Grandma Test: Blue Continent’s Integration Blues

European Union Integration Grandma Test

European Integration and the Effects of Country Size on Growth

 

Penulis                                     : Jörg König

Tahun                                      : 2015

Sumber                                    : Journal of Economic Integration, Vol. 30, No. 3 (September 2015), pp. 501-53

Tujuan Penelitian

Dalam studi ini, Peneliti ingin membuktikan apakah ukuran suatu negara mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Teori yang telah ada menyatakan bahwa adanya efek skala nasional menguntungkan negara-negara besar sehingga negara-negara kecil berusaha mengatasi hambatan akibat ukuran kecil mereka dengan mengintegrasikan pasar mereka secara internasional. Studi berikut ini menguraikan beberapa penjelasan atas fenomena tersebut melalui perspektif Uni Eropa.

Metodologi

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, peneliti membuat tiga model utama yang dikhususkan pada proses konvergensi yang terjadi antara negara-negara Uni Eropa yaitu pengujian konvergensi tidak bersyarat, pengujian konvergensi bersyarat, serta model efek ukuran negara terhadap pertumbuhan ekonomi mereka. Di samping itu peneliti juga menjelaskan mengenai beberapa skenario yang dimungkinkan terjadi akibat integrasi ekonomi yang meliputi, proses divergensi, konvergensi, dan konvergensi yang tertunda (lagged convergence). Peneliti menggunakan grafik untuk menggambarkan ketiga proses tersebut, namun karena kurangnya bukti pendukung yang membuktikan adanya proses divergensi maupun konvergensi yang tertunda dalam konteks Uni Eropa, maka peneliti memfokuskan penelitiannya mengenai proses konvergensi yang terjadi. Pembahasan mengenai proses konvergensi setidaknya meliputi dua konsep konvergensi yaitu konvergensi dan konvergensi . Peneliti melakukan pengujian terhadap negara-negara anggota Uni Eropa antara tahun 1993 hingga 2012.

Isi

  1. Integrasi Eropa terhadap Negara Kecil

“Perdagangan internasional dan/atau persatuan ekonomi dapat menutup kerugian dari ukuran kecil” (Scitovsky 1960, p. 284). Melalui perluasan pasar domestik kecil mereka, dengan cara bergabung ke dalam Pasar Tunggal Uni Eropa yang luas (the large EU Single Market), negara-negara kecil mendapatkan akses untuk memperoleh modal dan tenaga kerja dari sekutu Uni Eropa yang lain. Akibat ekspektasi selisih keuntungan (marginal returns) yang tinggi, dorongan investasi dan migrasi semakin meningkat. Dikarenakan selisih keuntungan (marginal return) yang lebih tinggi, negara kecil mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Sehingga ketimpangan yang mula-mula terjadi akan terus menurun seiring waktu dan integrasi ekonomi berjalan. Hal tersebut merupakan kondisi yang dari skenario proses konvegensi yang dihasilkan oleh integrasi dalam Uni Eropa. Berikut adalah grafik yang menggambarkan proses konvergensi.

Convergence

Terlihat bahwa mula-mula terdapat ketimpangan yang besar antara pendapatan negara besar dan negara kecil, dan kemudian seiring berjalannya waktu ketimpangan terus mengecil. Hal tersebut dikarenakan seiring dengan proses integrasi dalam Uni Eropa, negara-negara kecil memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi sementara negara besar diasumsikan telah mencapai kondisi long run steady state.

Namun demikian Pasar Tunggal Uni Eropa masih belum sempurna, ketidaksempurnaan tersebut dapat memberikan dampak berupa proses divergensi. Untuk membahas masalah ketidaksempurnaan Pasar Tunggal Uni Eropa, peneliti membuat skenario divergensi dan konvergensi tertunda lagged convergence.

