Grandma Test: Assortative Mating and Income Inequality

infografis-gtest-8-nov-copy

Marry Your Like: Assortative Mating and Income Inequality

 

Pengarang                  : Jeremy Greenwood, Nezih Guner, Georgi Kocharkov, dan Cezar Santos

Tahun                         : 2014

Nama Jurnal             : National Bureau Of Economic Research

NBER Working Paper Series, Working Paper 19829, http://www.nber.org/papers/w19829

 

Tujuan Penelitian

Assortative mating adalah suatu kecenderungan seseorang untuk menikah dengan pasangan yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Assortative mating yang terjadi dapat didasarkan pada persamaan tingkat pendidikan, persamaan suku, ras, dan agama, persamaan kelas sosial-ekonomi, dan lain sebagainya. Educational assortative mating merupakan kecenderungan seseorang untuk menikah dengan pasangan yang memiliki tingkat pendidikan yang sama. Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam bekerja, sehingga berpengaruh terhadap gaji yang didapat. Seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi jika menikah dengan pasangan yang berpendidikan tinggi akan menghasilkan gaji yang tinggi pula untuk keduanya, begitu pula sebaliknya, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terjadinya educational assortative mating mempengaruhi kesenjangan pendapatan antar rumahtangga pelaku educational assortative mating, dalam hal ini apakah educational assortative mating memperlebar kesenjangan ataukah sebaliknya.

Metodologi dan Hasil Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sensus American Community Survey (ACS) untuk tahun 1960, 1970, 1980, 1990, dan 2000 dengan variabel yang digunakan meliputi; usia, jenis kelamin, status pernikahan, riwayat pendidikan, pekerjaan, gaji/pendapatan, dan data penunjang lainnya.

Pada tahap pertama peneliti ingin menentukan seberapa besar educational assortative mating yang terjadi dengan menentukan degree of possitive assortative mating melalui model regresi:

1

2 merepresentasikan tingkat pendidikan suami dan istri yang dinyatakan dengan lamanya menempuh pendidikan dalam tahun, Variabel YEARty merupakan time dummy, dimana YEARty=1, jika t=y, dan YEARty=0, jika t ≠ y, where t € T = {1970; 1980; 1990; 2000; 2005}. Koefisien β mengukur dampak pendidikan suami terhadap istrinya pada tahun dasar 1060, dan koefisien µt merupakan dampak tambahan atas pendidikan suami terhadap istrinya relativ terhadap tahun dasar 1960. Hasil regrasi ditunjukkan dengan grafik sebagai berikut (figure 1);

3

4merupakan pengukur dalam menentukan degree of possitive assortative mating sehingga semakin besar nilai variabel tersebut semakin besar degree of possitive assortative mating –nya. Grafik diatas menunjukkan peningkatan degree of possitive assortative mating dari tahun 1950 hingga 2000.

Selanjutnya tingkat pendidikan dibagi menjadi lima kelompok, less than high school (HS), high school (HS), some college (C), college (C), and post college (C+). Pola dari assortative mating pada tiap kelompok diuji dengan menggunakan Contingency table. Setiap tabel terdiri atas dua komponen, pada bagian kiri merupakan fraksi saat terjadi assortative mating dan pada bagian kanan merupakan fraksi saat dilakukan random mating(negative assortative mating).

Diagonal pada Contingency table menunjukkan pola yang terjadi saat terjadi assortatative mating pada tingkat pendidikan yang sama. Contingency table tersebut tergambar sebagai berikut:

5

Selanjutnya untuk menentukan pengaruh assortative mating terhadap income inequality digambarkan terlebih dahulu kurva lorenz dan dan koefisien gini dari data survei yang telah ada. Hasilnya sebagai berikut;

6

Data yang digunakan merupakan data dari hasil survei yang menunjukkan adanya possitive assortative mating seperti yang digambarkan pada grafik petama. Hasil yang didapat, pada tahun 1960 koefisien gini sebesar 0,34 dan pada tahun 2000 sebesar 0.43. Hal tersebut menunjukkan bahwa saat terjadi peningkatan degree of possitive assortative mating, terjadi pula peningkatan kesenjangan pendapatan.

Random mating diprediksi sebagai pembanding dalam menentukan pengaruh assortative mating terhadap kesenjangan pendapatan, sehingga koefisien gini dan kurva lorenz juga dibuat saat asumsi tidak terjadi assortative mating atau terjadinya random mating. (Untuk metode perhitungan random mating dapat dilihat di naskah jurnal)

Hasil kurva lorenz dan koefisien gini saat terjadi random mating pada tahun 2000 adalah sebagai berikut:

7

Saat terjadi random mating, koefisien gini yang dihasilkan pada tahun 2000 sebesar 0,34. Hal tersebut berbeda dengan koefisien gini yang terbentuk dari data survei yang menunjukkan adanya assortative mating yakni sebesar 0,43.

Untuk dapat mempengaruhi kesenjangan pendapatan pada saat terjadi assortative mating, pasangan wanita harus bekerja.

8

Grafik sebelah kanan menunjukkan angka partisipasi kerja wanita yang sudah menikah, dan grafik sebelah kiri menunjukkan partisipasi pendapatan wanita menikah pada pendapatan rumah tangga.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara assortative mating dengan kesenjangan pendapatan rumahtangga. Semakin banyak terjadinya assortative mating maka kesenjangan pendapatan rumahtangga akan meningkat. Hal tersebut terbukti bahwa dari data survei didapat kenaikan degree of possitive assortative mating dari tahun 1960 hingga 2000 dan pada tahun itu pula koefisien gini naik dari 0,34 menjadi 0,43, dan ketika dilakukan perhitungan koefisien gini saat terjadi random mating koefisien gini pada tahun 2000 menjadi 0,34. Penurunan angka koefisien gini dari 0,43 menjadi 0,34 pada random mating menunjukkan adanya pengaruh assortative mating terhadap peningkatan kesenjangan pendapatan rumah tangga.

Diulas Oleh:
Ghany Ellantia
Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

Ilustrasi Gambar Oleh:
Auliya Devaldi Wiratama
Kepala Biro Penerbitan dan Informasi Kanopi FEB UI 2016

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in