Grandma Test: The Traffic Paradox

cilo

Judul                          : The Economics of Traffic Congestion

Pengarang                 : Richard Arnott dan Kenneth Small

Tahun                         : 1994

Nama Pengarang     : American Scientist, Volume 82, Nomor 5 (September-Oktober 1994), pp. 446-455

Tujuan Penelitian

Studi ini dilaksanakan untuk dapat memahami secara komperhensif, apa saja penyebab dari kemacetan secara umum. Dalam penelitian ini, dipaparkan tiga (3) buah paradoks yang menggambarkan kondisi kemacetan dari lalu lintas yang ada secara umum, yaitu “Pigou-Knight-Downs” Paradox, “Downs-Thomson” Paradox, dan “Braess” Paradox.

 

Pigou-Knight-Downs Paradox

Bayangkan ada sebuah jalan alternatif baru yang dibangun atau sebuah jalan tikus baru yang ditemukan dari antara satu tempat ke tempat lain. Orang-orang akan berbondong-bondong menggunakan jalanan tersebut. Apakah intuisi sederhana yang Anda dapatkan dari kondisi tersebut? Selagi kita masyarakat berpikiran untuk “build our way out of traffic”, perlu diketahui bahwa dengan menciptakan jalanan baru yang terasa “kosong” akan menarik lebih banyak orang untuk menggunakan jalan tersebut.

Jika ada Jalur A yang jalurnya lebih memutar, dan ada Jalur baru lain B yang jalurnya lebih direct. Secara rasional, orang-orang akan lebih memilih Jalur B. Meskipun demikian, perlu dipertimbangkan kapasitas dari Jalur B. Jika kapasitas dari Jalur B terlalu sedikit, maka pada akhirnya traveling time yang dialami oleh pengguna jalan akan tidak terlalu berbeda dari saat macet. Mengapa?

Asumsikan ada 1000 pengendara mobil yang bergerak dari area satu ke area dua dengan dua pilihan, Jalur A atau Jalur B. Untuk menyederhanakan, kita mengasumsikan kemacetan sebagai kondisi dimana kecepatan mobil menjadi setengah dari kecepatan mobil ketika tidak macet. Jika demikian, maka batasan apakah Jalur B cukup atau tidak kapasitasnya akan menjadi kapasitas 2000 pengendara mobil, karena dengan 1000 pengendara berkecepatan setengah dari seharusnya, maka total waktu yang dipakai oleh pengendara akan sama dengan ada 2000 pengendara mengendarai pada kecepatan normal.

Paradoks ini akan muncul ketika kapasitas dari Jalur B lebih kecil dari 2000 pengendara. Dengan kondisi tersebut, maka pengguna jalan harus memilih antara Jalur A dan B karena Jalur B yang secara rasional lebih cepat tidak dapat mengakomodir semua pengguna jalan. Asumsikan Jalur A memerlukan 15 menit untuk mencapai tujuan, dan Jalur B memerlukan 10 menit tanpa kemacetan, namun 10 menit itu akan tercapai dengan kapasitas diatas 2000 pengendara. Artinya, jika kapasitas dibawah, maka akan terjadi congestion, dan lamanya mengendara akan meningkat karena macet.

Jika dilakukan simulasi, maka dengan kapasitas lebih kecil dari 2000, maka pada akhirnya lamanya travel time antara Jalur A dan B akan kurang lebih sama pada tingkat 15 menit. Apa bedanya dengan tidak ada Jalur B kalau begitu? Hasil simulasi dapat dilihat di Skenario A pada tabel berikut. Skenario B, di lain pihak, menunjukkan kondisi jika kapasitas dari Jalur B lebih besar dari batas minimumnya, dan efeknya better off untuk masyarakat.

1

2

Bagaimana kita dapat mengaitkannya ke kondisi nyata kita? Coba ingat, jika kita menggunakan jalan tikus, berapakah kapasitas dari jalan tikus itu? Hampir selalu kapasitas dari jalan tikus tersebut sangat kecil, sehingga tidak jarang orang-orang terjebak macet di jalan tikus tersebut, selain macet di jalan utama. Efeknya? Jalan utama tetap macet, jalan alternatif ikut macet.

