Grandma Test: Outcome Disparity (For Women with Disabilities)

gtest cynnn

Employment Outcomes among African American and White Women with Disabilities: Examining the Inequalities

Penulis                                 :

  • Ashmeet Kaur Oberoi, University of Illinois at Chicago
  • Fabricio Balcazar, University of Illinois at Chicago
  • Yolanda Suarez-Balcazar, University of Illinois at Chicago
  • L Fredrik G. Langi, University of Illinois at Chicago
  • Valentina Lukyanova, University of Illinois at Chicago

Nama Jurnal                       : Women, Gender, and Families of Color, Vol. 3, No. 2 (Fall 2015), pp. 144 – 164

Tujuan Penelitian            :

                Berdasarkan data dari U.S Bureau of Labor Statictic (2013) hanya 20,7% kaum disabilitas dengan rentang usia 18 – 64 tahun yang memiliki pekerjaan. Walaupun memiliki pekerjaan, mereka mendapat perlakuan yang berbeda dengan individu nondisabilitas khususnya dalam hal pemberian gaji. (Brault 2012). Ketimpangan ini semakin terlihat jelas saat dihadapkan pada kaum disabilitas yang minoritas dan bergender wanita.

Buktinya terlihat pada kaum disabilitas minoritas yang berasal dari Afrika-Amerika memiliki tingkat pengangguran tertinggi (20,8%), disusul dengan kaum disabilitas dari Spanyol (19%), kaum disabilitas berkulit putih (12,3%) dan kaum disabilitas dari Asia (11,8%). Wanita disabilitas yang berasal dari Afrika-Amerika (saat dibandingkan dengan wanita disabilitas berkulit putih) lebih banyak terperangkap dalam kemiskinan, rendahnya pendidikan dan pengalaman kerja dan berbagai hambatan lainnya yang membuat hasil pekerjaannya (outcome) menjadi berkurang. (Suarez-Balcazar et al.2013, 353 ; Suarez-Balcazar and Cooper 2005, 1282).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan outcome antara wanita Afrika-Amerika dan wanita berkulit putih yang tergolong kaum disabilitas setelah mendapatkan Vocational Rehabilitation (VR). VR adalah pelatihan dalam bentuk pekerjaan yang dapat dilakukan oleh anak-anak yang mengalami disabilitas yang bertujuan agar nantinya kemampuan tersebut dapat menjadi lapangan kerja bagi dirinya.

Metodologi:

Penelitian ini mengambil dari sample sejumlah 45,792 kasus yang diperoleh dari database Virtual Case-Management (VCM) pada negara bagian Widwestern dari periode July 2004 hingga December 2012. Setelah diseleksi kembali mendapatkan total 18.602 wanita berumur 18-65 tahun, 6.308 adalah Afrika-Amerika (33,9%) dan 12.294 (66,1%) adalah wanita berkulit putih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah logistic regression.

Variable demografi yang disertakan adalah ras (white-black), umur (18-35 tahun), status pernikahan (menikah, cerai, lainnya) dan lokasi geografi (pusat kota, pedesaan dll). Pendidikan tidak dimasukkan dalam variable karena perbedaan pendidikan antar sampel sangat sedikit sehingga tidak signifikan dalam regresi. Ada 9 tipe disabilitas primer yang menjadi indicator pada penelitian ini yaitu penyalahgunaan alcohol, tuna netra, tuna rungu, gangguan fisik, penyakit jiwa, cacat intelektual, ketidakmampuan belajar, cedera otak traumatis, dan kecacatan lainnya (gangguan komunikasi dan gangguan pernafasan).

Untuk menilai dampak dari pemberian program VR terhadap outcome kedua grup, kita melakukan regresi terhadap jumlah layanan yang diterima (daftar manual RSA-911 sampai 22 jenis layanan VR yang diberikan), jumlah hari dalam rencana program VR, dan pengeluaran untuk penyelesaian kasus. Penelitian ini juga menguji apakah perbedaan ras yang mempengaruhi outcome pekerja dipengaruhi juga oleh perbedaan usia, status pernikahan, penerimaan SSI (Social Security Income)/SSDI (Pendapatan Cacat Jaminan Sosial) dan pengeluaran kasus dengan memasukkan istilah interaksi untuk masing-masing model regresi. Tabel 1 menunjukkan karakteristik responden penelitian.

