PRIMERA: Que Sera Sera

KANOPI_PrimeraQSS_02 KANOPI_PrimeraQSS_03 KANOPI_PrimeraQSS_04

PRIMERA: Que Sera Sera

 

Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapatkan yang terbaik di masa depan. Abraham Lincoln mengatakan bahwa cara terbaik dalam memprediksi masa depan kita adalah dengan menciptakannya. Oleh karena itu, setiap orang memiliki rencana jangka panjang untuk hidup mereka. Kali ini Divisi Penelitian KANOPI FEBUI melakukan sebuah penelitian tentang bagaimana mahasiswa FEB UI sebagai calon-calon perintis karir di bidang ekonomi merencanakan masa depan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola rencana dari mahasiswa dalam hal karir, pasangan, keluarga, dan lain-lain.

Kami melakukan penyebaran kuesioner ke 132 responden dari berbagai jurusan (akuntansi 36%, manajemen 27%, ilmu ekonomi 18%, ilmu ekonomi islam 9%, dan bisnis islam 9%) dan lapisan angkatan (2014 14%, 2015 21%, 2016 29%, dan 2017 36%). Responden terdiri dari 68 perempuan dan 64 laki-laki yang memiliki umur dengan rentang 17-21 tahun (17 tahun 6%, 18 tahun 30%, 19 tahun 28%, 20 tahun 21%, dan 21 tahun 15%). Tujuh puluh tujuh persen responden memilih untuk bekerja setelah lulus S1, 20% responden ingin melanjutkan studi S2 dan sisanya ingin menikah atau melanjutkan studi profesi. Uniknya, tidak ada responden perempuan yang memilih untuk menikah setelah lulus S1. Lima puluh satu persen responden ingin bekerja di perusahaan swasta, 23% di institusi pemerintah, sisanya membangun usaha sendiri. Mengenai hal yang lebih diutamakan dalam karir, 49 orang mengutamakan kesesuaian dengan bidang yang ditekuni, 31 orang mengutamakan manfaat bagi masyarakat, 30 orang mengutamakan uang yang dihasilkan, 11 orang mengutamakan kemudahan untuk mencapai jenjang karir yang lebih tinggi, dan 11 orang menjawab respon lain seperti kenyamanan, minat, dan passion.

Selanjutnya responden diminta untuk mengalokasikan tambahan pendapatan mereka sebesar 10 satuan untuk konsumsi, tabungan, dan investasi. Hasil keseluruhan menunjukkan nilai rata-rata 4,1 untuk konsumsi, 3,2 untuk tabungan, dan 2,7 untuk investasi. Hasil di kalangan perempuan menunjukkan nilai rata-rata 4,0 untuk konsumsi, 3,3 untuk tabungan, dan 2,7 untuk investasi. Hasil di kalangan laki-laki menunjukkan nilai rata-rata 4,1 untuk konsumsi, 3,1 untuk tabungan, dan 2,8 untuk investasi. Hasil menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan antara perempuan dan laki-laki. Baik perempuan dan laki-laki mengalokasikan lebih banyak uang untuk konsumsi, diikuti dengan tabungan, dan investasi.

Ketika ditanya kapan saat yang tepat untuk menikah, respon paling banyak adalah saat mapan secara finansial yaitu sebesar 51%. Namun uniknya, 60% responden di kalangan perempuan menilai waktu yang tepat dari usia yang matang sedangkan hanya 17% responden di kalangan laki-laki menjawab hal yang sama. Laki-laki cenderung memperhatikan kemapanan secara finansial ditunjukkan dengan 63% responden di kalangan laki-laki menjawab saat mapan secara finansial. Mengenai usia yang tepat untuk menikah, rata-rata responden menjawab saat umur mencapai 25 tahun dengan rentang usia paling muda 20 tahun dan paling tua 31 tahun. Ketika ditanya kriteria dalam memilih pasangan, responden perempuan paling sering menjawab seiman, mapan, berkarakter baik, dan setia sedangkan responden laki-laki paling sering menjawab cantik, seiman, taat agama, dan setia. Dari hasil survey, perempuan cenderung mengutamakan kemapanan laki-laki dibanding penampilan atau wajahnya sedangkan laki-laki cenderung mengutamakan penampilan atau wajah perempuan dibanding kemapanannya. Namun hal yang sama-sama diutamakan oleh keduanya adalah seiman dan setia.

