Grandma Test: Will You Marry Me? *IF THERE WAS NO RECESSION

KANOPI_GrandmaTestWedding

For Richer, If Not Poorer? Marriage and Divorce Over The Business Cycle

Pengarang     : Jessamyn Schaller

Tahun              : 2013

Nama Jurnal : Journal of Population Economics, Vol. 26, No. 3 (July 2013), pp. 1007-1033

Tujuan Penelitian

Pada tahun 2009, marriage rates dan divorce rates mencapai titik terendah dalam sejarah Amerika Serikat setelah 5 dekade. Pada tahun 2009 juga, Amerika Serikat sedang melalui “The Great Recession” dimana unemployment rates pun mencapai titik tertinggi dalam 26 tahun. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat ini bertujuan untuk mencari tahu efek dari siklus ekonomi/siklus bisnis kepada tren pernikahan dan perceraian. Penelitian ini hendak melihat apakah fluktuasi makroekonomi mempengaruhi keputusan orang-orang mengenai formasi maupun disolusi institusi pernikahan atau marriage rates dan divorce rates yang mengalami penurunan ini hanya serta merta merupakan kelanjutan dari penurunan yang sudah terjadi selama berdekade-dekade. Penelitian ini juga melihat apakah efek unemployment rates terhadap marriage rates dan divorce rates bersifat permanen atau temporer. Hal ini menjawab pertanyaan apakah dampak siklus bisnis terhadap marriage rates dan divorce rates merupakan dampak langsung atau hanya berdampak terhadap pemilihan waktu saja, dimana mungkin pasangan-pasangan hanya akan menunda pernikahan atau perceraian. Dalam penelitian ini, peneliti pun melihat tren khusus dalam variabel ras dan umur.

Data dan Metodologi

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan data dari tingkat negara bagian yang mencakup 32 tahun dari tahun 1978 ke tahun 2009. Data yang digunakan pun merupakan vital statistics data dan bukan survey data. Hal ini berarti data yang didapatkan mencerminkan total jumlah pernikahan dan perceraian untuk setiap negara bagian yang melaporkan. Peneliti melihat pernikahan dan perceraian yang terjadi di setiap negara bagian dan oleh karena itu, peneliti sengaja tidak memasukkan data dari Nevada dan Hawaii karena proporsi pernikahan di negara-negara bagian tersebut banyak yang bukan penduduk negara-negara bagian tersebut. Marriage rates dan divorce rates dihitung menggunakan populasi yang beresiko: wanita single untuk marriage rates dan wanita menikah untuk divorce rates. Marriage rates pun dihitung sebagai jumlah pernikahan per 1000 wanita single dan divorce rates sebagai jumlah perceraian per 1000 wanita menikah.

Sebagai indikator makroekonomi, peneliti menggunakan state unemployment rate yang merupakan tingkat agregat sehingga turut mengikutsertakan status dari pasar tenaga kerja potensial dan bukan hanya status dari pasar tenaga kerja dari seorang individu.

Tren agregat dalam marriage rates, divorce rates, dan unemployment rates untuk period sampel ditunjukkan dalam Figur 1 yang merupakan grafik detrended. Grafik detrended ini berarti efek-efek linear trend sudah ditiadakan sehingga hanya menunjukkan perubahan nilai yang mutlak untuk memudahkan potensi pola siklikal untuk dapat diidentifikasi. Disini, jelas bahwa marrriage rates dan divorce rates menunjukkan tren penurunan, pola yang jelas dalam hubungan antara de-trended marriage rates dan unemployment rates sulit untuk dilihat.

aa

Fig 1. Marriage Rates, Divorce Rates dan Unemployment Rates. Panel (b) dan (d) menunjukkan linearly-detrended series

Scatter plot dasar dari data-data yang dikumpulkan diperlihatkan dalam Figur 2 dimana panel (a) dan panel (c)  menunjukkan variasi pooled-cross section (marriage rates dan divorce rates disandingkan dengan unemployment rates untuk seluruh negara bagian dalam periode sampel). Panel (b) dan panel (d) menunjukkan perubahan selama 5 tahun dalam variabel yang sama. Meskipun terlihat hubungan yang lemah antara unemployment rates dan marriage rates serta divorce rates, dapat terlihat pergeseran dari fitted line. Meskipun unemployment rates yang tinggi dapat diasosiasikan dengan tingkat marriage rates dan divorce rates yang tinggi, perubahan dalam unemployment memiliki korelasi negatif dengan perubahan dalam divorce rates dan marriage rates.

bb

Fig 2. Marriage Rates, Divorce Rates, dan Unemployment Rates dalam Pooled Cross Section

