Grandma Test: Indonesian CPO Export Tax

EJR 3 copy

The Effect of Export Tax on Indonesia’s Crude Palm Oil (CPO) Export Competitiveness

 

Pengarang                 : Amzul Rifin

Tahun                         : 2010

Nama Jurnal           : ASEAN Economic Bulletin, Vol.2, No.2

Tujuan Penelitian

Minyak sawit mentah atau yang dikenal dengan Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu komoditi ekspor utama Indonesia. Sejak tahun 1994, Indonesia telah menerapkan kebijakan pajak ekspor CPO untuk mengontrol harga dan menjamin ketersediaan minyak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kebijakan pajak ekspor CPO Indonesia serta menganalisis efek dari pajak ekspor pada daya saing ekpor CPO Indonesia dibandingkan dengan Malaysia (kompetitior utama).

 

Metodologi

Penelitian ini menggunakan teknik regresi OLS (ordinary least square) sebagai metode pengolahan datanya. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekspor CPO dari negara Indonesia dan Malaysia. Sedangkan variabel independennya adalah rasio harga CPO, perbedaan pajak ekspor CPO antara kedua negara, rasio ekspor minyak sawit olahan, dan rasio exchange rate. Dalam menentukan kecukupan model, peneliti melakukan beberapa test yaitu test Jacque-Bera statistik untuk menguji bahwa model tersebut terdistribusi normal dari standard residual atau test normalitas, test Lagrange Multiplier (LM) untuk mendeteksi korelasi serial dan test Breusch-Pagan-Godfrey (BPG) untuk menguji heteroskedastisitas.

Data yang digunakan untuk membentuk persamaan rasio ekspor CPO adalah data bulanan dari Januari 2001 sampai Desember 2007 yang berasal dari berbagai sumber. Data CPO dan minyak sawit olahan yang diekspor Indonesia diambil dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS). Data mengenai harga domestik CPO Indonesia diambil dari the Statistical Estate of Indonesia. Nominal exchange rate dan Index Harga Konsumen (IHK) Indonesia dan Malaysia diambil dari International Financial Statistics (IFS) database dari International Monetary Fund (IMF). Data mengenai minyak sawit Malaysia didapat dari Malaysia Palm Oil Board (MPOB). Data efektifitas pajak ekspor dihitung oleh penulis.

 

Hasil Penelitian

Indonesia telah menerapkan pajak ekspor sejak September 1994 dan telah di revisi perhitungan pajaknya pada Juli 1997. Penulis membandingkan keefektifan pajak antara Indonesia dan Malaysia menggunakan rumus berikut pada September 1994 – Juni 1997 :

Screen Shot 2016-08-18 at 8.00.52 PM

Keterangan : FOB = FOB harga CPO price

BP = base price/harga dasar

TR = CPO tax rate.

Rumus berikut pada Juli 1997-2008 :

Screen Shot 2016-08-18 at 8.00.52 PM copy

Keterangan : CP = check price

P = harga internasional CPO.

Grafik

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa pada 1994 hingga 1997 keefektifan pajak ekspor Indonesia berada dibawah Malaysia. Pada Januari-April 1998, pemerintah Indonesia melarang ekspor CPO dikarenakan kuantitas domestik yang terbatas. Pada 1998-Juni 1999 keefektifan pajak ekspor Indonesia berada diatas Malaysia. Hal ini bukan berarti menunjukan daya saing ekspor CPO Indonesia lebih tinggi, namun adanya kebijakan pajak Malaysia yang mendorong industri minyak sawit untuk meningkatkan nilai tambahnya (minyak sawit olahan). Pada tahun 2000 hingga 2006, keefektifitasan pajak ekspor relatif stabil hingga pada Juli 2007 pemerintah meningkatkan tarif pajak dari 1,5% menjadi 6,5% yang membawa dampak meningkatnya keefektifitasan penerapan pajak ekspor.

Penelitian ini ingin membandingkan daya saing ekspor CPO antara Indonesia dengan Malaysia dengan menggunakan bentuk relatif dari variabel dependen dan independen. Bentuk ini dapat menggabungkan efek daya saing antara dua negara atau lebih yang dapat meminimalisir kesalahan. Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Screen Shot 2016-08-18 at 8.04.32 PM

Keterangan :

X       : CPO export (ton)

P       : Domestic price of CPO (Rupiah or ringgit)

ER     : Exchange rate (Rupiah/US$ or ringgit/US$)

TX    : Effective export tax (%)

XR    : Refined palm oil export (ton)

CPI   : Consumer price index (2000 = 100)

I        : Indonesia

M      : Malaysia.

Variabel dependen dalam persamaan tersebut adalah rasio antara ekpor CPO Indonesia dengan Malaysia. Variabel independen pertama adalah harga domestik dari dua negara tersebut. Penulis memiliki hipotesis bahwa variabel ini memiliki hubungan yang negatif yaitu pada saat rasio harga menurun maka rasio ekspor diprediksi akan meningkat. Variabel independen kedua adalah adalah exchange rate yang diprediksikan akan berhubungan positif. Ketika rupiah depresiasi terhadap ringgit, maka harga dari CPO Indonesia akan lebih murah, maka dari itu akan meningkatkan rasio ekspor.