 1 2 3

Hasil Penelitian :

Peneliti memeriksa 45.792 kasus wanita Afrika-Amerika dan kulit putih yang tercatat telah ditutup proses VRnya di negara bagian tersebut. Istilah “penutupan” disini menunjukkan bahwa kasus tersebut telah selesai dan tidak akan berlanjut ke tahap berikutnya (jika ada).

 4

Figure 1 menunjukkan bahwa 29,6% wanita kulit putih memiliki pekerjaan setelah mendapat VR sedangkan wanita Afrika-Amerika hanya sebesar 17,6%. Sedangkan, proporsi wanita Afrika-Amerika yang tidak bekerja setelah mendapat VR teryata lebih tinggi (20,4%) daripada wanita berkulit putih (16,9%). Demikian pula, persentase lebih tinggi terjadi pada wanita Afrika Amerika yang ditutup sampai pada tahap rujukan (23,4 persen) dan pada tahap pengaplikasian (26,4 persen) dibandingkan dengan kasus wanita kulit putih (18,2 persen dan 21,8 persen). Alasan umum untuk penutupan kasus VR bagi wanita kulit putih dan Afrika Amerika adalah pekerjaan yang berhasil, tidak menemukan klien dan kegagalan untuk bekerja sama.

Menyangkut pengeluaran agen VR pada setiap kasus (lihat Tabel 1:Karakteristik Responden), ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah yang diterima oleh wanita Afrika-Amerika dan kulit putih dalam setiap kasus VR. Pengeluaran kurang dari $500 didominasi untuk wanita Afrika-Amerika yaitu sebesar 35,3% sedangkan wanita kulit putih hanya 25,2%. Namun, saat pengeluaran VR dengan jumlah $5.000 sampai $10.000 terjadi hal yang berkebalikan. Pada tingkat pengeluaran ini, wanita kulit putih lebih mendominasi penerimaannya yaitu sebesar 21,8% sedangkan wanita Afrika-Amerika hanya 15%.

5

Figure 2 menunjukkan informasi tentang 22 layanan yang tersedia untuk membantu mereka menemukan pekerjaan. Layanan yang paling banyak diterima oleh wanita dari kedua kelompok ini adalah layanan rehabilitasi dan bimbingan vokasional, informasi dan rujukan, bantuan penempatan kerja, bantuan mencari pekerjaan, dan penilaian.

6 7

Faktor Personal sebagai Indikator Hasil Ketenagakerjaan

Faktor pribadi yang menghasilkan hasil regresi yang signifikan adalah usia dan jenis disabilitas. Wanita Afrika Amerika memiliki peluang 32 persen lebih rendah untuk dipekerjakan dibandingkan dengan wanita kulit putih (OR = .68, p = .001). Usia antara 36 sampai 50 tahun memiliki kemungkinan 46 persen lebih tinggi untuk dipekerjakan dibandingkan dengan usia antara 18 dan 35 tahun (OR = 1,45, p = .001). Peneliti menemukan apabila dibandingkan antara wanita kulit putih dan wanita Afrika-Amerika dengan rentang usia 18-35 tahun, wanita Afrika Amerika memiliki kemungkinan 54% lebih sedikit untuk bekerja (OR = 0,68, p = 0,01).

Terkait dengan jenis kecacatan, wanita dengan penyakit jiwa memiliki kemungkinan 23% lebih rendah untuk dipekerjakan (OR = 0,77, p <.001) dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki penyakit jiwa, terlepas dari ras. Namun, mereka yang memiliki gangguan penyalahgunaan alkohol / zat (OR = 2,56, p = .027) dan cacat buta / visual (OR = 2,78, p <.001) lebih mungkin dipekerjakan daripada penyandang cacat lainnya. Wanita dari kedua kelompok ras yang menerima SSI / SSDI (jaminan social) memiliki 61% lebih kecil kemungkinan untuk dipekerjakan dibandingkan dengan konsumen wanita yang tidak mendapatkan SSI / SSDI (OR = 0,39, p <.001).