 

Downs-Thomson Paradox

Dalam paradoks ini, kita mengasumsikan bahwa kemacetan dicoba untuk dihapuskan dengan adanya sebuah transportasi umum baru, anggaplah sebuah kereta commuter. Perlu diketahui bahwa kereta commuter, seperti semua jenis transportasi atau bisnis lainnya, pasti membutuhkan uang untuk mempertahankan kualitas yang ditawarkan. Darimanakah asal dari uang tersebut? Dari jumlah pelanggan mereka.

Kualitas dari kereta commuter tersebut, kita asumsikan sebagai travel time dari penggunaan kereta tersebut. Lama perjalanan maksimal dengan kereta adalah 20 menit, dan tiap 3000 orang menggunakannya, lama perjalanan akan berkurang 20 menit. Jika jumlah pengguna terlalu sedikit, maka orang-orang akan malas menggunakan commuter karena kualitas yang ditawarkan cukup rendah. Kereta tidak dipakai, tapi infrastruktur sudah ada.

Kita dapat melihat simulasinya dari persamaan berikut.

3

4

Bagaimana kita mengaitkannya dengan kondisi nyata? Kondisi ini cukup terlihat dalam pengelolaan kendaraan umum di kota-kota besar Indonesia. Dengan transportasi publik yang kapasitasnya kurang dan pelayanannya relatif kurang memuaskan, maka orang-orang akan lebih menggunakan mobil pribadi. Efeknya, kualitas yang ditawarkan oleh transportasi pun akan stagnan. Kondisi di London, sebagai contoh, dikatakan dapat dijelaskan oleh “Downs-Thomson” Paradox ini.

 

Braess Paradox

Dalam paradoks terakhir yang dibahas ini, dinyatakan bahwa kondisi jika ada jalan baru yang dibangun yang memerlukan pembayaran (seperti contoh jalan tol), dapat menyebabkan kemacetan sendiri di jalanan tersebut. Alasannya, adalah bahwa karena jalan tol menjanjikan jalanan yang lancar, maka orang-orang akan berbondong-bondong menggunakan jalan tol, tanpa memikirkan tarif tol yang harus dibayarkan. Padahal, seharusnya tarif tersebut membedakan antara orang-orang yang mau membayar dan tidak membayar.

Masalah juga dapat muncul dikarenakan, ketika tol dibangun, tidak jarang sudah ada lebih dari satu jalan untuk mencapai titik tujuan. Tol yang dibangun hanya akan meningkatkan jumlah pengguna jalan dari asal ke tujuan, meningkatkan congestion pada pertemuan antara jalur tol tersebut dengan jalur-jalur yang sudah ada sebelumnya.

Kasusnya dapat terlihat pada gambaran dan persamaan berikut.

5

6

 

Kesimpulan dan Interpretasi

Penjabaran dari tiga paradoks diatas, secara umum menjelaskan bahwa penanganan tradisional dari pemerintah atau pihak swasta akan kemacetan yang merupakan “build our way out of traffic” dengan membangun jalan baru, jalan layang baru, atau jalan tol baru, belum tentu menghasilkan kemacetan yang berkurang.

Perlu dikaji terlebih dahulu, seberapa besar kapasitas dari jalanan baru yang dibangun, atau kualitas awal dari transportasi publik tersebut, apakah efek dari pembangunan jalan atau transportasi baru tersebut akan mengurangi kemacetan secara efektif atau tidak. Dengan perhitungan yang tepat, maka tingkat kemacetan di tempat yang biasanya menjengkelkan dapat dikurangi secara signifikan.

Nah, apakah penanganan kemacetan di kota Anda sudah tepat? Atau, mereka malah menciptakan paradoksnya sendiri?

 

Diulas oleh:
Natanael Waraney
Kepala Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in