Divergence

Dalam skenario divergensi, ketimpangan pendapatan antara negara besar dengan negara kecil semakin besar seiring berjalannya integrasi antarnegara. Permasalahan perbedaan budaya dan bahasa menjadi constraint bagi perpindahan tenaga kerja, serta migrasi penduduk pun akan condong satu arah yaitu dari timur ke barat. Hal tersebut akan mengurangi efisiensi alokasi faktor produksi serta menyebabkan penurunan produktivitas negara-negara kecil.

Logged ConvergenceLain halnya dengan skenario divergensi di mana ketimpangan pendapatan antara negara besar dan negara kecil akan terus terjadi, skenario lagged convergence merupakan gabungan antara proses divergensi dan konvergensi. Skenario ini menggambarkan pengaruh dari remigrasi tenaga kerja yang telah terampil setelah waktu tertentu. Remigrasi tenaga kerja tersebut akan berimplikasi pada peningkatan produktivitas negara kecil dan kemudian integrasi antarnegara mengarah pada proses konvergensi. Sehingga, pada akhirnya ketimpangan pendapatan antara negara besar dan kecil akan berkurang seiring dengan menguatnya integrasi antarnegara.

  1. Konvergensi Ekonomi dalam Uni Eropa

A. Konsep Konvegensi Ekonomi

Pertama kali diperkenalkan oleh Barro dan Sala-i-Martin (1992), terdapat setidaknya dua konsep klasik mengenai konvergensi ekonomi: konvergensi dan konvergensi . Apabila ketimpangan kekayaan antarnegara menurun dari waktu ke waktu, inilah yang disebut konvergensi . Sementara apabila negara berpendapatan rendah benar-benar memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi, maka inilah yang disebut sebagai konvergensi . Dapat dikatakan bahwa konvergensi merupakan necessary condition untuk mencapai konvergensi karena, tingginya tingkat pertumbuhan negara berpendapatan rendah akan mempercepat catching up process yang dialami oleh negara tersebut, sehingga ketimpangan pun akan semakin menurun.

B. Pengujian Konvergensi

Konvergensi dapat dibedakan menjadi dua yaitu konvergensi tidak bersayarat (unconditional convergence) dan konvergensi bersyarat (conditional convergence).

Konvergensi tidak bersayarat (unconditional convergence)

Konvergensi tidak bersayarat muncul ketika perbedaan kekayaan antara negara berpendapatan tinggi dengan negara berpendapatan rendah menurun tanpa mempedulikan karakter ekonomi tertentu. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi semata-mata hanya bergantung pada tingkat pendapatan mula-mula dan tidak terikat dengan faktor-faktor lain.

Model persamaan yang digunakan oleh peneliti untuk menguji konvergensi tidak bersayarat adalah sebagai berikut:

Model Persamaan

Keterangan:

Yi,t0+T menunjukkan nilai PDB riil per tenaga kerja pada tahun akhir dari suatu periode T

Yi,to menunjukkan nilai PDB riil per tenaga kerja pada tahun awal dari suatu periode

Merujuk pada teori, koefisien harus menunjukkan tanda negatif, sebab negara berpendapatan rendah diharapkan tumbuh lebih cepat dikarenakan jarak menuju kondisi stabilitas (steady state) yang lebih panjang.

Table 1

Tabel di atas menunjukkan adanya kecenderungan yang kuat terhadap konvergensi tidak bersayarat di antara anggota Uni Eropa selama periode 1993 – 2012. Semakin rendah tingkat pendapatan pada tahun 1993, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Konvergensi bersyarat (conditional convergence)

Konvergensi bersayarat (conditional convergence) muncul ketika ketimpangan kekayaan antarnegara yang berintegrasi menjadi semakin sempit. Bersyarat dalam artian konvergensi ini, mengartikan bahwa, perekonomian juga bergantung pada faktor-faktor selain tingkat pendapatan mulai-mula, misalnya investasi, kebijakan perdagangan, institusi, atau keadaan tertentu lainnya.

