GRANDMA TEST: The Road to be A Winner

olympics full

WHY DO SOME COUNTRIES WIN MORE OLYMPIC MEDALS? LESSONS FOR SOCIAL MOBILITY AND POVERTY REDUCTION

Penulis            : Anirudh Khrisna dan Eric Haglund

Tahun              : 2008

Jurnal              : Economic and Political Weekly, Vol. 43, No.28 (Jul 12-18, 2008), pp.143 -151

Publisher         : Economic and Political Weekly

Tujuan Penelitian

Tidak semua orang dalam sebuah negara memiliki akses yang sama untuk mengikuti kompetisi olahraga. Beberapa orang tidak berpartisipasi karena tidak memiliki ketertarikan atau tidak mampu untuk melakukan kegiatan tersebut (mengalami disabilitas). Hal ini mempengaruhi tingkat partisipasi dan kesempatan dalam menenangkan kompetisi internasional. Penelitian ini melakukan observasi mengenai karakter suatu negara yang menjadi faktor penentu kesuksesan pada Olympic Games yaitu indikator kesehatan, pendidikan, dan tiga variabel mengenai informasi dan akses (panjang jalan per unit area tanah, proporsi populasi masyarakat kota, dan kepemilikan radio per kapita). Regresi model yang berbeda-beda digunakan untuk meneliti hubungan antara karakteristik sebuah negara dengan kesuksesan dalam Olympic Games.

Data dan Metodelogi

Tidak semua orang mendapatkan akses yang sama dalam mengikuti kompetisi olahraga dikarenakan faktor sosial, politik, maupun ekonomi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini terdapat konsep “effectively participating population”. Ukuran dari fraksi partisipan efektif beragam antar negara dari 0 sampai 1. Jika tingkat partisipasinya sangat baik maka mendekati 1, dan jika tingkat partisipasinya rendah maka mendekati 0. Tingkat partisipasi ini mempengaruhi perolehan medali dalam Olympic karena semakin tinggi tingkat partisipasi maka semakin besar kesempatan untuk meraih medali.

Analisis awal adalah peserta potensial Olympic Games secara random tersebar pada populasi. Jika faktor lain dianggap tetap, prediksi kemenangan bergantung pada proporsi populasi negara tersebut terhadap populasi global (dunia). Namun analisa ini tidak berlaku untuk India (dilihat dari tabel). Dari table terlihat bahwa ada lima negara yang over-achieved, 14 lainnya under-achieved, sedangkan satu negara yaitu Turki sesuai dengan prediksi. Pakistan, Bangladesh, Vietnam, dan Filipina tidak mendapatkan satu pun medali sedangkan India hanya memenangkan 1 dari 157 yang telah diprediksikan.

Model penelitian yang hanya memperhitungkan proporsi populasi negara terhadap populasi global belum bisa merepresentasikan penelitian ini karena mengabaikan faktor karakteristik yang lain. Bernard dan Busse (2004) berhasil membuktikan bahwa proporsi populasi dan GDP adalah faktor yang tepat untuk memprediksi performa suatu negara dalam Olympic Games. Kekayaan negara yang tercermin dalam besarnya GDP berperan sangat penting dalam memproduksi atlet-atlet bertalenta. Atlet di negara kaya cenderung memiliki fasilitas dan peralatan yang memadai sehingga lebih bisa memaksimalkan manfaat dibanding negara miskin.

Namun model populasi dan GDP juga belum mampu merepresentasikan secara penuh. Faktor-faktor lain juga harus diperhitungkan untuk melengkapi penjelasan dari penelitian. Penelitian harus mengeksplorasi mengapa dan bagaimana sumberdaya ekonomi dapat mempengaruhi hal tersebut. Bagi pembuat kebijakan pertanyaan penting muncul yaitu bagaimana mengalokasikan sumberdaya pada kegunaan yang tepat. Untuk menjawab pertanyaan ini, penelitian memasukkan 4 aspek lain yang berkontribusi dalam kesuksesan Olympic dengan memfasilitasi tingkat partisipasi yang lebih tinggi. Peneliti memperhitungkan aspek kesehatan, pendidikan, informasi publik, dan “physical connectedness”.

  1. Health Hypothesis

Tingkat kesehatan mempengaruhi performa seorang atlet dalam kompetisi olahraga internasional. Negara berperan penting dalam menciptakan populasi yang sehat. Walaupun iklim dan kondisi geografis mempengaruhi tingkat kesehatan suatu negara, namun kebijakan pemerintah lebih memegang peran penting dalam kesehatan publik. Analisis ini menggunakan tingkat harapan hidup sebagai indikator dalam merepresentasikan kesehatan publik. Hal ini karena tingkat harapan hidup juga dapat memperhitungkan efek dari HIV/AIDS dan penyakit pandemic lainnya dibandingkan indikator lain seperti tingkat kematian bayi.

  1. Education Hypothesis

Tingkat pendidikan mempengaruhi seorang atlet dengan dua cara. Pertama, ambisi seseorang dapat dibangun dengan pemberian pendidikan literatur, numerik, dan mengemukakan ide melalui proses pendidikan. Lalu fasilitas pendidikan juga mempertemukan seseorang yang bertalenta dengan pelatih yang dapat membantu mengembangkan bakat yang dia miliki. Dengan kata lain, pendidikan juga berperan dalam menemukan bakat-bakat yang berpotensi. Dalam hipotesis ini peneliti menggunakan tingkat partisipasi sekolah dasar.