Sebanyak 59% responden memiliki pendapat bahwa menafkahi keluarga adalah seutuhnya tanggung jawab suami, 38% menjawab kewajiban bersama, dan 3% sisanya menjawab ragu-ragu. Uniknya, 58% responden laki-laki berpendapat bahwa menafkahi keluarga adalah seutuhnya tanggung jawab suami namun 79% responden perempuan berpendapat bahwa itu adalah kewajiban bersama. Hal ini didukung dengan fakta bahwa 71% responden perempuan akan tetap berusaha untuk bekerja meskipun pasangan memintanya untuk berhenti. Alasan untuk tetap bekerja paling banyak adalah ingin berpenghasilan untuk antisipasi di masa depan sebesar 75%, sayang untuk melepas kesempatan di dunia karir sebesar 15%, dan 10% lainnya ingin mengisi waktu luang dan memberikan manfaat dari ilmu yang telah didapat. Sedangkan alasan untuk berhenti bekerja adalah menghargai keputusan suami sebagai kepala keluarga dan agar dapat fokus mengurus anak.

Delapan dari 10 laki-laki akan memberikan keleluasaan kepada istri untuk bekerja. Untuk responden laki-laki yang akan memberi keleluasaan, 26% laki-laki memberi izin bekerja agar dapat memperoleh sumber penghasilan lain untuk rumah tangga, 46% laki-laki hanya ingin memberikan keleluasaan, dan 28% sisanya ingin istri lebih mandiri, dapat bermanfaat bagi masyarakat, dan memiliki pencapaian yang membanggakan. Sedangkan untuk yang menjawab tidak yaitu 10 orang, mereka tidak memberi izin karena ingin istri fokus mengurus rumah tangga, merasa menafkahi adalah tanggung jawab suami seutuhnya, dan lain-lain.

Jumlah anak yang ingin dimiliki rata-rata adalah 2 anak dan paling banyak 6 anak. Terdapat juga responden yang tidak ingin memiliki anak. Beberapa alasan mengapa responden memilih jumlah tersebut diantaranya, dua anak adalah jumlah yang ideal, tidak terlalu ingin banyak anak karena ingin memberikan perhatian yang cukup, tidak ingin memiliki hanya satu anak karena dia akan merasa kesepian, dan agar rumah terasa ramai. Untuk pertanyaan jenis kelamin anak apa yang menghasilkan return yang lebih tinggi (lebih produktif), responden perempuan dan laki-laki menunjukkan persentase yang sepakat bahwa anak laki-laki lebih produktif yaitu sebesar 80% suara. Selain itu, sebesar 72% responden akan menyarankan anaknya untuk berkuliah di FEB UI dengan alasan ingin anak meneruskan perjuangan orang tua, FEB UI melatih hard-skill dan soft-skill secara seimbang, tempat terbaik di Indonesia untuk merintis karir di bidang ekonomi, dan masa depan terjamin. Responden yang menjawab tidak memiliki alasan diantaranya ingin membiarkan anak memilih jalan sesuai dengan minat, ingin anak berkarir di bidang lain seperti kedokteran dan teknik, serta ingin anak menempuh pendidikan di tempat yang lebih baik dari dirinya misalnya di luar negeri.

Orang-orang memiliki perspektif dan alasan masing-masing dalam setiap pengambilan keputusan. Perbedaan pendapat memunculkan perbedaan preferensi di masyarakat tentang apa yang dianggap dapat membantu dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kita memiliki kebebasan untuk memilih, namun pilihan yang kita pilih hari ini akan menentukan apa yang akan kita miliki, akan jadi apa kita nanti, dan apa yang akan kita lakukan di masa depan. Whatever will be, the future’s not ours to see. Sampai bertemu dengan masa depanmu!

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in