Model yang digunakan oleh peneliti merupakan modifikasi dari fungsi produksi Cobb-Douglas

Fungsi Produksi Cobb-Douglas:

Cobb Douglas

Keterangan

  • Y : Output K : Modal
  • A : Tingkat teknologi L : Tenaga kerja

Persediaan modal per unit tenaga kerja efektif pada kondisi stabilitas jangka panjang dinotasikan k* dapat diperoleh melalui:

Kondisi Stabilitas Jangka Panjang

Dengan memasukkan persamaan di atas ke dalam fungsi produksi Cobb-Douglas dan menggunakan logaritma natural, pendapatan per ternaga kerja dalam kondisi stabilitas jangka panjang dapat ditentukan sebagai berikut:

Logaritma Natural

Kali ini setara dengan . Karena model pertumbuhan Solow menganggap teknologi sebagai faktor eksogen yang didistribusikan secara merata pada seluruh negara, ln(A) dapat dianggap konstan. Dalam rangka menguji apakah konvergensi bersayarat terdapat dalam negara-negara anggota Uni Eropa antara tahun 1993 hingga 2012, persamaan ditulis ulang menjadi:

Negara-Negara Uni Eropa

Melalui persamaan di atas diharapkan bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi berhubungan negatif dengan tingkat pendapatan per tenaga kerja mula-mula, jumlah pertumbuhan penduduk, perkembangan teknologi, dan depresiasi modal, serta berhubungan positif dengan tingkat tabungan.

Table 2

Tabel di atas menunjukkan estimasi konvergensi bersayarat dalam model pertumbuhan neoklasik. Koefisien negatif yang signifikan secara statistik dari tingkat pendapatan per tenaga kerja mula-mula tampak untuk seluruh spesifikasi regresi. Sehingga dapat diartikan bahwa konvergensi terdapat di antara negara-negara Uni Eropa.

Salah satu perluasan dari model pertumbuhan neoklasik yang penting, yang pertama kali diselidiki secara empiris oleh Romer (1990) dan Barro (1990) adalah pemisahan modal manusia (human capital) dari modal fisik (physical capital). Sehingga peneliti menambahkan human capital sebagai tambahan peregres dengan menggunakan proxy tingkat pendidikan , sehingga model persamaannya menjadi:

Human and Physical Capital

Table 3

Dari tabel di atas tampak bahwa human capital memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam spesifikasi OLS gabungan (pooled OLS), koefisien tingkat pendidikan signifikan secara statistik pada 1% level signifikansi. Koefisien dari pendapatan pertenaga kerja tampak tidak berubah begitu besar setelah perluasan model, yakni masih berada pada kisaran 1,2 hingga 1,4%. Sehingga dapat diketahui bahwa pada umumnya, terdapat bukti yang menyatakan bahwa konvergensi bergantung pada faktor-faktor tertentu suatu negara selain daripada tingkat pendapatan per tenaga kerja mula-mula.

C. Pengujian Konvergensi

Pengujian konvergensi mengilustrasikan apakah konvergensi yang terdeteksi, menurunkan ketimpangan kekayaan di antara negara-negara anggota Uni Eropa. Grafik berikut ini menunjukkan sejauh mana konvergensi telah ada di antara negara-negara anggota Uni Eropa antara tahun 1993 hingga 2012.

Figure 4

Grafik di atas mengilustrasikan ketimpangan kekayaan di antara negara anggota Uni Eropa menurun secara bertahap dari waktu ke waktu. Ketimpangan turun sekitar 20%, dari 0,95 pada tahun 1993 menjadi 0,70 pada tahun 2012. Hanya pada tahun 1999 dan 2009 terjadi sedikit kenaikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat konvergensi yang ditemukan, menyebabkan adanya konvergensi di seluruh negara-negara anggota Uni Eropa.