  1. Public Information Hypothesis

Informasi publik juga dapat mempengaruhi ambisi seseorang. Seseorang yang memiliki bakat mungkin akan mulai bermimpi dan memiliki keinginan untuk menjadi seorang atlet setelah menonton tv, mendengarkan radio, atau membaca tentang dunia olahraga di koran. Peneliti menggunakan data penerima radio per 1000 penduduk sebagai indikator dalam menentukan level rata-rata informasi publik dalam suatu negara.

  1. Physical Connectedness

Bisa dibayangkan bahwa terdapat banyak orang dengan talenta luar biasa yang tinggal di daerah atau komunitas yang terisolir. Talenta mereka tidak pernah ditemukan dan mimpi mereka hanya terbatas pada lingkungan sekitar yang mereka tempati. Peneliti mengukur hipotesis ini dengan menjadikan proporsi masyarakat kota dan panjang jalan per 1000 hektar area tanah sebagai indikator.

Berikut adalah ketiga model dalam penelitian ini. Model 1 dan 2 adalah model penelitian terdahulu sedangkan model 3 adalah model baru yang disempurnakan oleh peneliti.

Model 1

MEDALPREDICTED = b0 + b1LOGOFPOPULATION

Model 2

MEDALPREDICTED = b0 + b1LOGOFPOPULATION + b2GDP

Model 3

MEDAL PREDICTED = b0 + b1LOGOFPOPULATION + b2GDP + b3LIFEEXPECTANCY + b4PRIMARYSCHOOLENROLLMENT + b5RADIOS + b6PERCENTURBAN + b7ROADS + b8HOSTCOUNTRY

Hasil Penelitian1
2

Untuk mengontrol perbedaan dalam GDP per kapita, peneliti memasukkan 4 aspek ini sebagai komponen model. Model 1 dan model 2 menunjukkan bahwa negara yang lebih besar dan lebih kaya akan memenangkan lebih banyak medali. Log populasi dan GDP memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perolehan medali. Model 1 hanya melihat dari besarnya populasi dan belum bisa menjelaskan variasi secara keseluruhan. Model 2 memperhitungkan besar populasi dan GDP per kapita namun juga belum bisa menjelaskan variasi lain. Setidaknya dari dua model ini peneliti menginterpretasikan bahwa sebuah negara dapat memenangkan 0,34% dari semua medali untuk setiap kenaikan 1% dari populasi. Meningkatkan GDP per kapita sebesar 1000 dollar dapat meningkatkan kesempatan memperoleh 0,06% dari semua medali. Pada model 3 dengan lebih banyak variable, GDP per kapita menjadi tidak signifikan. Dalam model 3 variable yang menunjukkan pengaruh signifikan adalah radio per 1000 populasi, proporsi masyarakat kota, dan dummy variable yaitu host country. Meningkatkan jumlah penerima radio sebesar 10 per 1000 populasi akan meningkatkan proporsi medali yang diperoleh sebanyak 0,02%. Model 3 berhasil menurunkan average discrepancy dari 31,1 (model 1) dan 17,6 (model 2) menjadi 12,65. Model 3 menunjukkan adanya hubungan collinearity antara tingkat harapan hidup, partisipasi pendidikan, dan kepemilikan radio dengan GDP per kapita karena variable-variabel tersebut meningkat secara bersamaan.

3

Model regresi selanjutnya menggunakan probit analysis dengan hasil sebagai berikut. Hasil menunjukkan variabel signifikan yang berbeda dari hasil sebelumnya yaitu jumlah populasi, GDP per kapita, dan jumlah penerima radio. Marginal effect dari menambah 1 radio per 1000 populasi sama dengan menambah GDP per kapita sebesar 17 dollar. Contoh yang dapat diambil adalah Jamaica, sebuah negara berpopulasi rendah, berpendapatan rendah, tetapi memiliki tingkat kepemilikan radio yang tinggi. Jamaica diprediksi tidak memenangkan satu pun medali tahun 1992 namun negara tersebut menangkan 5 medali pada 4 Olympic Games terakhir. Hal ini dikarenakan tingkat kepemilikan radio yang tinggi. Jamaica memiliki 430 radio per 1000 populasi (di atas median dari dunia yaitu 258). Portugal menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Negara dengan populasi banyak dan berpendapatan tinggi ini diprediksikan memenangkan 9 medali namun tidak memenangkan satu pun. Hal ini karena Portugal hanya memiliki 229 radio per 1000 populasi. Pada tahun 1996, Portugal mengalami kenaikan jumlah kepemilikan radio per 1000 populasi menjadi 303 (di atas median dunia yaitu 295) dan Portugal memenangkan 2 medali dari 10 medali yang diprediksikan. Tren yang sama juga terjadi di tahun 2002 dan 2004.

Pelajaran yang dapat diambil dari penelitian ini adalah pengentasan kemiskinan dan peningkatan kemakmuran yang tercermin dalam GDP per kapita penting untuk dilakukan. Namun kemiskinan memiliki beberapa keterbatasan untuk menjadi indikator pembangunan. Kemiskinan merupakan sebuah hal yang sulit didefinisikan dan diukur. Hal tersebut bersifat absolut (berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia) tetapi juga relatif (berkaitan dengan kemiskinan seseorang di mata orang lain). Usaha untuk mengurangi tingkat kemiskinan dalam skala agregat memunculkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab antara meningkatkan GDP atau jumlah populasi yang menempati sebuah negara. Sulit juga untuk mengidentifikasi apakah seseorang benar-benar lepas dari kemiskinan. Peneliti berpendapat bahwa dibanding pemerintah berfokus pada pengentasan kemiskinan sebagai tujuan dari pembangunan, sebaiknya pemerintah juga memperhatikan penyediaan informasi dan akses yang lebih baik untuk masyarakat dalam meraih kesempatan yang sama. Hal ini juga dapat mendorong distribusi kekayaan yang lebih merata di masyarakat.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in