kantin FEB UI dibandingkan dengan satu kali hangout atau makan di suatu cafe. Dengan uang Rp 500.000,00, 75.4% dari responden lebih memilih untuk membeli satu set pakaian lengkap (baju dan celana/rok) dari pada satu bulan membership gym unlimited atau 2/3 kali menerima layanan di salon. Lalu, dengan uang Rp 1.000.000,00, 68.6% dari responden lebih memilih untuk membeli satu pasang alas kaki seperti sneakers, sepatu, flat shoes, atau heels, daripada satu kali menonton konser artis favorit mereka.

Namun, terdapat dua kasus dimana barang/jasa leisure dirasa lebih berharga. Dengan uang Rp 50.000,00, 56% dari responden lebih memilih satu tiket bioskop reguler dibandingkan dengan satu set alat tulis lengkap. Meskipun demikian, pada responden perempuan, terdapat lebih banyak yang memilih set alat tulis lengkap tersebut. Satu kasus lagi dimana barang/jasa leisure lebih diminati adalah pada kasus dimana dengan uang Rp 3.000.000,00, 60% dari responden lebih memilih 1 kali liburan selama 3 atau 4 hari dari pada satu unit HP atau elektronik baru lainnya.

Kami pun menganalisa dampak dari suatu diskon terhadap pilihan responden kami dimana setelah diskon 20%, responden cenderung lebih mengkonsumsi barang leisure. Sebelum diskon, keseluruhan responden memilih barang non-leisure 3 banding 2, namun setelah diskon, responden memilih barang leisure 3 banding 2. Bagi keseluruhan responden, diskon 20% pada suatu cafe, membuat mereka lebih memilih hangout di cafe dari pada makan di kantin FEB UI. Disamping itu, terhadap suatu fakta menarik dimana pada responden laki-laki, terdapat sifat yang lebih konsisten untuk lebih memilih barang non-leisure sebelum dan setelah diskon, dimana dari 5 kasus, barang non-leisure tetap lebih diminati 3 banding 2. Namun, preferensi sedikit berubah, dimana setelah diskon, 1 unit HP atau perangkat elektronik lebih diminati dari pada liburan. Pada responden perempuan, terdapat perpindahan pola konsumsi terhadap barang leisure yang lebih besar dimana sebelum diskon, barang non-leisure lebih diminati 4 banding 1, namun setelah diskon, 3 dari barang/jasa leisure lebih diminati. Barang/jasa tersebut termasuk hangout di cafe daripada makan di kantin FEB UI dan 1 tiket bioskop daripada satu set alat tulis lengkap.

Dalam diskusi seputar pola konsumsi masyarakat Indonesia, terdapat pula fenomena baru yang dirasa cukup berpengaruh, yaitu revolusi cashless society, dimana terdapat beberapa platform transaksi yang didorong untuk menjadi tanpa-tunai, sebagai contoh operator jalan tol Jabodetabok, PT Jasamarga yang mewajibkan seluruh transaksi membayar tol dalam bentuk cashless.

Dalam bagian kedua penelitian kami ini, kami mengkaitkan fenomena tersebut dengan fenomena leisure economy, dimana secara keseluruhan, kami menemukan bahwa responden cenderung memilih sistem pembayaran cashless untuk barang/jasa non-leisure daripada untuk barang/jasa leisure. 87% dari responden berpendapat bahwa sistem cashless amat cocok untuk transaksi transportasi umum, dan 47% berpendapat bahwa sistem tersebut juga cocok untuk transaksi di kantin. Ditambah itu, responden beranggapan bahwa membayar parkir, membayar barang/jasa di supermarket dan mall, barang konsumsi dengan pembayaran rutin (listrik, pulsa, dsb), transportasi online, dan pakaian, termasuk cocok dengan sistem cashless. Menariknya, 5% dari responden mengatakan bahwa sebenarnya, semua barang/jasa cocok dengan sistem cashless apabila sistemnya bagus. Kasus dimana sistem cashless dirasa cocok adalah jika transaksi cashless mempermudah dan membuat praktis proses transaksi (38%), mempersingkat waktu (19%), dan apabila barang/jasa tersebut dibeli secara rutin (5%). Dengan anggapan bahwa barang yang dibeli secara rutin sangat cocok dengan sistem cashless, penemuan tersebut mendukung hasil penelitian ini yang mengatakan bahwa barang non-leisure lebih cocok dengan sistem cashless.

