Grandma Test: The Monalisa Effect? Determinants of Prices and Sales of Artworks in Auction Markets

Untitled-2

Paintings and Numbers: An Econometric Investigation of Sales Rates, Prices, and Returns in Latin American Art Auctions

 

Pengarang    : Nauro F. Campos dan Renata Leite Barbosa

Tahun            : 2009

Nama Jurnal : Oxford Economic Papers, New Series, Vol. 61, No. 1 (Jan, 2013), pp. 28-51

 

Tujuan Penelitian

Dalam diskusi mengenai harga dan karakteristik pasar, terdapat pasar yang sampai sekarang masih menjadi subjek yang membingungkan. Ditambah itu, jenis produk yang ditawarkan dalam pasar tersebut pun seolah tidak sesuai dengan prinsip determinasi harga pada umumnya. Pasar yang menjadi subjek sentral dalam penelitian ini adalah pasar lelang untuk karya seni berupa lukisan. Dalam valuasi suatu karya seni, jika melihat dari segi fisiknya, harga cenderung identik dengan medium karya, ukuran, dan tema dari karya tersebut. Namun, analisis tersebut tidak dapat menjelaskan mengapa karya-karya tertentu dapat menembus harga sampai miliaran rupiah dan dirasa dapat menjadi sumber investasi yang baik karena adanya ‘masterpiece effect’.

Dalam pasar lelang, suatu lukisan dikatakan terjual apabila harga jualnya lebih tinggi dari harga yang ditawarkan oleh pelelang. Sebelum pelelangan dimulai, umumnya ahli seni pun mengeluarkan estimasi mereka tentang nilai dari lukisan-lukisan yang akan dijual. Selama ini, peniliaian ahli seni dinilai akurat dan dapat mempredikisi apakah harga jual dari suatu lukisan benar lebih tinggi dari harga yang ditawarkan oleh pelelang dan akhirnya terjual. Namun, karena tidak semua lukisan yang dilelang terjual, bagian pertama dari penelitian ini bertujuan untuk menelaah apakah benar valuasi dari ahli seni menjadi prediktor yang tepat, atau adakah prediktor yang lain. Selepas itu, penelitian ini pun hendak menjawab pertanyaan mengenai faktor-faktor apa saja yang menjadi penentu dari harga suatu lukisan, sehingga mungkin dapat menjelaskan harga lukisan yang melangit. Secara keseluruhan, penelitian ini relevan dalam diskursus ekonomi luas karena status karya seni yang dapat digunakan sebagai suatu medium investasi yang berpotensi menghasilkan keuntungan dari jual-belinya.

 

Data dan Metodologi

Cakupan data dalam penelitian ini cukup spesifik, dimana peneliti secara khusus memilih untuk melihat lukisan dari seniman Amerika Latin. Data set sendiri terdiri dari 1,640 lukisan yang dilelang oleh Sotheby’s di New York pada tahun 1995 sampai 2002. Informasi dasar mengenai lukisan seperti medium pengerjaan dan ukuran dapat diakses di database agen pelelangan. Adapun katalog-katalog yang dikeluarkan oleh Sotheby’s dan institusi yang bergerak di bidang seni lainnya yang mencantumkan informasi lebih detil mengenai latar belakang seniman, seperti tanggal lahir, tanggal kematian, asal negara, tanggal pengerjaan, serta dengan estimasi harga dari ahli seni.

Dalam bagian pertama dari penelitian ini yang bertujuan untuk mencari prediktor terjual atau tidaknya suatu lukisan dalam lelang, peneliti menggunakan estimator probit untuk melihat apakah estimasi dari ahli seni memiliki pengaruh terhadap ketidakterjualannya suatu lukisan. Variabel dependen dalam bagian pertama ini adalah terjualnya lukisan dalam lelang, dimana variabel kontrol ada banyak, termasuk estimasi harga dari ahli seni. Bagian kedua dari penelitian baru menggunakan regresi OLS untuk melihat faktor-faktor yang menentukan harga dari suatu lukisan. Model yang digunakan dalam analisis regresi tersebut adalah sebagai berikut:

g

g2

Term kedua disisi kanan model tersebut menandakan dampak dari karakteristik-karakteristik suatu lukisan terhadap harga jual, sedangkan term ketiganya menandakan pure price effects, atau perubahan harga sewaktu-waktu, dengan mengkontrol karakteristik-karakteristik tertentu dari suatu lukisan.

Konsep dasar yang menjadi fondasi dari penelitian ini adalah konsep hedonic price. Konsep tersebut mendasari penelaahan valuasi relatif dari konsumen terhadap karya seni. Model regresi pun digunakan untuk mengestimasikan fungsi dari hedonic price, atau secara simpel, harga dari suatu lukisan yang sesuai dengan valuasi konsumen dan mencakup berbagai karaktersitik intrinsik dan ekstrinsik.

