GRANDMA TEST: HAPPINESS EXISTS! EVEN IN TIMES OF CRISIS

semuaaaa

The Impact of Economic Crisis on Happiness

 

Penulis             : Dora Gudrun Gudmundsdottir

Tahun               : 2009

Nama Jurnal : Social Indicators Research. Vol. 110, No. 3 (2013), pp. 1083-1101

 

Tujuan Penelitian                              

Penelitian ini dilakukan di Islandia dan bertujuan untuk mencari tahu apakah terdapat pengaruh yang signifikan di antara terjadinya krisis ekonomi di suatu negara terhadap kebahagiaan dari penduduk yang mendiami negara tersebut. Selain itu penelitian ini juga berusaha mencari tahu golongan manakah yang paling terpengaruh dari adanya krisis ekonomi yang terjadi di Islandia pada tahun 2008. Jatuhnya tiga bank besar di Islandia kala itu, akibat bank-run yang dilakukan nasabah Islandia dan luar negeri mengakibatkan bank-bank tersebut dilikuidasi dan tidak mendapatkan bail-out dari pemerintah. Hal inilah yang menjadi penyebab utama krisis yang terjadi di Islandia pada tahun 2008.

Sudah terbentuk sebuah kepercayaan di tengah masyarakat bahwa krisis ekonomi akan menyebabkan penurunan subjective wellbeing dari manusia. Studi sebelumnya mengatakan bahwa tingkat pendapatan memiliki hubungan terhadap kebahagiaan, dan tingkat pengangguran memiliki hubungan terhadap ketidakbahagiaan. Namun, penelitian mengenai penurunan tingkat pendapatan dengan ketidakbahagiaan belum mendapatkan perhatian yang serius, oleh sebab itu, penelitian ini juga ingin mencari tahu adakah hubungan yang signifikan diantara penurunan tingkat pendapatan terhadap kebahagiaan.                                                                                                               

Metodologi

            Peneliti menggunakan data penelitian yang dikumpulkan oleh Public Health Institute of Iceland (PHI) tahun 2007 dan 2009 yang melakukan survei mengenai kesehatan dan kesejahteraan kepada para warga yang berumur 18-79 tahun dan menetap secara permanen di Islandia. Untuk mengetahui perubahan variabel tersebut dari 2007 ke tahun 2009, tambahan data mengenai studi ekonomi dan kesejahteraan ditambahkan dan terdiri dari empat independent samples.

Kebahagiaan diukur melalui pertanyaan “Seberapa bahagia anda?” dan responden dapat memberikan jawabannya dari skala 1 (sangat tidak bahagia) hingga 10 (sangat bahagia). Faktor sosio-demografi yang mungkin dapat mempengaruhi kebahagiaan juga dimasukkan dan menggunakan data yang digunakan pada studi sebelumnya. Tingkat edukasi, status pernikahan, pendapatan, kesulitan finansial, hubungan sosial, dan kesehatan juga dimasukkan sebagai data yang mungkin dapat mempengaruhi kebahagiaan.Untuk mengetahui faktor apakah yang paling mempengaruhi kebahagiaan secara signifikan, multiple regression analysis digunakan. Variabel yang sifatnya kualitatif dikategorisasi menjadi dua level variabel (variabel dummy). Untuk mengukur perubahan kebahagiaan, peneliti mengurangi tingkat kebahagiaan pada 2009 dengan tingkat kebahagiaan pada tahun 2007. Selanjutnya, dapat kita ketahui golongan manakah yang kebahagiannya berkurang, meningkat, ataupun tidak terpengaruhi secara signifikan. Uji statistik berupa pearson correlation test juga digunakan untuk melihat adakah hubungan diantara factors dengan happiness. Metode ini juga digunakan untuk melihat kebahagiaan golongan manakah yang paling terpengaruh akibat krisis ekonomi yang terjadi di Islandia.

Hasil Penelitian

            Berdasarkan hasil uji statistik dengan metode pearson correlation test, dapat dilihat pada tabel 2, bahwa yang paling terpengaruh akibat krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2008 di Islandia adalah mereka yang memiliki kesulitan dalam mendapatkan akses finansial dimana correlation of significance mereka turun dari .23 menjadi -.19. Adapun variabel gender tidak terlihat sangat terpengaruhi oleh krisis ekonomi yang terjadi pada kala itu di Islandia. Dapat dilihat kebahagiaan dari variabel pengangguran justru mengalami peningkatan. Mengapa? Untuk beberapa kasus, menjadi pengangguran akan mengurangi tingkat pendapatan yang dapat mengurangi tingkat kebahagiaan seseorang, namun untuk kasus di Islandia, setiap pengangguran mendapatkan manfaat berupa tawaran untuk menjadi bagian dari suatu aktivitas sosial. Hal ini membuat mereka tetap aktif dan menjadi tetap bahagia, meskipun tidak dapat digeneralisasi. Fakta selanjutnya, diketahui dari studi sebelumnya, setiap pertambahan 1% dalam tingkat pengangguran, maka akan menyebabkan peningkatan sebesar .79% tingkat bunuh diri. Namun, pada tahun 2007 sampai 2009, meskipun angka pengangguran meningkat, tingkat bunuh diri justru tidak meningkat dikarenakan alasan yang sama mengapa tingkat kebahagiaan di kalangan pengangguran tidak mengalami penurunan.

1

            Namun, penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa  tidak ada pengaruh yang signifikan diantara krisis ekonomi yang terjadi dengan tingkat kebahagiaan. Dapat dilihat dari tabel 6 dibawah menunjukkan angka yang tidak terlalu berarti.
2

Kesimpulan

            Meskipun Islandia mengalami krisis ekonomi dan masyarakatnya kehilangan kepercayaan terhadap institusi keuangan dan pemerintah, evaluasi yang dilakukan terhadap masyarakat mengenai kebahagiaan mereka, tidak ada perubahan yang signifikan setelah adanya krisis. Berbagai alasan yang bisa menjadi alasan yang mendasari fenomena ini ialah kedekatan terhadap sanak-keluarga dan orang terdekat lainnya (faktor non-ekonomi). Namun, apabila melihat variabel manakah yang paling terpengaruh akibat adanya krisis, dapat dilihat bahwa mereka yang digolongkan  memiliki kesulitan dalam mendapatkan finansial menjadi golongan yang paling terpengaruh. Oleh sebab itu, dengan penelitian yang telah dilakukan ini, terdapat beberapa anjuran yang harus dilakukan oleh pemerintah, selain mencari cara untuk melibatkan jumlah pengangguran yang mungkin bertambah ke dalam suatu aktivitas, memberikan kemudahan bagi mereka yang memiliki kesulitan dalam akses finansial juga harus menjadi poin utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

Diulas Oleh: Aby Dwi Prasetya, Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2017

Ilustrasi Oleh: Sekar Sanding Kinanthi, Wakil Kepala Biro Penerbitan dan Informasi Kanopi FEB UI 2017

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in