Economic Talk and Discussion (ETD): Financial Technology and Integrated Payment in Indonesia


IMG_3023

Economic Talk and Discussion atau disingkat menjadi ETD adalah agenda baru dari Biro Hubungan Luar dan Divisi Kajian KANOPI FEB UI yang berupa pemaparan akan suatu isu terkini oleh pembicara yang handal di bidangnya dilanjutkan dengan diskusi mendalam dari para peserta. Diskusi ini bertujuan untuk membahas permasalahan yang ada secara kritis serta mencari solusi yang tepat berdasarkan pemaparan sebelumnya. Pada tahun ini, ETD dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Mei 2017 bertempat di Ruang PGN Departemen Ilmu Ekonomi dan mengangkat tema “Electronic Money”. Isu ini sedang marak diperbincangkan karena banyaknya program-program yang dilakukan pemerintah dan perbankan untuk bertransaksi tanpa uang tunai seperti pada GTO dan Commuter Line.

Acara ini terbuka untuk publik. Beberapa yang hadir diantaranya adalah dari khayalak UI, IPB, hingga Universitas Padjajaran. Pembicara ETD kali ini adalah Bapak Rahmat Broto Triaji, selaku Group Head of e-Banking Mandiri dan Bapak Junanto Herdiawan, Acting Head of Financial Technology Office Bank Indonesia yang sedang berfokus dengan Cashless Society. Pemaparan dilakukan secara interaktif dengan sesi tanya jawab dan para peserta nampak antusias. Diakhir pemaparan bapak junanto mengadakan games yang disambut meriah dengan hadiah e-money.

Berikut adalah kesimpulan dari pemaparan materi Economic Talk and Discussion oleh pembicara:

Pemaparan materi oleh Bapak Rahmat Broto Triaji:

  • Bank awalnya gambarannya birokrasi yang ribet, tetapi sekarang akan didisrupt kalau masih seperti itu.
  • Bank harus berinovasi dan menyediakan layanan digital banking.
  • Di Bank Mandiri, hanya 5% transaksi dilakukan scr fisik, dari datang ke bank. 95% secara digital, dari ATM, internet banking, dll.
  • Sistem pembayaran di Indo:
    • High Value Payment System
    • Medium Value Payment System
    • Retail
  • Pembayaran micro-payment lebih dari 90% masih menggunakan uang tunai. 45% atau Rp500T transaksi ritel didominasi micropayment (<Rp100.000), banyak micro-payment masih terjadi di sektor transportasi.
  • Transaksi tunai membutuhkan biaya yang besar:
  1. Bank Indonesia: perlu untuk mencetak setiap beberapa tahun, lama-lama lecek
  2. Pedagang/Merchant: Marga di ruas tol membutuhkan hampir 2M/hari untuk kembalian.
  3. Masyarakat: Repot bawa di dompet.
  • Bank secara sendirinya ngga mampu untuk menjangkau orang-orang unbanked dari membuka cabang. Membuka cabang sangat mahal, untuk membuka saja 1m, biaya pemeliharan ratusan juta. Lebih mudah dengan membuka ATM. Lebih murah lagi menggunakan internet/mobile banking, bahkan tidak ada cost karena biaya (gadget, internet) ditanggung masyarakat.
  • Bank menjangkau unbanked dengan bekerja sama dengan non-bank institutions, seperti warung.
  • Friedrich Schneider, Ph.D “Increasing electronic payments by 10% can lead to a decline in the size of the shadow economy by up to 5%.” Shadow economy = tidak tercatat di PDB.
  • Konsep e-money mengikut konsep uang tunai biasa:
  1. tanpa nama
  2. uang hilang tidak diganti
  • Keunggulan:
  1. mudah disimpan
  2. mudah dipakai
  3. modern lifestyle
  4. bisa dimonitor penggunaannya
  • Jenis e-money:
  1. Chip based (offline)
  2. Server based (online)
  • Bank perlu dapat menyediakan layanan-layanan yang fintech bisa sediakan.
  • Bank Mandiri kerjasama dengan LINE. Nomor HP yang didaftarkan sebagai rekeningnya. Setor uang bisa di Indomart, Alfamart, dll. Bisa dipakai untuk beli stiker LINE, LINE shopping, LINE games, dll. tanpa perlu ke bank.
  • Pertumbuhan uang elektronik mulai melebihi kartu kredit dan kartu debit.
  • Mendorong penggunaan electronic money dapat melalui carrot (insentif) atau stick (hukuman).
  • Permasalahan cukup besar di masalah standarisasi. Standar e-money dari Bank Mandiri beda-beda dengan e-money yang dikeluarkan bank-bank lain. Misal: E-Money Mandiri tidak bisa digunakan di merchant yang hanya mengakodomasi BCA. Berbeda dengan kartu kredit dan debit dimana ada standarisasi Visa dan Master.
  • Bank Mandiri mencoba mendorong model di mana dari penggunaan e-money, merchant perlu membayar fee 1-2% ke bank atas benefit yang ia dapat dari convenience e-money (tidak perlu menghitung, asuransi kas, dll.)
  • Bank Mandiri mau bekerja sama karena sudah bank besar. Misal dengan Jasamarga, karena Jasamarga juga salah satu debitur Bank Mandiri. Bank kecil belum masuk.
  • Dari 15jt yang menjadi nasabah Bank Mandiri, tingkat transaksi e-moneynya bisa 3-4 kali lipat.
  • Pengalaman Bank Mandiri:
  1. Kartu yang diterbitkan sudah 9 juta. Penggunaannya 82% di tol, transportasi 12%, minimarket 3% dan parkir 3%.
  2. Transaksi kartu lebih dari 1.5 juta per hari.
  • Lokasi/sarana top up: ATM, aplikasi e-money, retail merchant, halte busway, gardu tol, cabank bank, self-service terminal
  • National Payment Gateway (NPG): kebijakan yang mengatur interoperabilitas. Ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat ke uang elektronik dan efisiensi sistem pembayaran micropayment, contoh: bagaimana satu kartu bisa digunakan di semua merchant.
  • Ruang lingkup:
  1. itnerkonteksi dan interopabilitas instrumen pembayaran
  2. channel pembayaran
  3. alat pembayaran yang diterbitkan oleh bank domestik harusnya diproses secara domestik