  1. Efek Ukuran Negara terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Dalam pengujian ukuran negara terhadap pertumbuhan ekonomi, peneliti memasukkan jumlah penduduk (population size) ke dalam persamaan dasar (6), menghasilkan:

Population Size

Dalam model tersebut peneliti menggunakan dalam vektor , sebagai control variable yang merupakan rangkuman dari variabel-variabel dibalik model pertumbuhan yang ditambahkan dengan human capital. Tabel berikut menggambarkan hasil regresi yang dilakukan Peneliti

Table 4

Kolom pertama dalam tabel berikut menunjukkan dampak jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi yang signifikan secara statistik dan berkorelasi secara negatif. Hasilnya menunjukkan bahwa negara yang penduduknya meningkat sebanyak 1% pada tahun 1993 mengalami penurunan rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi sebanyak 0,3%.

Berdasarkan pada beberapa hasil studi dari Levine dan Renelt (1992) dan Sala-i-Martin et al. (2004), Moral-Benito (2012a dan 2012b) membahas masalah ketidakpastian model menggunakan Bayesian Model Averaging (BMA). Metode ini memecahkan masalah ketidakpastian model dan mengidentifikasi faktor penentu pertumbuhan paling kuat secara empiris. Variabel kontroler tambahan (additional control variables) yang digunakan di antaranya keterbukaan perdagangan (trade opennes, tingkat harga investasi (investment price level), ratio pengeluaran pemerintah terhadap GDP (the ratio of government consumption to GDP), dan peranan lingkungan investasi yang aman (the role of secure investment environment). Variabel-variabel tambahan tersebut terangkum dalam vektor . Setelah variabel kontroler ditambahkan ternyata jumlah penduduk tetap tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

  1. Efek Masuknya Suatu Negara ke dalam Uni Eropa dan Uni Moneter Eropa terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Table 5

Angka buatan (dummy) berubah dari 0 menjadi 1 apabila negara bergabung menjadi anggota Uni. Koefisien Uni Eropa buatan (EU dummy) terbukti positif dan signifikan secara statistik. Hal tersebut mengindikasikan, ceteris paribus, bahwa masuknya suatu negara ke dalam Uni Eropa akan meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Hasil studi oleh Crespo-Cuaresma et al. (2008) menkonfirmasi studi ini dengan penemuan mereka yang menunjukkan bahwa ada efek positif dari lama waktu menjadi anggota Uni Eropa terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara hasil yang berbeda terdapat untuk pengujian EMU, yang mengindikasikan bahwa penggunaan mata uang yang sama tidak memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih jelas, pemisahan dilakukan dengan mengelompokkan negara anggota Uni Eropa berdasarkan lama waktu suatu negara telah tergabung. Pengelompokkan ini menghasilka dua grup di mana grup pertama merupakan anggota lama Uni Eropa yang terdiri atas 15 negara, dan grup kedua merupakan negara yang baru tergabung pada kisaran tahun 2004 hingga 2007 dan berjumlah 12 negara.

Table 6

Pada tabel di atas terlihat bahwa mula-mula jumlah penduduk memberikan pengaruh terhadap kedua kelompok. Namun kemudian arah dari efek jumlah penduduk menjadi bebeda, di mana anggota baru lebih diuntungkan dalam hal pertumbuhan ekonomi, dan efek berkebalikan justru dirasakan oleh anggota lama. Akibat efek yang kurang nyata terhadap anggota lama yang juga telah lebih terintegrasi, hal ini mungkin menunjukkan bahwa efek jumlah penduduk akan menurun seiring dengan peningkatan integrasi pasar. Akibat regresi terpisah yang menghasilkan efek negatif PDB mula-mula, yaitu konvergensi ekonomi, maka proses divergensi kurang dapat diterima.

Kesimpulan

Putaran-putaran terakhir perluasan Uni Eropa sangat meningkatkan jumlah anggota negara kecil Uni Eropa. Sehingga penting untuk diinvestigasi apakah keanggotaan Uni Eropa memberikan bonus terhadap negara kecil dan apakah penemuan tersebut mendukung proses konvergensi yang diinginkan oleh negara-negara anggota.

