Grandma Test: Regional Economy & Economic Growth of Our Land

Grandma Test - REGOL

The Economic Growth and the Regional Characteristics: The Case of Indonesia

Penulis            : Yesi Hendriani Supartoyo, Jen Tatuh, dan Recky H. E. Sendouw

Tahun              : 2013

Jurnal              : Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juli 2013

Pendahuluan

Berlatar belakang dari rendahnya kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga saat ini. Di mana efek masyarakat dirasa terlalu rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonominya yang cukup tinggi, mengakibatkan diperlukannya analisa pengaruh karakteristik regional terhadap pertumbuhan ekonomi. Berangkat dari penelitian Sodik et al (2007) yang menyatakan bahwa keseluruhan pola kemampuan regional sebagai hasil pembawaan dari lingkungan sosial dan ekonomi sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih tujuan tercermin dalam karakteristik regional yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu berupa aspek-aspek atau kualitas regional yang terdiri dari angkatan kerja, penduduk, modal manusia (pendidikan), inflasi dan ekspor netto. Paper ini berupaya menganalisis bagaimana pengaruh laju pertumbuhan angkatan kerja, laju pertumbuhan penduduk, laju pertumbuhan modal manusia, laju pertumbuhan inflasi, dan laju pertumbuhan ekspor netto terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

 

Metodologi

a. Data

Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder di instansi terkait (BPS Provinsi Sulawesi Utara) di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Jenis yang dipergunakan adalah data tahunan mencakup periode 2006 – 2010 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.

b. Teknik Estimasi

Studi ini menggunakan alat analisis statistik regresi data panel. Uji statistik F (Uji Chow) dan Uji Hausman digunakan untuk memilih antara model common effect atau model fixed effect, (Hausman, 2001). Model empiris yang diestimasi adalah:

Persamaan Estimasi

dimana

Y adalah laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000;

x1 adalah laju pertumbuhan angkatan kerja berumur 15 tahun ke atas;

x2 adalah laju pertumbuhan penduduk;

x3 adalah laju pertumbuhan modal manusia (jumlah mahasiswa negeri dan swasta);

x4 adalah laju inflasi; dan

x5 adalah laju pertumbuhan ekspor netto (ekspor dikurangi impor).

Notasi i dan t menunjukkan identifier (dalam hal ini provinsi) dan waktu.

Hasil dan Analisis

Dari hasil perhitungan dengan menggunakan estimasi model common effect dengan model fixed effect, diperoleh hasil persamaan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai berikut:

Tabel 1

Hasil estimasi model pada Tabel 1 menggambarkan bahwa terdapat 1 variabel yang signifikan pada a = 0,05, yaitu laju pertumbuhan angkatan kerja sedangkan laju pertumbuhan inflasi signifikan pada a = 0,10. Sementara 3 variabel lain tidak signifikan.

Untuk menentukan pilihan estimasi yang digunakan yaitu dengan melakukan Uji Chow. Dari uji ini diharapkan dapat diketahui pilihan yang lebih tepat antara model common effect dengan model fixed effect. Pengujian yang dilakukan menggunakan Uji Chow yaitu :

H0 : model mengikuti common effect

H1 : model mengikuti fixed effect

Tabel 2

Hasil tersebut menunjukkan baik F test maupun chi square signifikan (p-value 0,0003 dan 0,0000 kurang dari a = 5 persen) sehingga Ho ditolak dan H1 diterima, maka model mengikuti fixed effect.

Kemudian dilanjutkan dengan melakukan teknik estimasi menggunakan model random effect. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan model estimasi fixed effect dengan model random effect, diperoleh hasil persamaan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai berikut:

Tabel 3

Hasil di atas menandakan bahwa tidak ada variabel yang signifikan pada a = 0,05 tapi angkatan kerja signifikan pada a = 0,10. Dari hasil estimasi, R2 yang dihasilkan dari estimasi persamaan dalam penelitian ini sangat kecil yakni hanya sebesar 3,48 persen selama masa periode pengamatan.

Untuk menentukan pilihan estimasi yang digunakan maka dilakukan uji Hausman.

H0        : model mengikuti random effect

H1        : model mengikuti fixed effect.

Hasil uji Hausman diatas menunjukkan bahwa untuk periode pengamatan 2006 – 2010 hasil pengujian tersebut signifikan (p-value 0.0471 kurang dari a = 5 persen) sehingga Ho ditolak dan H1 diterima sehingga estimasi menunjukkan bahwa pendekatan model fixed effect lebih baik dibandingkan dengan pendekatan model random effect. Berarti terdapat perbedaan antar unit yang dapat dilihat melalui perbedaan dalam constans term. Model fixed effect diasumsikan hanya fokus pada individual spesific effect.