Variabel selanjutnya adalah perbedaan efektifitas pajak ekspor antara dua negara. Koefisiennya diperkirakan akan berhubungan negatif yang berarti semakin kecil keefektifitasan pajak ekspor, maka akan menigkakan daya saing antar dua negara. Hal ini dikarenakan, rendahnya keefektifitas pajak membuat kecenderung penurunan pajak sehingga harga ekspor CPO lebih murah. Variabel terakhir adalah minyak sawit olahan yang diperkirakan memiliki hubungan negatif. Asumsi yang digunakan adalah CPO dan minyak sawit olahan merupakan barang subtitusi, dimana CPO merupakan bahan bakunya. Oleh karena itu, kenaikan jumlah minyak sawit olahan akan mengurangi ekspor CPO.

Penelitian ini memiliki dua persamaan yaitu persamaan dengan semua variabel pada waktu yang sama atau tidak ada lag/ketertinggalan dan persamaan kedua yaitu persamaan dengan rasio harga yang menggunakan data satu bulan sebelumnya (lag form). Adanya penggunaan lag form karena memperhitungkan adanya lag/ketertinggalan informasi harga antara kedua negara. Hasil pengujian kalayakan model, menunjukan bahwa kedua persamaan tersebut terdistribusi secara normal, tidak ada korelasi serial dan tidak ada heteroskedastisitas.

The Export Ratio Estimates

Hasil penelitian diatas menggambarkan bahwa pada persamaan pertama semua variabel signifikan kecuali variabel rasio harga. Hipotesis penulis didukung oleh hasil penelitian diatas, kecuali pada variabel minyak sawit olahan yang ternyata menunjukan hubungan positif. Perbedaan ini terjadi karena adanya interaksi antara Indonesia dan Malaysia. Walaupun Malaysia merupakan negara kedua terbanyak penghasil minyak sawit, negara ini juga mengimpor CPO dari Indonesia. Hal ini dikarenakan tiga hal yaitu Indonesia merupakan negara pertama terbanyak penghasil minyak sawit, perusahaan Malaysia berinvestasi di sektor sawit Indonesia, dan kebutuhan Malaysia untuk mengsupply industri sawit olahan yang akan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi daripada CPO saat di ekspor. Perusahan yang investasi di Indonesia tersebut mengirim CPO untuk diolah di Malaysia.

CPO merupakan bahan baku dari minyak sawit olahan. Peningkatan pada minyak sawit olahan Indonesia, akan mengurangi ekspor CPO Indonesia termasuk ke Malaysia. Sehingga, Malaysia menurunkan jumlah ekpor CPOnya dan mengalokasikannya untuk kebutuhan produksi minyak sawit olahan. Ketika rasio ekspor minyak sawit olahan meningkat yang disebabkan oleh peningkatan produksi di Indonesia dan penguruangan produksi di Malaysia, diprediksi hal ini akan meningkatkan rasio ekspor CPO. Hal ini dikarenakan oleh pengurangan ekspor CPO Malaysia yang lebih besar dibandingkan Indonesia. Oleh karena itu, variabel minyak sawit olahan dengan rasio ekspor CPO berhubungan positif.

Pajak ekspor akan mengurangi harga domestik namun meningkatkan harga ekspor, dapat dilihat dari grafik dibawah ini

The Imposition of Export Tax

Harga sebelum pajak adalah pf yang meningkat ketika ada pajak ekspor menjadi pt* sedangkan harga domestik menurun menjadi pt. Hasil ekonometik menunjukan ketika ada peningkatan perbedaan keefektifitasan pajak ekspor kedua negara sebesar 1%, rasio ekspor CPO akan menurun sebesar 0.0971 %. Maka dari itu, jika pajak ekspor Indonesia meningkat keefektifannya dibandingkan Malaysia, maka ekspor CPO Indonesia menurun dengan asumsi ekspor Malaysia konstan dikarenakan harga ekspor CPO Indonesia meningkat. Ekspor yang menurun, akan meningkankan kuantitas CPO domestik dan menurunkan harga CPO domestik. Hal ini menunjukan kebijakan pajak dapat mengkontrol CPO domestik dan harga minyak makan. Walaupun pengaruh pajak ekspor relatif lebih rendah dibandingkan variabel lainnya, diantara keempat faktor diatas, hanya faktor ini yang dapat dikontrol oleh pemerintah.

Pada persamaan kedua, variabel rasio harga signifikan pada level 5%. Ini menunjukan rasio ekspor CPO dipengaruhi oleh satu bulan lag pada harga dibandingkan dengan rasio harga dibulan yang sama. Hasil yang relatif sama pada variabel lainnya di persamaan kedua dengan persamaan pertama.

 

Kesimpulan

Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan kebijakaan pajak ekpor, akan menurunkan daya saing ekspor CPO Indonesia. Penurunan ini menimbulkan dampak negatif untuk penurunan ekpor Indonesia dan dampak positif yang dapat mengontrol CPO domestik dan harga minyak makan. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong penghasil CPO untuk mengolah sendiri CPO sehingga dapat meningkatkan nilai tambah yang meningkatkan keuntungan.

 

Diulas oleh:
Felicia Faustine
Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in