Grandma Test: The Economics of ‘Gift of Life Goods’ – Is it Really Motivated by Empathy?

gtest3_0

The Market for Blood

Penulis                                      : Robert Slonim, Carmen Wang, dan Ellen Garbarino

Tahun                                        : 2014

Jurnal                                        : Journal of Economic Perspectives, Vol.28, No.2, pp. 177-196.

Latar Belakang dan Tujuan Penelitian

Produk darah adalah termasuk darah itu sendiri, trombosit, dan juga plasma darah yang digunakan untuk melakukan transfusi, operasi, dan semua rutinitas pengobatan. Oleh karena itu, produk-produk darah sangat penting dalam industri kesehatan, yang berarti darah memiliki pasar tersendiri. Dari sisi penawaran, darah berasal dari dua sumber utama yaitu voluntary donors dan juga paid donors. Voluntary donors adalah orang-orang yang dengan sukarela memberikan darah mereka biasanya dimotivasi oleh altruisme dan paid donors adalah orang-orang memberikan darah mereka dengan insentif uang. Dari sisi permintaan darah adalah orang-orang yang membutuhkan pengobatan untuk transfusi ataupun operasi. Hal tersebut yang melatar-belakangi kenapa perlu adanya penelitian mengenai pasar darah.

Dalam sebuah pasar pasti terdiri dari dua sisi yaitu sisi permintaan dan sisi penawaran. Begitupun dengan pasar dari darah memiliki sisi permintaan dan sisi penawaran. Dalam artikel ini memiliki tiga tujuan utama yaitu ingin melihat perkembangan pasar darah dari tahun ke tahun, memperlihatkan aspek yang mempengaruhi sisi permintaan dan sisi penawaran dari darah dan yang terakhir membahas hal yang mempengaruhi ketidakseimbangan sisi permintaan dan sisi penawaran dari darah (excess supply, excess demand, supply shortage). Kemudian memberikan kesimpulan dan solusi dari perspektif ekonomi dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi di dalam pasar darah.

Perkembangan blood market berdasarkan klasifikasi negara

Perkembangan blood market dari tahun ke tahun berbeda di setiap negara. Negara miskin dalam memenuhi permintaan darahnya cenderung untuk memakai paid donors sementara Negara maju cenderung memakai voluntary donors.

1

Dari figure 1, kita dapat melihat bahwa persentase pasokan donor darah dari voluntary donors lebih tinggi di negara maju yaitu negara high-income daripada di negara miskin yaitu negara dengan low-income. Sebesar 46 % dari negara miskin, persentase voluntary donors­-nya kurang dari 50 % yang berarti lebih dari setengah kebutuhan darah dari negara miskin dipasok oleh paid donors. Ole

Perkembangan blood market dari masa ke masa

  1. Era 1600an – 1900an

Transfusi darah telah berkembang sejak tahun 1600an, akan tetapi tingkat keberhasilnannya masih sangat rendah. Oleh sebab itu, tahun 1600an permintaan dari darah masih cenderung sedikit. Namun, memasuki tahun 1900an yang mana kualitas dari transfusi darah telah meningkat sehingga meningkatkan juga permintaan dari darah pada era tersebut.

  1. 1914 – 1937: The blood-on-the-hoof era

Dalam era ini, permintaan akan darah harus secara langsung berhubungan dengan orang yang mau mendonor, hal tersebut disebabkan belum adanya lembaga penyimpan dan penyalur darah sehingga menyebabkan orang yang membutuhkan transfusi darah harus mencari donor darah mereka sendiri. Hal tersebut merupakan tantangan besar dalam blood market di era tersebut.

  1. 1937 – World War II: Economies of Scale and Impersonalized Diffuse Market

Di era ini, economist menemukan bagaimana menekan biaya untuk menyimpan persediaan darah, sehingga menandakan berakhirnya era blood-on-the-hoof menjadi impersonalized supplier-recipent relationship. Dalam era ini juga, muncul bank darah yang mana dapat menekan transportasi darah. Masalah baru timbul ketika adanya perang dunia ke-dua yang mebuat permintaan akan darah semakin banyak. Bertujuan untuk meningkatkan penawaran dari darah, pemerintah di era itu menggunakan patriotisme agar memotivasi orang.