Pemaparan materi oleh Bapak Junanto Herdiawan:

Teknologi telah berdampak terhadap apapun yang telah ada, seperti media, film, musik, telekomunikasi, perdagangan, transportasi, pendidikan, percetakan dan finansial. Payment system selalu mengalami evolusi dari barter, currency, paper-based, digital currency (seperti bitcoin). Pemaparan bahwa “yang dibutuhkan masyarakat adalah jasa pelayanan dari bank, bukan banknya” merupakan poin yang membuat Fintech menarik.

  1. what is fintech? financial services yang digabungkan dungeon teknologi yang membuat sebuah model bisnis yang baru dan menciptakan berbagai keuntungan untuk konsumen, produsen, dan pemerintah
  2. What are the effects of fintech? terjadi shifting dr inovasi perbankan dr bank ke konsumen, mengubah sistem institusi finansial yang sudah ada secara kolaboratif.
  3. What are fintech business models? Market provisioning (traveloka, zomato), Investment and risk management (buat investasi gtgt secara online), Deposit Lending (peer to peer landing, mau nyumbang atau credit gt melalui fintech), Payment and settlement (pembayaran belanja online)
  4. How is the growth of fintech industries in Indonesia? Ada 142 fintech di Indonesia saat ini
  5. Do the authority need to take further action? BI meregulasi fintech agar keamanan terjamin, stabilitas finansial, cyber security, stabilitas moneter, transparansi pembayaran, dll. -> BI Finch Office (baru 6 bulan): Kerjanya ya memonitor fintech dengan menjadi facilitator, researcher, coordinator, etc. BI memiliki banyak regulasi, namun BI lebih kearah mendorong pertumbuhan fintech melalui kebijakan “Sandbox” yaitu “terserah main disitu ngapain aja, selama dalam pengawasan dan mengikuti aturan” sampai siap untuk dilepas
  6. Is there any opportunities? Semakin banyak org yg menggunakan e-money (data tahun 2016: 49%), Tetapi, masih ada budaya orang indonesia yang menjadi gap, yaitu kebiasaan menggunakan cash.

IMG_3112

Setelah sesi pemaparan dan tanya jawab dengan pembicara, peserta melanjutkan diskusi di Selasar Lembaga Demografi FEB UI dengan membuat beberapa kelompok berisi 8 orang yang dipandu oleh moderator dari Kanopi FEB UI untuk mendiskusikan pendapat serta rekomendasi kebijakan. Agar kedepannya, electronic money tidak hanya terdapat di kota-kota besar serta mencari katalis solusi untuk mempercepat prosesnya. Seusai diskusi, perwakilan dari masing-masing kelompok kemudian menyampaikan rekomendasi yang telah dirangkum ke seluruh peserta.

Salah satu inti dari materi ini adalah bahwa electronic money penting untuk mempercepat proses transaksi hingga mengurangi kebocoran uang yang beredar. Namun permasalahan yang paling vital adalah kurangnya pengetahuan yang dimiliki masyarakat indonesia serta mahalnya biaya untuk infrastruktur serta jaringan apabila ingin merambah ke daerah-daerah diluar kota besar. Salah satu solusi untuk menangani masalah ini adalah dengan all in one card and machine.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in