Dalam penelitian dengan menggunakan cross section data, memungkinkan kecenderungan terdapatnya heteroskedastisitas dalam data penelitian, maka perlu dilakukan teknik estimasi dengan menggunakan model fixed effect dengan weighted least square atau sering disebut dengan general least square (GLS).

Tabel 4

Berdasarkan hasil olahan data untuk estimasi persamaan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan model fixed effect dengan weighted least square (GLS), diperoleh hasil yang lebih baik. Hasil estimasi model menggambarkan bahwa terdapat 2 variabel yang signifikan pada a = 5 persen, yaitu laju pertumbuhan angkatan kerja dan ekspor netto. Model estimasi ini juga memberi gambaran bahwa ada 18 provinsi yang pertumbuhan ekonominya positif

1. Uji Statistik

Tabel 5

a. Koefisien Determinasi (Uji R2)

Nilai R2 ialah sebesar 82,92 artinya bahwa sebesar 82,92 persen variabel pertumbuhan ekonomi bisa dijelaskan oleh variabel laju pertumbuhan inflasi, angkatan kerja, modal manusia, ekspor netto, dan penduduk

b. Pengujian Signifikansi Simultan (Uji F)

Dari hasil uji Prob F-statistik diperoleh bahwa nilai Prob F-statistik signifikan pada a = 0,10, hal ini mengindikasikan bahwa secara keseluruhan, semua variabel independen mampu menjelaskan variabel dependennya yaitu pertumbuhan ekonomi.

Pembahasan dan Kesimpulan

Interpretasi ekonomi dari persamaan yang diperoleh ialah nilai konstanta sebesar 5,75 menunjukkan bahwa jika variabel-variabel independen dianggap konstan, maka rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia ialah sebesar 5,75 persen.

a. Pengaruh Laju Pertumbuhan Angkatan Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan hasil estimasi regresi berganda data panel, menunjukkan bahwa variabel laju pertumbuhan angkatan kerja positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2006 – 2010. Hal ini disebabkan semakin banyaknya angkatan kerja yang bekerja, maka kemampuan untuk menghasilkan output semakin tinggi. Dengan banyaknya output yang mampu dihasilkan, maka akan mendorong tingkat penawaran agregat sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

b. Pengaruh Laju Pertumbuhan Penduduk terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan hasil estimasi regresi berganda data panel, menunjukkan bahwa variabel laju pertumbuhan penduduk negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2006 – 2010. Pengaruh tidak signifikannya laju pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi disebabkan antara lain rendahnya kualitas modal manusia angkatan kerja yang melakukan aktivitas ekonomi. Penduduk yang besar dengan kualitas penduduk yang rendah menyebabkan penduduk tersebut menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi dan bukan pemacu.

c. Pengaruh Laju Pertumbuhan Modal Manusia terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan hasil estimasi regresi berganda data panel, menunjukkan bahwa variabel laju pertumbuhan modal manusia cenderung berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tidak signifikan. Pengaruh tidak signifikannya laju pertumbuhan modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi antara lain disebabkan karena tidak digunakannya lag jumlah mahasiswa yang sedang menempuh studi di perguruan tinggi. Hal ini mengindikasikan jumlah mahasiswa yang belum menamatkan studi dari perguruan tinggi merupakan variabel yang kurang tepat menggambarkan teori human capital.

d. Pengaruh Laju Pertumbuhan Inflasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan hasil estimasi regresi berganda data panel, menunjukkan bahwa variabel laju pertumbuhan inflasi negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2006 – 2010. Pengaruh tidak signifikannya laju pertumbuhan inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi antara lain disebabkan karena inflasi (demand pull) pada rate yang wajar menunjukkan tanda peningkatan pendapatan. Jadi, karena bukan hiperinflasi maka tidak sampai menggerus pertumbuhan (growth).

e. Pengaruh Laju Pertumbuhan Ekspor Netto terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan hasil estimasi regresi berganda data panel, menunjukkan bahwa variabel laju pertumbuhan ekspor netto positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2006 – 2010. Nilai koefisien regresi yang kecil disebabkan oleh selisih dari nilai ekspor yang tidak terlalu besar dibandingkan nilai impor yang dilakukan Indonesia selama kurun waktu penelitian. Sehingga bisa dikatakan bahwa tingkat ekspor netto suatu daerah berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional walaupun belum begitu besar peranannya

Kesimpulan di atas memiliki beberapa konsekuensi, pertama diperlukan adanya kualitas angkatan kerja yang unggul, terampil dan dapat diandalkan, yang diimbangi dengan kuantitas penduduk Indonesia; kedua, perlunya mempertimbangkan modal manusia merujuk pada penggunaan lag jumlah mahasiswa yang sedang menempuh studi di perguruan tinggi; ketiga, antisipasi terhadap laju inflasi dan pentingnya mempertahankan laju ekspor netto agar tetap surplus.

Diulas oleh:
Khaira Abdillah
Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in