  1. 1950s-present: Demand Growth, Safety, Volunteerism

Pada tahun 1950an, permintaan akan darah meningkat drastis seiring dengan adanya prosedur pengobatan yang baru seperti transplatasi organ ataupun operasi jantung. Akan tetapi dengan meningkatnya permintaan darah, penawaran darah dipaksa untuk memenuhi permintaan tersebut. Hal selanjutnya yang menjadi perhatian adalah tingkat keamanan dari darah yang ditawarkan tersebut. Pada tahun 1980an, munculnya isu mengenai virus AIDS sehingga pengamanan darah diketatkan.

Kondisi pricing, supply, safety, dan imbalances in supply and demand

  1. Blood Price

Harga dari darah adalah harga yang dibayarkan kepada lembaga yang mengumpulkan darah tersebut. Harga tersebut untuk menutupi biaya operasi dari mengumpulkan dan menyimpan darah. Namun perlu diingatkan harga ini bukan adalah harga dari penawaran darah.

  1. Quantity Supplied and Safety

Banyak survey yang menyatakan bahwa di dalam negara maju motivasi utama orang mendonorkan darah mereka adalah untuk membantu teman atau komunitas mereka. Dalam figure 2, memperlihatkan hubungan antara donasi darah dengan GNI per capita.

2

Dalam panel A (sebelah kanan) terlihat bahwa GNI per capita dan donasi darah memiliki korelasi yang positif. Negara-negara yang paling banyak mendonasikan darah sekaligus menjadi negara yang memiliki pendapatan yang tinggi yaitu Amerika serikat, Australia dan Denmark. Namun, ternyata ada juga negara-negara yang memiliki pendapatan yang tinggi tetapi memiliki donasi darah yang sedikit yautu seperti Singapura, Oman, dan Jepang. Dalam panel B memperlihatkan hubungan antara donasi darah per 1000 orang dengan persentase donor darah sukarela. Kedua variabel tersebut ternyata memiliki hubungan yang positif.

4

Kemudian dalam figure 3, memperlihatkan hubungan antara donasi darah yang terinfeksi dengan GNI per capita di Panel A, dan memperlihatkan hubungan antara donasi darah yang terinfeksi dan persentasi donasi darah secara sukarela. Panel A menunjukkan adanya hubungan negatif antara donasi darah yang terinfeksi dan GNI per capita. Sementara di panel B menunjukkan adanya hubungan positif namun kecil antara donasi darah yang terinfeksi dengan persentase donasi darah secara sukarela.

Bertujuan untuk membuktikan secara statisktik hubungan dalam figure 2 dan figure 3, peneliti memakai ordinary least square (OLS).

5

Variabel-variabel yang digunakan dalam model (1), (2), dan (3) adalah sebagai berikut variabel donasi darah per 100 orang sebagai variabel dependen sementara variabel log (GNI) dan variabel persentase volunteer sebagai variabel independen. Hasil yang ditunjukkan adalah dalam model (1) ternyata donasi dan log (GNI) memiliki hubungan yang positfi signifikan secara statistic. Hal tersebut berarti bahwa ketika GNI per capita dar masyarakat suatu negara bertambah sebesar 1 % maka donasi darah per seribu orang akan bertambah sebesar 8.83 unit. Untuk model (2) menunjukkan bahwa persentase volunteer memiliki hubungan positif signifikan secara statistic. Hal tersebut berarti bahwa ketika persentase orang yang mendonorkan darahnya secara sukarela naik sebesar 1 % maka donasi darah per seribu orang akan naik sebesar 0.24 unit. Kemudian, untuk model (3) hanya membahas tentang bagaimana pengaruh log(GNI) dan persentase volunteer terhadap donasi darah per 1000 orang ketika diregresi secara Bersama-sama. Hal tersebut tetap menunjukkan kedua variabel independen memiliki hubungan positif yang signifikan secara statistik.

