Primera: The Economy of Giving

KANOPI_PrimeraGiving (1)

 

“The Economy of Giving”

                Tahukah kamu bahwa Anne Frank pernah mengatakan “No one ever becoming poor by giving” ? Bagaimanakah pendapat kamu mengenai kutipan tersebut? Pada kesempatan kali ini, kami dari Divisi Penelitian KANOPI FEB UI melakukan penelitian mengenai charity di lingkungan mahasiswa FEB UI. Penelitian ini kami lakukan setelah melihat animo mahasiswa terhadap kegiatan charity yang beragam dan dengan penelitian ini kami bertujuan untuk melihat perilaku mahasiswa FEB UI terhadap kegiatan charity yang dilakukan baik di lingkungan FEB UI maupun di luar FEB UI.

                Charity yang biasanya kita lihat, dapat berupa memberikan bantuan kepada korban bencana alam, memberikan santunan kepada mereka yang membutuhkan, meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan sukarelawan, atau bahkan memberikan uang yang kita miliki kepada mereka yang mengaku sebagai agen charity yang sedang mencari donatur untuk kelangsungan proyek mereka. Pernahkah muncul rasa kekhawatiran setelah kamu melakukan salah satu atau contoh lainnya dari kegiatan charity ini? Pernahkah ada rasa menyesal setelah kita berbagi dengan mereka yang membutuhkan? Apakah yang sebenarnya mendasari perilaku seseorang untuk berbagi dengan yang lainnya?

                Setelah melakukan penyebaran kuisioner kepada 100 responden yang terdiri dari 63 perempuan dan 37 laki-laki dari berbagai jurusan (akuntansi 35%, manajemen 30%, ilmu ekonomi 20%, ilmu ekonomi islam 7% dan bisnis islam 8%) dan berbagai lapisan angkatan (2016 35%, 2015 35%, 2014 20%, dan 2013 10%) di FEB UI, sebanyak 98% dari responden pernah melakukan charity. Dari keseluruhan responden yang pernah melakukan charity, sebanyak 57% mengatakan pernah melakukan charity kurang lebih 3 bulan yang lalu, sedangkan 18% mengaku pernah melakukannya lebih dari setahun yang lalu, dan sisanya sebanyak 13% dan 12% pernah melakukan charity kurang lebih 3 sampai 6 bulan yang lalu dan 6 bulan sampai 1 tahun yang lalu secara berturut-turut.

                Mengenai preferensi cara melakukan charity,  sebanyak 77 dari responden yang ada memilih memberikan bantuan berupa uang, sedangkan 65 responden mengaku memilih memberikan waktu secara sukarela untuk berbagai kegiatan seperti mengajar, membangun sebuah desa, dan sebanyak 65 responden juga memilih memberikan bantuan barang ke beberapa target charity yang membutuhkan. Sebanyak 88% mengaku melakukan charity  dikarenakan memang tertarik dan bersedia untuk melakukan hal tersebut, dan sebanyak 12% tertarik untuk melakukan charity  dikarenakan beberapa faktor eksternal seperti pekerjaan organisasi, perintah orang tua, dan sebagainya.  Setiap responden mengaku tertarik untuk melakukan charity dikarenakan berbagai manfaat yang akan didapatkan oleh setiap individu maupun kelompok seperti personal satisfaction berupa kepuasan religi, rasa senang dan bangga karena dapat menolong orang lain, serta pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan uang.

                Selanjutnya, berbicara mengenai media yang digunakan dalam melakukan charity, media organisasi masih menjadi primadona dalam melakukan kegiatan tersebut, dan seperti yang kita tahu, dengan organisasi, cakupan kegiatan charity dapat lebih luas dan lebih berdampak terhadap agen charity. Jawaban terbanyak kedua adalah tanpa perantara, dimana responden melakukan kegiatan charity tanpa bantuan dari pihak lain. Target charity pun sangat beragam, setelah melakukan penelitian, target charity yang paling banyak dituju merupakan anak yatim piatu, dan secara berturut-turut adalah korban bencana alam, penyandang disabilitas, anak jalanan, dan tunawisma. Sekiranya, apakah faktor yang mendasari perilaku seseorang untuk memberi?

                Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, baik individu maupun kelompok, membutuhkan informasi mengenai beberapa hal dari target charity. Sebanyak 83 responden membutuhkan informasi mengenai latar belakang dari agen charity, sebanyak 76 responden memerlukan informasi mengenai manfaat yang bisa target charity dapatkan, dan sebanyak 22 responden memerlukan informasi mengenai manfaat yang bisa mereka dapatkan. Kejelasan informasi tersebut mendorong seseorang untuk melakukan charity dan ternyata juga mempengaruhi jumlah waktu dan materi yang mereka siap tawarkan kepada target charity. Dengan informasi yang telah mereka dapatkan, sebanyak 46% rela meluangkan waktunya sebesar 1 sampai dengan 3 jam, sebanyak 27% bersedia untuk melakukan charity selama 3 sampai 6 jam, 21% memilih kurang dari 1 jam, dan hanya sebanyak 6% yang rela melakukan charity lebih dari 6 jam dalam sehari. Selain meluangkan waktu, materi juga merupakan salah satu yang bisa individu berikan kepada target charity yang membutuhkan. Dengan informasi yang jelas, sebanyak 57% bersedia memberikan materi yang bernilai Rp100.000,00 sampai Rp500.000,00, hanya 5% yang ingin memberikan sejumlah lebih dari satu juta rupiah. Lalu, apakah tanpa informasi yang jelas mengenai target charity, individu ataupun kelompok menjadi terdisinsentif untuk melakukan charity? Jawabannya, sebanyak 31% memilih untuk tidak melakukan charity dan sisanya, sebanyak 69% tetap ingin berbagi dengan sesama. Benar berniat dan tertarik untuk melakukan charity menjadi alasan mengapa seseorang tidak begitu terdisinsentif apabila informasi yang mereka dapatkan mengenai target charity tidak terlalu sempurna. Terakhir, apakah dengan informasi yang kurang sempurna tersebut membuat individu atau kelompok menyesal melakukan charity? Sebanyak 78% responden mengaku pernah menyesal setelah melakukan charity dikarenakan adanya moral hazard yang dilakukan oleh agen charity seperti penipuan, penyalahgunaan uang atau barang yang disumbangkan. Hal ini disebabkan oleh asymmetric information diantara agen charity dengan pemberi bantuan.

                Dapat disimpulkan bahwa ketersediaan informasi mengenai target charity merupakan hal yang dapat memberikan insentif kepada setiap individu atau kelompok untuk melakukan charity. Selain itu, dengan informasi yang tersedia dengan sempurna, dapat mengurangi tingkat penyesalan yang dirasakan oleh individu atau kelompok setelah melakukan kegiatan charity, dikarenakan informasi yang jelas dapat menutupi resiko yang mungkin saja terjadi didalam penggunaan pemberian yang telah diberikan oleh seorang individu atau kelompok.

Ditulis oleh: Divisi Penelitian

Ilustrasi oleh: Oktaviani Charra, Staff Biro Penerbitan dan Informasi

Kanopi FEB UI 2017

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in