Model yang digunakan adalah model fixed-effect specification,  berbeda dengan model-model yang pernah digunakan untuk penelitian serupa seperti time-series atau cross-sectional. Peneliti pun menggunakan analisa regresi dalam penelitian ini, dengan persamaan regresi sebagai berikut:

cc

Hasil Penelitian

Dalam hasil analisis regresi, peneliti fokus dengan hasil yang meliputi state time trends. Hasil menunjukkan bahwa unemployment rate memliki korelasi negatif dengan marriage rates dan divorce rates. Hasil regresi yang meliputi kontrol demografi dan state linear time trends memperlihatkan bahwa satu persen kenaikan unemployment rate diasosiasikan dengan 1.5% penurunan  marriage rates dan 1.7% penurunan divorce rates. Dengan membandingkan koefisien tersebut dengan standar deviasi dari residual yang didapatkan dari me-regress variabel-variabel dependen untuk state-fixed effect, time-fixed effect, dan state linear time trends (0.09 untuk marriage rates dan 0.08 untuk divorce rates), dapat dilihat bahwa koefisien tersebut relatif kecil. Koefisien marriage dan divorce rates menunjukkan bahwa satu persen kenaikan unemployment rates diasosiasikan dengan 0.78 lebih sedikit pernikahan per seribu wanita single dan 0.34 lebih sedikit perceraian per seribu wanita menikah. Kenaikan 4.7 persen unemployment rates pada tahun 2007 sampai 2009 pun diasosiasikan dengan 238,000 lebih sedikit pernikahan dan 87,500 lebih sedikit perceraian.

Peneliti pun dapat melihat efek pengangguran kepada pernikahan dan perceraian per kelompok usia dan ras karena adanya kontrol demografis dalam persamaan regresi. Dari Tabel 1, efek paling signifikan terlihat dalam kelompok umur 26 sampai 35 dimana koefisien dari unemployment rates dalam regresi perceraian menunjukkan bahwa efeknya paling kuat untuk kelompok umur tersebut. Sedangkan dalam kelompok umur diatas 56 tahun, tidak ada efek signifikan apapun.

dd

Tabel 1. Koefisien unemployment rates per kelompok umur

Terkait perbedaan diantara ras kulit putih dan kulit, koefisien pengagguran untuk regresi pernikahan dan regresi perceraian lebih besar dalam skala untuk ras kulit hitam dibandingkan dengan kulit putih. Dapat pula dilihat dalam Tabel 2 bahwa efek pengangguran terhadap perceraian ras kulit putih sama sekali tidak signifikan, tidak seperti terhadap ras kulit hitam yang signifikan.

ee

Tabel 2. Koefisien unemployment rates per ras

Kesimpulan dan Saran

Dalam penilitian ini, dapat disimpulkan bahwa divorce rates dan marriage rates agregat bergerak pro-siklus, dimana satu persen kenaikan dalam unemployment rates diasosiasikan dengan 1.5 % penurunan dalam marriage rates dan 1.7% penurunan dalam divorce rates. Hal in mengimplikasikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja memang menjadi suatu faktor yang menentukan keputusan pasangan untuk menikah dan bercerai. Analisa berdasarkan kelompok umur pun menunjukkan bahwa efek unemployment rates yang meningkat lebih terlihat dalam divorce rates dan marriage rates orang-orang dalam usia kerja (usia 26 ke 35). Orang-orang dalam kisaran umur tersebut lebih rentan untuk terkena dampak dari kelesuan ekonomi karena sebagian besar dari mereka belum memiliki kondisi ekonomi yang se-stabil orang-orang dalam kisaran umur yang lebih tua dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka tidak begitu mengalami dampak naiknya unemployment rate. Hubungan pasangan ras kulit hitam pun lebih sensitif terhadap naiknya unemployment rates karena pekerjaan dan gaji minoritas memang lebih terkena dampak siklus ekonomi dibandingkan ras kulit putih.

Hasil penelitian tersebut signifikan karena marriage rates dan divorce rates memiliki implikasi yang besar untuk kuantitas dan kualitas anak, penerimaan pajak, serta pengeluaran untuk program kesejahteraan sosial. Menurunnya pernikahan dan naiknya perceraian  pun dapat berakibat kepada banyaknya single parents, yang menyebabkan hasil yang buruk untuk orang tua dan anak-anaknya. Karena dapat disimpulkan bahwa kenaikan dalam unemployment rates menyebabkan menurunnya pernikahan dan perceraian, kebijakan dapat diambil untuk memerangi dampak negatif dari menurunnya pernikahan saat masa-masa resesi. Hal ini terutama relevan jika dikaitkan dengan struktur populasi suatu negara dimana misalnya negara yang memiliki penurunan populasi dapat memberi kebijakan untuk memperbanyak pernikahan saat masa-masa resesi agar pernikahan tetap berlangsung, yang diharapkan pernikahan tersebut pun dapat menghasilkan anak untuk mengisi penurunan populasi.

Diulas oleh: Dominic Savio Pradana, Staff Divisi Penelitian

Ilustrasi oleh: Oktaviani Charra, Staff Biro Penerbitan dan Informasi

Kanopi FEB UI 2017

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in