Grandma Test: Gross Domestic Sadness?

GDS panjang

Gross Domestic Sadness? – The Relationship between Suicidal Behaviour and Productive Activities of Young Adults

 

Pengarang      : Erdal Tekin dan Sara Markowitz

Tahun               : 2008

Nama Jurnal  : Southern Economic Journal, Vol. 75, No. 2 (Oktober 2008), pp. 300-331

 

Tujuan Penelitian

Tingkat bunuh diri dalam kaum pemuda telah mencapai tingkat kritis terutama di Amerika Serikat, dimana untuk golongan usia tersebut, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga paling banyak. Realita bunuh diri tentunya memberikan dampak buruk bagi orang yang terkait dan bahkan dapat menjadi beban bagi perekonomian. Dalam penelitian ini, peneliti bertujuan untuk mencari bukti konkrit dari hubungan antara suicidal behavior atau kecenderungan bunuh diri dan dampak terhadap school and labour market outcomes, dua aspek yang dinilai berperan penting dalam produktifitas sumber daya manusia (SDM) dalam sebuah ekonomi. Kecenderungan bunuh diri ini dinilai bisa mempengaruhi school and labour market outcomes karena individu-individu dengan kecenderungan tersebut acap kali mengalami kehilangan kredibilitas di tempat kerja, performa kognitif yang lebih kecil, absenteisme tinggi, dan gangguan lain dalam pekerjaan – semua hal yang mempengaruhi produktifitas dan kontribusi mereka terhadap perekonomian. Peneliti menelaah secara spesifik golongan pemuda karena mereka tergolong usia produktif dan dalam masa dimana ada investasi besar terhadap performa mereka sebagai SDM. Terkait kecenderungan bunuh diri itu sendiri, peneliti mengklasfikasinya menjadi dua: suicidal thoughts atau pemikiran untuk bunuh diri, dan suicide attempt atau percobaan bunuh diri, dimana dirasa hal yang kedualah yang merupakan isu yang lebih menekan.

Data dan Metodologi

Peneliti menggunakan data sekunder untuk penelitian in yang didapatkan dari National Longitudinal Study of Adolescent Health. Lembaga tersebut melakukan survei dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dilakukan tahun 1994 dan 1995 kepada 20,745 remaja di kelas 7 sampai 12, dimana 200 sampel dipilih secara acak dari masing-masing 132 sekolah, yang merepresentasikan wilayah, urbanisitas, ukuran sekolah, jenis sekolah, dan kelompok etnis. Sampel tersebut diwawancarai untuk gelombang kedua di tahun 1996, dan untuk gelombang ketiga pada tahun 2001 dan 2002.

Dengan menggunakan data tersebut, peneliti menjalankan analisis regresi linear menggunakan metode OLS untuk memperlihatkan hubungan antara kecenderungan bunuh diri dengan indikator produktifitas. Peneliti pun mengestimasi efek pemikiran untuk bunuh diri serta percobaan bunuh diri terhadap probabilitias seseorang untuk berperan aktif dalam lapangan pekerjaan maupun untuk bersekolah. Model yang dipakai adalah sebagai berikut:

1

Seperti yang dapat dilihat melalui persamaan di atas, variabel dependen untuk analisis regresi linear adalah indikator dikotomis akan aktifnya seorang individu dalam aktifitas produktif, yang mencakup bekerja dan/atau bersekolah. Dalam estimasi di atas, peneliti juga menggunakan variabel khusus bunuh diri (, yang tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan spesifik mengenai pemikiran untuk bunuh diri maupun percobaan untuk bunuh diri. Pendekatan melalui aspek suicidal thoughts dan suicidal behavior memungkinkan penelita untuk melihat tingkat dampak yang berbeda untuk tingkat kecenderungan bunuh diri yang berbeda pula.

            Penelitian ini sendiri dapat memungkinkan adanya dua sumber endogenitas: endogenitas statistik dan endogenitas struktural. Endogenitas statistik berasal dari faktor-faktor yang meskipun tidak tercatat, memiliki korelasi dengan schooling/labour market outcome maupun suicidal behavior. Faktor-faktor tersebut terkait latar belakang personal dan keluarga dari responden. Endogenitas struktural sendiri berasal dari kemungkinan kausalitas terbalik antara schooling/labour market outcomes dan suicidal behavior. Oleh karena itu, peneliti menggunakan beberapa variabel kontrol yang sekiranya dapat mengeliminasi faktor yang tidak tercatat. Peneliti juga menggunakan vektor fixed effects dalam state of residence atau negara bagian, dan sekolah untuk mengkontrol kejadian tertentu di sekolah atau negara bagian masing-masing yang dapat mempengaruhi kecenderungan bunuh diri maupun kegiatan produktif.

            Variabel-variabel yang dimasukkan dalam konsiderasi vektor karakteristik personal dan keluarga dan vektor state fixed effect termasuk agama, kesehatan jasmani, pernah menjadi korban penyiksaan atau tidak, tinggal di panti asuhan atau tidak, memiliki ayah yang dipenjara, penggunaan kokain, penggunaan ganja, dan ras. Sedangkan variabel-variabel yang termasuk dalam vektor school fixed effect termasuk masalah dengan guru, pernah mengulang tingkat, pernah di skors, merasa dekat dengan orang di sekolah, dan masalah dengan sesama murid. Melihat kecenderungan bunuh diri seringkali diasosiasikan dengan penyakit mental seperti depresi, gejala depresi juga dimasukkan sebagai variabel. Dengan menggunakan variabel-variabel tersebut yang meskipun banyak, peneliti dapat mengurangi jumlah faktor yang tidak tercatat yang dapat menimbulkan bias.