 

Hasil Penelitian

Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh peneliti sendiri adalah apakah estimasi dari ahli seni tentang valuasi harga jual suatu lukisan dapat mempredikisi terjual atau tidaknya lukisan tersebut, atau adakah faktor penentu lain. Hasil dari estimasi probit tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut.

g3

Tabel 1. Hasil Estimasi Probit – Faktor Penentu Penjualan Lukisan

 

Dalam penelitian ini, dapat dilihat bahwa estimasi dari ahli seni ternyata tidak akurat sebagai prediktor probabilitas terjualnya suatu lukisan. Dalam regresi pertama yang mencakup variabel kontrol art expert’s estimate (estimasi ahli seni), exhbited (pernah atau tidaknya lukisan tersebut dipamerkan dalam pameran seni), Art books (pernah atau tidaknya ditampilkan dalam buku koleksi seni), dan sebagainya, tidak ada variabel yang signifikan dalam memprediksi terjual atau tidaknya suatu lukisan. Meskipun demikian, dalam regresi-regresi selanjutnya, terdapat penemuan menarik mengenai penjualan lukisan. Yang pertama, lukisan dengan medium watercolour mempunyai probabilitas lebih tinggi untuk terjual, yaitu sebanyak 34.8%-37%. Variabel tersebut pun terbukti signifikan dalam 4 kali regresi. Subjek dari lukisan pun mempengaruhi, dimana lukisan still-life, memiliki probabilitas terjual lebih tinggi sebanyak 36.5%-39.5% dibandingkan dengan potret seorang individu, atau lukisan landskap. Meskipun demikian, dengan nilai  yang sangat kecil, secara keseluruhan, masih banyak faktor lain yang tidak termasuk dalam estimasi tersebut.

Bagian selanjutnya dari penelitian ini menggunakan estimasi OLS yang sesuai dengan model yang dicantumkan di atas untuk melihat faktor-faktor apa saja yang menjadi penentu hedonic price dari lukisan oleh seniman Amerika Latin di pasar lelang. Hasil dari regresi tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

g4

Tabel 2. Hasil Regresi OLS – Faktor Penentu Hedonic Price Lukisan

 

Dari hasil tersebut, dapat terlihat penemuan-penemuan penting. Yang pertama, dari segi medium, lukisan dari cat minyak terbukti secara signifikan dalam 5 kali regresi, memiliki harga yang lebih tinggi. Pengaruh variabel tersebut pun paling besar, dimana apabila lukisan dibuat menggunakan medium cat minyak, harga lukisan tersebut dapat menjadi lebih tinggi sebanyak 52.6% sampai 67.9 %. Disamping itu, adanya tanda-tangan dari seniman malah memiliki pengaruh yang negatif terhadap harga jual suatu lukisan, meskipun signifikansinya berkurang dalam regresi ke-4 dan ke-5. Adapun faktor yang menjadi penentu adalah ukuran dari lukisan tersebut, dimana dapat terlihat untuk variabel log-area, variabel tersebut terbukti signifikan dalam 4 kali regresi, dimensi lukisan yang semakin luas akan membuat harga lukisan tersebut lebih mahal sebanyak 47.4% sampai 53.7%.

Dapat dilihat juga bahwa tema atau subjek suatu lukisan itu sendiri dapat berpengaruh terhadap harga, dimana lukisan still-life cenderung memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan lukisan lain. Adapun spesifikasi lain yang terbukti secara signifikan memiliki pengaruh negatif terhadap harga suatu lukisan, yaitu umur seniman dan jenis lukisan yang abstrak. Disini berarti karya oleh seniman yang muda lebih dihargai mahal. Adapun faktor-faktor lain yang secara positif berpengaruh terhadap harga suatu lukisan, yaitu apabila lukisan tersebut sudah pernah dipamerkan di pameran kesenian, masuk dalam katalog seni, dan dipampangkan dalam buku-buku seni.

Dari hasil estimasi hedonic price lukisan-lukisan, peneliti pun menyandingkan data tersebut dengan harga estimasi dari ahli seni serta harga yang ditawarkan oleh agen lelang dalam sebuah grafik yang dapat dilihat di bawah ini.

g5

Grafik 1. Perbandingan Harga Estimasi, Harga dari Agen, dan Hedonic Price

Dapat dilihat bahwa hedonic price, atau harga yang merupakan valuasi dari konsumen tidak memiliki variasi sebesar harga estimasi atau harga sebenernya dari lelang. Sedangkan harga sebenernya sangat fluktuatif, namun terdapat waktu dimana hedonic price lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan, seperti pada tahun 2001, dimana tahun tersebut menjadi tahun dimana investasi dalam lukisan dapat menjadi menguntungkan. Namun, secara garis besar, tren harga tetap naik, dan peneliti pun menghitung bahwa rata-rata keuntungan dari investasi dalam lukisan dari Amerika Latin pada tahun 1995 sampai 2002 adalah sebesar 5.23%.

 

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan dari penelitian ini, dapat dikatakan bahwa penilaian dari ahli seni amat tidak berarti dalam menentukan hedonic price dan valuasi dari konsumen akan suatu lukisan. Hal ini semakin mengedepankan fakta bahwa lukisan merupakan suatu produk yang subjektif dan tidak dapat secara benar-benar rasional dinilai. Bagi kolektor dan calon pembeli karya seni serta agen pelelang, hal ini berarti estimasi dari ahli seni tidak dapat digunakan sebagai suatu pembantu dalam keputusan untuk menjual atau membeli suatu lukisan. Namun, hal tersebut tidak semestinya membuat penjual maupun pembeli bingung karena dalam penelitiani ini, terlihat beberapa faktor penting yang menentukan harga suatu lukisan. Dalam membuat keputusan, faktor-faktor seperti medium, ukuran, subjek lukisan, serta sejarah ditampilkannya karya tersebut dalam buku atau pameran, dapat lebih membantu agar keputusan yang dibuat dapat semakin menguntungkan. Terlepas dari keputusan tersebut, tetap perlu diketahui bahwa meskipun ada tren investasi yang positif, karya seni bukanlah suatu investasi yang menghasilkan keuntungan yang besar dibandingkan dengan investasi lainnya seperti di bidang property. Hal ini berarti untuk investor awam yang lebih fokus dalam akumulasi kekayaan, berinvestasi dalam karya seni lukisan belum tentu menjadi pilihan investasi yang terbaik.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in