Adapun kasus dimana sistem cashless dirasa kurang cocok, yaitu untuk kantin yang menjual makanan kecil, warung, barang di pasar tradisional, membayar parkir, dan untuk keperluan fotokopi dan percetakan. Alasan dibalik kurang cocoknya sistem cashless karena kurang efisiennya transaksi cashless (12%), terutama untuk barang dengan nominal harga yang kecil (3%), membuat waktu transaksi dan antrean menjadi lebih lama (3%), dan potensi untuk membuat konsumen lebih boros (3%). Salah satu penemuan yang menarik adalah meskipun 20% dari responden mengatakan bahwa membayar parkir sebaiknya menggunakan sistem cashless, 3.4% dari responden berpendapat sebaliknya.

Dalam bagian penelitian kami yang terakhir, kami hendak mengetahui mengenai proporsi alokasi konsumsi responden kami kepada konsumsi barang/jasa leisure dari pendapatan mereka guna mengkonfirmasi bagian pertama penelitian kami. Menurut pernyataan dari responden, rata-rata proporsi alokasi konsumsi barang/jasa hampir sama antara leisure dan non-leisure yaitu 55% untuk barang non-leisure dan 45% untuk barang leisure. Pola tersebut tidak banyak berbeda antara responden laki-laki maupun perempuan. Meskipun demikian, tetap dapat dibilang bahwa alokasi pendapatan responden rata-rata lebih banyak untuk barang/jasa non-leisure. Penemuan tersebut konsisten dengan penemuan kami dalam bagian pertama, dimana ternyata benar bahwa responden cenderung memilih konsumsi barang/jasa non-leisure daripada barang/jasa leisure.

Kami pun mengkaitkan fenomena leisure economy dengan pola menabung dan meminjam dari responden-responden kami. Kami menemukan bahwa mayoritas responden sebanyak 66.7% lebih memilih untuk menabung guna membeli barang/jasa leisure daripada barang/jasa non-leisure. Untuk pola menabung tersebut, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara responden laki-laki dan perempuan. Meskipun demikian, untuk meminjam, mayoritas dari responden sebanyak 68.75% lebih memilih meminjam guna membeli barang/jasa non-leisure daripada barang/jasa leisure. Pada responden laki-laki, 73.5% dari responden lebih memilih untuk meminjam guna membeli barang/jasa non-leisure, namun pada responden perempuan, preferensi tersebut hanya dicerminkan oleh 64.3% dari responden.

Dibalik diskurus publik mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia dari goods-based menjadi experience-based, kami tidak menemukan terjadinya perubahan pola konsumsi tersebut dengan responden mahasiswa FEB UI. Terbukti bahwa bagi mahasiswa FEB UI, barang/jasa non-leisure masih lebih diminati. Mengenai fenomena cashless sendiri, barang/jasa non-leisure dianggap paling cocok untuk menggunakan sistem cashless, terutama jika pembayaran cashless mempersingkat waktu dan membuat proses menjadi mudah dan praktis. Secara tidak-langsung, responden kami pun beranggapan bahwa kebanyakan dari transaksi mereka sudah cocok menggunakan sistem cashless. Dalam menanggapi masalah menabung dan meminjam, secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa responden lebih memilih untuk menggunakan pendapatannya guna memenuhi keperluan barang/jasa non-leisure. Hal tersebut juga ditandai oleh kecenderungan responden yang lebih memilih untuk menabung untung membeli barang/jasa leisure.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in