Is Tolerance Good or Bad for Growth?

gtest 23-11

Pengarang            : Niclas Berggren and Mikael Elinder

Tahun                      : 2012

Nama Jurnal        : Public Choice, Vol. 150, No. 1/2 (January 2012), pp. 283-308

 

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh dari toleransi seseorang yang diukur dari cara mereka memperlakukan tetangga yang berbeda dari segi ras dan orientasi seksual terhadap pertumbuhan ekonomi di negaranya. Berdasarkan sejarah, sikap toleransi memiliki dampak yang positif terhadap perekonomian negara tersebut. Misalnya saja, negara – negara di Eropa seperti Belanda, Swedia dan Inggris yang mengizinkan kaum Jews dan kaum yang agamanya bersifat minoritas masuk ke negara mereka. Kebijakan ini dianggap mampu menarik imigran – imigran yang produktif sehingga berpengaruh dalam meningkatkan perekonomian negara tersebut.

Mokyr (1990: 12) menyebutkan bahwa berdasarkan sejarah mengenai perkembangan teknologi, “innovation requires diversity and tolerance”. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dialkukan sebelumnya oleh Richard Florida beserta rekannya, bahwa toleransi masyarakat memiliki hubungan yang positif dengan perkembangan perekonomian.

Toleransi disini didefinisikan sebagai perilaku terbuka seseorang terhadap perbedaan. Orang yang toleran dianggap mampu menerima kehadiran dan partisipasi siapapun di dalam masyarakat tanpa terkecuali. Tetapi bisa saja seseorang bersikap toleran terhadap kelompok tertentu, tetapi tidak terhadap kelompok lainnya. Namun, di dalam penelitian ini toleransi seseorang diartikan sebagai sikap terbuka dan menerima kelompok masyarakat yang memiliki kelainan orientasi seksual atau homoseksual serta kelompok masyarakat yang berasal dari ras minoritas.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan 54 negara sebagai sampel sehingga bersifat cross-country analysis. Dimana pertanyaan yang digunakan untuk melaksanakan penelitian ini berdasarkan pada World Values Survey (Inglehart et al. 2004). Responden diberikan pertanyaan terkait dengan kondisi tertentu, misalnya jika mereka memiliki tetangga yang merupakan homoseks atau yang berasal dari ras minoritas.

Variabel dependen dalam penelitian ini, yaitu pertumbuhan rata – rata GDP per kapita (Y) dan variabel independen berupa toleransi masyarakat terhadap kelompok homoseksual dan kelompok dengan ras minoritas (X), GDP riil per kapita, waktu yang ditempuh oleh masyarakat untuk pendidikan secara rata – rata, dan investment share of GDP (F).

1Kemudian variabel ditambah seiring dengan pengujian yang dilakukan. Pertama, peneliti menambahkan variabel trust dan kualitas dari sistem hukum suatu negara. Kemudian, menambah koefisien gini dan proporsi konsumsi pemerintah terhadap GDP, serta dua hal yang mampu mengukur political institutions berupa civil liberties dan political rights. Selanjutnya, peneliti menambahkan kelompok negara sebagai dummy, yaitu Asia, Amerika Latin, Eropa, Amerika Utara dan negara – negara yang tengah berada dalam masa transisi.

Peneliti juga melakukan sensitivity test untuk mengukur human capital di negara tersebut melalui lama Pendidikan yang ditempuh dan gross enrollment rate serta kemampuan kognitif. Hal ini dikarenakan pendapat yang mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh oleh seseorang, akan semakin tinggi pula toleransi yang dimiliki oleh orang itu.

Selain itu, peneliti juga menguji robustness untuk melihat adanya outlier dari data sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Serta menguji apakah terdapat isu endogeneity dengan cara meregress variabel toleransi masyarakat terhadap variabel tingkat pertumbuhan ekonomi rata – rata selama periode 10 tahun. Kemudian peneliti juga melakukan analisis panel data fixed-effects dengan menggunakan data 2 periode, dengan menjadikan hasil pengukuran di setiap awal periode (1988 dan 1998) sebagai variabel control.

2

Hasil Penelitian dan Kesimpulan

Pada table 1 dapat kita lihat hasil pengukuran dari model yang digunakan dalam penelitian ini. Terdapat 4 hasil pengujian seiring dengan penambahan variabel independen yang dilakukan oleh peneliti. Berdasarkan hasil pengujian, peneliti menemukan bahwa terdapat korelasi yang negatif antara toleransi masyarakat terhadap kaum homoseksual dengan pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Dimana dengan peningkatan toleransi masyarakat terkait dengan keberadaan tetangga yang merupakan homoseksual sebesar 10%, akan menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.3 – 0.4%. Hasil ini signifikan secara statistik. Sedangkan toleransi masyarakat terhadap kaum dengan ras minoritas memiliki korelasi yang positif dengan perekonomian satu negara, namun tidak signifikan secara statistik meskipun poin estimasi yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan toleransi terhadap kaum homoseksual, yaitu sebesar 1.2% peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Untuk variabel – variabel control yang digunakan seperti GDP, schooling, dan investasi memiliki korelasi positif namun tidak signifikan. Sedangkan variabel trust dan government memiliki korelasi yang negatif dan signifikan.

3

Selanjutnya, table 2 menunjukkan hasil estimasi dalam menguji data sampel yang bersifat outlier dengan cara meng-exclude beberapa negara di setiap pengujian.

Untitled

 

Dari penelitian ini, satu hal yang dapat disimpulkan, yaitu bahwa toleransi terhadap kaum homoseksual secara negatif mempengaruhi pertumbuhan. Dan hal ini bersifat signifikan secara statistic berdasarkan beberapa kali pengujian yang sudah dilakukan oleh peneliti.

5

*Lampiran

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in