Variabel-variabel yang digunakan dalam model (4), (5), dan (6) adalah sama seperti model-model sebelumnya untuk variabel independen, namun untuk variabel dependen menggunakan variabel persentase darah yang terinfeksi. Dalam model (4) menunjukkan adanya hubungan negatif antara log (GNI) dengan persentase donor darah yang terinfeksi signifikan secara statistik. Hal tersebut berarti bahwa ketika pendapatan per kapita suatu negara naik sebesar 1 % maka persentase donor darah yang terinfeksi turun sebesar 3.43 %. Angka tersebut membuktikan juga bahwa dengan semakin majunya suatu negara maka donor darah yang terinfeksi semakin berkurang, dengan kata lain kualitas donor darah sangat bagus. Untuk model (5) menunjukkan adanya hubungan positif namun secara statistik tidak signifikan antara variabel persentase volunteer dengan persentase donor darah yang terinfeksi. Kemudian untuk model (6) hanya membahas bagaimana pengaruh log(GNI) dan persentase volunteer jika diregresi secara Bersama-sama. Hasil menunjukkan tidak ada pengaruh yang besar dengan ketika variabel-variabel tersebut diregresi secara individu.

Imbalances in Supply and Demand for Blood

Dengan tidak adanya harga pasar bagi darah dapat mengakibatkan terjadinya kelebihan penawaran dari darah ataupun permintaan dari darah. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor-faktor yang berkaitan dengan penawaran dari darah. Faktor-faktor tersebut seperti musim ataupun bencana alam yang mana pada saat musim tertentu penawaran darah (donor darah) akan berkurang dan juga pada saat bencana alam akan mengakibatkan penawaran darah berkurang seiring dengan permintaan darah yang bertambah besar. Oleh sebab itu mengapa pasar darah tidak memiliki signal yang secara cepat dapat mengakibatkan penawaran dari darah berespon. Hal tersebut membuat harus ada collecting agencies untuk darah agar dapat menyimpan dan mengumpulkan darah pada waktu yang dibutuhkan.

How Economist Can Improve the Market for Blood

Penjelasan sebelumnya menyatakan bahwa donor darah biasanya dilandasi dengan motivasi altruisme dari setiap orang. Namun, hal tersebut tidak dapat menjamin permintaan dan penawaran dari darah akan terus seimbang. Oleh karena itu dibutuhkan solusi dari ekonom untuk membuat insentif agar dapat membuat penawaran berespon lebih cepat dengan pergerakan permintaan dari darah. Salah satu contoh yaitu Lacetera dan Macis (2010) menyatakan bahwa untuk meningkatkan penawaran dari darah dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan simbolis dan pengakuan sosial dapat menjadi insentif bagi orang untuk mendonorkan darahnya dan masih banyak lagi cara-cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan penawaran dari darah.

Non-price Signals and a Blood Registry

Dalam konteks donor darah secara sukarela, orang-orang dapat mendonorkan darahnya pada saat tidak dibutuhkan ataupun tidak mendonorkan darahnya pada saat dibutuhkan. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya harga pasar dari darah sendiri. Dapat dikatakan bahwa tanpa adanya harga pasar, penawaran darah dapat bergerak tanpa koordinasi. Bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut apalagi masalah kekurangannya penawaran dari darah, harus digabungkan antara macam-macam strategi termasuk media dan telemarketing. Sehingga solusi yang dapat digunakan adalah blood registry. Dalam blood registry ini, mereka mengumpulkan data dari pendonor tentang kapan preferensi pendonor untuk mendonorkan darahnya. Agar blood registry dapat berjalan dengan baik ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi yaitu pendonor berkemauan untuk mendonorkan darahnya ketika dibutuhkan, dan mereka tahu bahwa mereka hanya akan diundang untuk mendonor sesuai dengan preferensi waktu mereka.

Kesimpulan

Pasar dari darah dan segala produknya, sangat dibatasi dengan adanya norma sosial dan etika dan juga kekhawatiran akan keamanannya. Oleh sebab itu, dalam pasar darah dapat terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran darah. Solusi untuk mengatasinya banyak salah satunya adalah blood registry. Blood registry adalah solusi yang menggunakan semua strategi untuk meningatkan penawaran dari pasar darah. Namun, agar solusi ini dapat berhasil perlu adanya sinergi antara pihak collecting agencies dan pihak pendonor darah.

Diulas oleh: Clifert Thimoty Walandouw Staff Ahli Penelitian Kanopi FEB UI 2017

Ilustrasi oleh:

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in