Faktor Lingkungan sebagai Indikator Hasil Pekerjaan

Beberapa dari 22 layanan VR merupakan prediktor kerja yang signifikan bagi wanita Afrika Amerika dan kulit putih. Layanan ini mencakup bantuan penempatan kerja, dukungan di tempat kerja, berbagai pelatihan, pemeliharaan, dan teknologi rehabilitasi bantuan. Wanita yang menerima bantuan penempatan kerja meningkatkan peluang kerja mereka sebanyak 2,2 kali (OR = 3,22, p <.001). Demikian pula, menerima dukungan berupa program on-the-job memperoleh 1,6 kali kemungkinan lebih tinggi untuk digunakan pada kedua kelompok ras (OR = 2,64, p <.001). Pelanggan VR yang menerima layanan perawatan berupa pengobatan psikiatri dan problem-solving dengan konselor VR, memiliki kemungkinan 1,4 kali untuk bekerja dibandingkan dengan mereka yang melakukan tidak mendapatkan layanan ini (OR = 2,24, p <.001).

Layanan VR lain yang dikaitkan dengan kemungkinan pekerjaan yang lebih tinggi adalah teknologi rehabilitasi, yang terdiri dari penerapan teknologi untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi hambatan yang dihadapi individu. Wanita yang menerima layanan teknologi rehabilitasi 1,5 kali lebih mungkin untuk bekerja dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan layanan ini (OR = 2,50, p <.001). Layanan lain yang terkait dengan kemungkinan pekerjaan yang lebih tinggi adalah penilaian, pelatihan on-the-job, keterampilan augmentatif terkait kecacatan, pelatihan aneka, bantuan pencarian kerja, juru bahasa, dan layanan lainnya.

Hasil regresi menunjukkan bahwa peningkatan jumlah uang yang dihabiskan untuk sebuah kasus dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih tinggi untuk memperoleh pendapatan. Kasus yang menerima antara $501 dan $1500 hampir 4 kali lebih mungkin untuk dipekerjakan dibandingkan kasus yang tidak menerima dana sama sekali. Demikian pula, kasus dengan pengeluaran dari $ 1.501 sampai $ 5.000 memiliki peluang kerja lima kali lebih tinggi dan yang menerima dari $ 5,001 sampai $ 10.000 memiliki peluang sepuluh kali lebih tinggi. Namun, hubungan positif ini mulai berkurang setelah pengeluaran lebih dari $10.000. Dana yang dikeluarkan lebih tinggi untuk sebuah kasus pada dasarnya berarti lebih banyak layanan disediakan atau layanan disediakan untuk jangka waktu yang lebih lama dan lebih sering. Namun apabila pengeluaran lebih tinggi dari $10.000, konsumen VR terindikasi memiliki kecacatan berat sehingga tidak bisa bekerja dan dana yang dikeluarkan tidak mampu menaikkan peluangnya dalam bekerja. Faktor terkait lainnya yang menyulitkan individu penyandang cacat berat untuk dipekerjakan adalah diskriminasi karena persepsi negatif lingkungan, riwayat pengangguran dan ketergantungan SSI / SSDI, yang membuat lebih sulit bagi mereka untuk memutus siklus.

Kesimpulan:

Dalam penelitian ini menemukan bahwa wanita Afrika-Amerika cenderung tidak bekerja setelah menerima dan berpartisipasi dalam program VR dibandingkan dengan wanita kulit putih. Selanjutnya, peneliti kami menemukan bahwa usia dan jenis disabilitas menjadi faktor signifikan dalam menentukan peluang bekerja di kedua kelompok wanita ini. Peneliti juga menemukan efek negatif bagi outcome wanita Afrika-Amerika yang menerima SSI / SSDI. Terdapat beberapa layanan VR yang efektif dalam meningkat kesempatan kerja yaitu program on-the-job, aneka pelatihan dan perawatan serta penerapan teknologi. Terkait dengan pengeluaran agen VR, hasilnya menunjukkan bahwa pengeluaran VR memiliki korelasi positif terhadap hasil pekerjaan namun kondisi ini tidak terjadi saat pengeluaran melebihi $10.000.

Peneliti berpendapat bahwa perempuan miskin, minoritas dan disabilitas memerlukan perhatian dan dukungan khusus untuk mengatasi berbagai hambatan yang mereka hadapi guna mencapai tujuan rehabilitasi, misalnya dengan cara :

(a) menerapkan pendekatan pemberdayaan terhadap pengelolaan kasus;

(b) membangun hubungan konseling dengan klien;

(c) memberikan dukungan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan kerja

(d) mendukung dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan;

(e) membantu pengusaha dalam memahami masalah kecacatan pekerja.

Diulas oleh: Ni Putu Cyntia Suryadewi staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2017

Ilustrasi oleh: Calista Endrina Dewi staff Biro Penerbitan dan Informasi Kanopi FEB UI 2017

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in