Grandma Test: Conditional Cash Transfer

CCT

The Impact of Conditional Cash Transfers on Educational Inequality of Opportunity

 

Penulis                    : Andres Ham

Tahun                      : 2014

Sumber                    : Latin American Research Review, Vol. 49, No.3.

 

Tujuan Penelitian

Dalam studi ini, peneliti ingin melihat tingkat efektifitas dari program pemerintah yaitu Conditional Cash Transfer. Peneliti ingin melihat apakah program pemerintah ini dapat berdampak pada ketidaksamaan kesempatan seseorang untuk memperoleh pendidikan.

Metodologi

Dalam jurnal ini, untuk melihat tingkat efektifitas dari program conditional cash transfer, peneliti menggunakan 3 program conditional cash transfer dari 3 negara di Amerika Latin. 3 negara tersebut adalah Mexico dengan program mereka bernama PROGRESA, Honduras dengan program bernama PRAF, dan Nicaragua dengan program RPF.

Program PRAF Honduras dimulai pada tahun 2000 dan diimplementasikan untuk 40 desa, program PROGRESA Mexico dimulai pada tahun 1997 dan diimplementasikan kepada 506 desa, 320 desa sebagai desa penerima bantuan dan 186 desa sebaga control village. Untuk program RPF Nicaragua dimulai pada tahun 2000 dan diimplementasikan 42 desa. Ketiga program ini memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan human capital dari masyarakat desa tersebut.

Untuk mengukur dampak dari program conditional cash transfer (CCT), apakah memiliki dampak kepada perubahan ketimpangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, peneliti melihat hal tersebut berdasarkan seberapa sering seseorang pergi ke sekolah. Pada program PROGRESA melihat dari secondary school attendance, dan program PRAF dan RPF melihat dari primary school attendance.

Peneliti membagi anak-anak di desa yang diberikan bantuan CCT menjadi beberapa kelompok yaitu berdasarkan etnik, jenis kelamin, pendidikan orang tua, dan apakah anak tersebut terlahir dalam keluarga single parent atau tidak.

Table 1

Untuk mengestimasi efek dari program tersebut, peneliti menggunakan metode DD yaitu difference in differences. Kemudian peneliti membuat model dengan metode DD sebagai berikut :

Regresi

adalah binary variable yang mendenotasikan jika anak () tinggal di desa () menghadiri/masuk ke sekolah dalam suatu waktu (). menggambarkan perbedaan dari treatment village dan control village, adalah variabel control untuk tren agregat waktu. Kemudian adalah variabel dari program pemerintah yang menggambarkan interaksi dari treatmet dan time effects, sedangkan menggambarkan koefisien estimasi dari dampak dari program CCT. adalah individual specific covariates dan adalah individual specific error.

Model tersebut akan diregressi dengan 2 tujuan. Pertama, model atau persamaan tersebut akan di estimasi berbeda antara Advantaged (A) dan Disadvantaged (D). ini akan menyediakan bukti apakah efek peningkatan dari program ini akan lebih tinggi di kelompok tertentu atau tidak (berdasarkan table 1). Kemudian peneliti melihat interaksi antara kelompok dengan policy variable, ini akan membantu untuk menentukan apakah perbadaan dalam parameter estimated antara Advantaged dan disadvantaged groups signifikan atau tidak. Estimasi dilakukan dengan OLS (Ordinary Least Squares).

Hasil Penelitian

Table 2

Table 2 menggambarkan rata-rata tingkat pendaftaran sekolah untuk anak-anak yang berusia 6 tahun sampai 12 tahun sebelum program diimplementasikan. Dari tabel tersebut, kita dapat melihat bahwa parental education merupakan sumber yang paling relevan yang mengakibatkan inequality dari rata-rata tingkat pendaftaran sekolah. Dalam PROGRESA ada perbedaan sebesar 2 poin antara jumlah enrollment ke sekolah antara anak-anak yang berada di lingkungan dengan pendidikan tinggi dan pendidikan rendah.

Table 3

Table 4

Secara umum, semua program baik PROGRESA maupun RPS secara signifikan menunjukan peningkatan keseluruhan tingkat kehadiran kecuali PRAF (tabel 3, kolom 1). Hasil yang didapatkan menunjukan bahwa disadvantage group yaitu anak-anak yang berasal dari etnik yang minoritas, berjenis kelamin perempuan, berpendidikan kurang dari sekolah dasar dan hanya memiliki satu orangtua mendapatkan dampak yang menguntungkan dari program CCT ini daripada advantaged group. Tetapi hasil regresi di tabel 3 tidak menunjukan atau menggambarkan apakah perkembangan hasil yang diobservasi akan secara statistic signifikan.

Table 4

Dalam tabel 4, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa dalam program PRAF anak-anak yang berasal dari disadvantaged group mendapatkan keuntungan yang lebih daripada anak-anak yang berasal dari advantaged group atau secara statistik tidak pengaruh program PRAF tidak signifikan terhadap disadvantaged group.

Untuk program PROGRESA, kita dapat melihat bahwa dalam etnik yang minoritas, program ini dapat meningkatkan enrollment anak-anak yang berasal dari etnik yang minoritas untuk pergi ke sekolah. Kemudian, u
ntuk program RPS, anak-anak yang berasal dari disadvantaged group mendapatkan keuntungan yang lebih, hal tersebut digambarkan melalui meningkatnya enrollment dari anak yang berjenis kelamin perempuan untuk bersekolah sebesar 14 poin pada tahun pertama program ini dibandingkan anak yang berjenis kelamin laki-laki.

Secara keseluruhan kita dapat melihat bahwa program CCT (Conditional Cash Transfer) berdampak lebih terhadap anak-anak yang berasal dari disadvantaged group dalam hal primary enrollment.

Table 5

Untuk tabel 5 ini, memperlihatkan perbedaan antara advantaged dan disadvantaged groups setelah program conditional cash transfer telah diimplementasikan. Hasilnya adalah untuk program PRAF, inequality antara anak-anak yang orangtuanya memiliki pendidikan dibawah primary dan telah menyelesaikan pendidikan primary yang sebelumnya 6.6 poin menurun menjadi 3.4 poin diakhir program tersebut.

Kemudian untuk program PROGRESA, inequality antara advantaged dan disadvantaged groups mendekati 0 setelah program dijalankan. Untuk program RPS, inequality berkurang lebih dari 50 %. Dapat dilihat bahwa dengan adanya program-program tersebut di negara masing-masing berhasil mengurangi inequality dalam pendidikan antara advantaged dan disadvantaged groups.

Kesimpulan

Jurnal ini menggambarkan apakah program CCT dari ketiga negara yang dipakai yaitu PROGRESA, RPS, dan PRAF dapat mengurangi inequality yang terjadi di dunia pendidikan negara masing-masing. Hasil yang ditunjukkan adalah program CCT secara statistik berhasil mengurangi inequality untuk memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan antara advantaged groups dan disadvantaged groups. Akan tetapi, meskipun program CCT dapat mengurangi inequality tersebut, namun tidak sampai menghilangkan inequality secara keseluruhan.

Diulas oleh:
Cliffert Thimoty Walandouw
Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in