Grandma Test: Lé Silent Killer

infografis-gtest-1des

Effect of Cigarette Tax Increase on Cigarette Consumption in Taiwan

Pengarang               : J-M Lee, D-S Liao, C-Y Ye and W-Z Liao

Tahun                        : 2005

Nama Jurnal           : Tobacco Control, Vol.14, Supplement 1: Forcing Open Market in

Taiwan                       : Lessons for Tobacco Control (June 2005), pp. 171 – 175

 

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Taiwan dan bertujuan untuk melihat efek dari adanya tambahan pajak Health and Welfare sebesar 5 Dollar Taiwan (NT$5) terhadap konsumsi cigars (cerutu) dan cigarettes (rokok) domestic maupun impor.

Hal ini didasarkan pada harga rokok yang tergolong lebih rendah dibandingkan dengan di negara – negara lain. Ditambah lagi dengan jumlah perokok di Taiwan pada tahun 2002 yaitu sebesar 4.5 juta orang.

Konsumsi rokok ini juga dianggap membawa banyak dampak negatif terhadap negara, mulai dari medical expenses yang ditanggung oleh pemerintah mencapai NT$ 20 miliar dan kerugian dari GDP sebesar NT$ 160 miliar setiap tahunnya.

 

Metodologi

Penelitian ini menggunakan data tahunan dari Central Bureau of Statistics (CBS) tahun 1971 hingga tahun 2000. Peneliti kemudian membuat model permintaan untuk mengestimasi koefisien elastisitas harga dan pendapatan dari cigars (cerutu) dan cigarettes (rokok). Metode statistick Durbin – Watson juga digunakan dalam penelitian ini untuk memastikan tidak adanya auto-correlation ­sehingga model permintaan yang digunakan dapat diterima.

Taiwan merupakan salah satu negara yang memiliki korelasi positif dalam hal hubungan antara pajak tembakau dan harga rokok. Karena kebijakan pemerintah terkait dengan kenaikan pajak tembakau ini berakibat pada adanya kenaikan yang lebih besar pada harga rokok.

Dengan adanya kebijakan tambahan pajak sebesar NT$5 tersebut, nilai pajak yang diberlakukan untuk satu pak rokok yang berisi 20 batang tersebut menjadi sebesar NT$16.8. Peningkatan pajak tersebut pun mengakibatkan pasar memberikan respon berupa peningkatan harga sebesar NT$6 untuk rokok impor dan NT$10 untuk rokok domestik. Sehingga, harga rokok yang berlaku setelah kebijakan tersebut adalah sebesar NT$50.4 per pack untuk rokok impor dan NT$35.1 per pack untuk rokok domestik.

Elastisitas harga ini ditentukan dengan menggunakan model permintaan rokok dari Central Bureau of Statistic, dimana perubahan kuantitas merupakan fungsi dari perubahan total pengeluaran untuk tembakau dan harga tembakau itu sendiri.

 

Hasil Penelitian

Penelitian ini menunjukkan bahwa koefisien elastisitas harga untuk rokok domestik dan impor adalah sebesar -0.644 dan -0.822. Dimana jumlah konsumsi rokok impor berkurang sebesar 7.51 packs per capita atau berkurang sebesar 6.44% ketika terjadi kenaikan harga sebesar 10%, sedangkan jumlah konsumsi rokok domestik berkurang sebesar 15.21 packs per capita atau berkurang sebesar 8.22% ketika terjadi kenaikan harga sebesar 10%. Konsumsi total per capita dari rokok sendiri berkurang sebesar 22.72 packs atau sebesar 18% dari total konsumsi keseluruhan sebelum adanya kenaikan pajak.

Dibandingkan dengan tahun 2001, konsumsi rokok mengalami penurunan menjadi sebesar 1.836 miliar pak dengan tambahan penerimaan pemerintah dari sektor pajak sebesar NT$8.6 akibat dari pemberlakuan kebijakan tersebut.

 

Kesimpulan

Dari segi kesehatan dan finansial, kenaikan pajak yang diberlakukan oleh pemerintah Taiwan ini memiliki dampak yang signifikan dalam mengurangi jumlah konsumsi rokok; serta memberikan tambahan pendapatan pajak bagi pemerintah sendiri.

Hal ini menjadi bahan pertimbangan kuat bagi pemerintah Taiwan untuk melanjutkan kebijakan pemberlakuan pajak terhadap tembakau ini untuk mengurangi tingkat konsumsi rokok serta mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh konsumsi rokok di Taiwan. Ini juga bisa menjadi rujukan kebijakan bagi negara lain yang memiliki kesamaan dengan Taiwan dalam hal koefisien elastisitas permintaan yang negatif.

 

Lampiran

grand1grand2

 

Diulas Oleh:
Amalia Cesarina
Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

Ilustrasi Gambar Oleh:
Kanty Raviandra 
Trainee Biro Penerbitan dan Informasi Kanopi FEB UI 2016

 

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in