Hasil Penelitian

Peneliti melakukan analisis regresi OLS sebanyak dua kali, yang pertama terkait suicide thoughts dan yang kedua terkait suicide attempts. Regresi pun dilakukan 5 kali dimana dalam setiap percobaan, peneliti menambahkan variabel kontrol yang digunakan. Berikut adalah hasil estimasi OLS terkait suicide thoughts dengan variabel-variabel terpilih.

3

4

Sedangkan hasil estimasi OLS terkait suicide attempt dengan variabel-variabel terpilih adalah sebagai berikut:

67

Sebelum melihat lebih seksama variabel-variabel manakah yang berpengaruh hebat terhadap indikator probabilitas seseorang untuk aktif dalam kegiatan produktif (bekerja dan bersekolah), dapat dilihat bahwa adanya pemikiran untuk bunuh diri maupun percobaan bunuh diri diasosiasikan dengan penurunan probabilitas seseorang untuk produktif. Pemikiran untuk bunuh diri hanya menurunkan probabilitas tersebut sebanyak 3% sampai 5%, sedangkan percobaan bunuh diri mengurangi sebanyak 9% sampai 12%.

Hal selanjutnya yang patut ditelaah adalah terkait dampak dari variabel kontrolnya. Meski sudah menggunakan banyak variabel kontrol dalam regresi pertama hingga regresi ke-lima, pengurangan efek suicide thought maupun suicide attempt tidaklah begitu besar. Hal ini berarti endogenitas hanya berdampak kecil dan faktor-faktor latar belakang individu dan keluarga, faktor sekolah, serta penggunaan narkoba tidak berpengaruh banyak.  Meskipun variabel kontrol tersebut banyak yang signfikan secara statistik, mereka tidak dapat menggambarkan bahwa variabel yang dikeluarkan ada korelasinya dengan suicidal thoughts. Jadi, yang bener-bener mempengaruhi dalam model ini hanyalah keadaan suicidal thought dan suicidal attempt. Tentunya, variabel kontrol tersebut tetap dapat berpengaruh melalui pengaruh mereka terhadap suicidal behavior individual.

            Meskipun demikian, tetap saja variabel yang terbukti signifikan secara statistik memiliki interpretasi tersendiri. Variabel gender pria terbukti berpengaruh positif terhadap probabilitas kegiatan produktifitas dan signifikan dalam semua percobaan. Variabel lain yang berdampak positif terhadap school/labour market outcomes termasuk memiliki nilai yang tinggi dalam ujian berstandar, memiliki ibu yang berpendidikan dan sehat secara jasmani. Sedangkan jika seseorang pernah tinggal di panti asuhan, memiliki ayah yang di penjara, maupun pernah mengulang tingkat, pernah di skors, pernah kabur dari rumah, tidak beragama, terdiagnosis dengan depresi, hal tersebut memiliki asosiasi negatif dengan persekolahan dan pekerjaan dan ternyata signifikan secara statistik.

            Adapun variabel-variabel yang dinilai akan berdampak secara signifikan, seperti percobaan bunuh diri anggota keluarga lainnya, penggunaan narkoba, konsumsi alkohol, dan merupakan ras non kulit putih, ternyata terbukti tidak signifikan. Kebanyakan variabel yang tidak signifikan dirasa mempengaruhi school/labour market outcomes melalui kecenderungan bunuh diri individu.

Kesimpulan dan Saran

Setelah melihat hasil dari penelitian ini, dapat dilihat bahwa memang benar kecenderungan untuk bunuh diri memiliki implikasi yang negatif terhadap school/labour market outcomes. Orang-orang dengan kecenderungan bunuh diri tidak akan seproduktif dalam pekerjaan maupun bersekolah dibandingkan dengan orang tanpa kecenderungan tersebut. Persentase penurunan probabilitas yang tidak kecil pun mengatakan bahwa realita bunuh diri ini memang sangat mendesak. Dengan tidak mampunya mereka untuk berpartisipasi secara produktif sebagai bagian dari SDM sebuah negara, ada kemungkinan mereka pun tidak dapat mencapai pencapaian yang berarti dalam pendidikan maupun pekerjaan, tidak dapat mendapatkan pekerjaan yang layak, dan tidak dapat menerima gaji yang tinggi. Kondisi ekonomi orang-orang tersebut pun kemungkinan menjadi memprihatinkan. Hal ini pun bisa mengeskalasikan kecenderungan mereka untuk bunuh diri dan menjadikan mereka terperangkap dalam siklus bunuh diri dan kehidupan yang tidak sejahtera. Dari sisi makro, dapat disimpulkan pula bahwa ada potensi kontribusi dari SDM yang tidak tersalurkan secara maksimal karena realita bunuh diri ini. Pada akhirnya, tidak hanya individu yang terkena dampaknya, tapi juga negara secara keseluruhan. Karena demikian, diperlukan perhatian yang lebih khusus bagi para penderita gangguan mental dan orang yang mengalami kecenderungan bunuh diri ini. Usaha dapat diupayakan dalam bentuk terapi, rehabilitasi, konseling, dan program-program lain yang sekiranya dapat menumbuhkan rasa kecintaan terhadap hidup dan mengurangi pemikiran buruk. Akan lebih baik pula apalagi ada program edukasi kepada masyarakat luas karena sekarang, masalah gangguan mental dan realita bunuh diri masih menjadi stigma tersendiri.

Diulas oleh: Dominic Pradana, Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2017

Ilustrasi oleh: Giani Raras, Ketua Divisi Penerbitan dan Informasi Kanopi FEB UI 2017

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in