Dengan menyelidiki ke-27 negara anggota Uni Eropa selama periode 1993 hingga 2012, terbukti bahwa keberadaan konvergensi maupun konvergensi dapat ditemukan. Negara dengan tingkat pendapatan mula-mula yang rendah tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara maju, dan kemudian dalam jangka panjang, tingkat pendapatan dari setiap negara akan menuju suatu titik yang sama. Lebih jauh lagi, ceteris paribus, jumlah penduduk yang lebih sedikit memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengkonfirmasi keyakinan bahwa dalam jangka panjang, akses bebas menuju Pasar Tunggal Uni Eropa mengurangi kerugian akibat ukuran kecil suatu negara secara nyata.

Meski demikian, kejelasan efek jumlah penduduk menjadi tidak jelas setelah variabel kontroler dimasukkan ke dalam regresi. Bahkan efeknya berubah menjadi tidak signifikan secara statistik ketika ditambahkan country-specific fixed effects.

Namun penemuan tersebut tidak semata-mata mengartikan bahwa jumlah penduduk tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Akibat proses transisi ekonomi dari negara enggota Uni Eropa yang mungkin melalui beberapa titik balik, tingkat integrasi Uni Eropa yang berbeda dari setiap anggotanya mendistorsi penemuan efek yang jelas. Karena tingkat integrasi yang berbeda menunjukkan efek pertumbuhan ekonomii yang berbeda, hal ini dapat menjadi bias bagi hasil regresi. Hal ini khususnya terjadi ketika negara yang heterogen (EU-27) diselidiki dalam satu regresi. Dengan memisahkan sampel ke dalam dua grup yaitu grup anggota lama, dan grup anggota baru, studi ini menunjukkan adanya efek jumlah penduduk yang signifikan meski setelah ditambahkan country-specific fixed effects, additional control variables, dan endogeneity issues.

 

Beberapa Implikasi Kebijakan yang dapat Diperoleh dari Temua-temuan dalam Studi ini di antaranya:

  • Akibat ketidaksempurnaan Pasar Tunggal Uni Eropa yang merugikan negara-negar kecil, Uni Eropa harus segera menghapuskan batasan-batasan teknis dalam Pasar Tunggal Uni Eropa. Khususnya bidang jasa harus segera dibenahi. Single Market Acts I dan Single Market Acts II yang diajukan olehh Dewan Komisi pada tahun 2011 dan 2012 secara berurutan, dapat diartikan sebagai langkah yang tepat. Namun demikian, sejak tahun 2012 proses tersebut mengalami perlambatan. Sehingga Dewan Komisi harus melakukan akselerasi pada proses tersebut.
  • Instrumen bantuan perluasan (Instruments of Pre-Accession Assistance also known as IPA) harus diperluas dengan program yang khususnya membantu negara-negara kecil. Sejalan dengan hal tersebut, tidak hanya bantuan finansial namun juga tenaga ahli harus mengalir menuju negara kecil dan perusahaan-perusahaan mereka yang berorientasi ekspor.
  • Dalam rangka mengatasi kerugian ukuran kecil, negara kecil harus mulai menarik Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment)
  • Uni Eropa dan pemerintah-pemerintah negara anggota Uni Eropa harus meningkatkan investasi di bidang riset dan pengembangan supaya dapat meningkatkan human capital.
  • Karena negara anggota baru Uni Eropa memiliki tingkat pendapatan per kapita yang jauh di bawah rata-rata negara Uni Eropa, Dewan Komisi Eropa sebaiknya merevisi Cohesion Policy untuk meningkatkan pertumbuhan berkelanjutan.
  • Karena hasil juga menunjukkan bahwa integrasi ekonomi Eropa berdampak positif terhadap pertumbuhann ekonomi, adalah penting untuk memonitor usaha integrasi dari tiap negara anggota.

Singkatnya, hasil menunjukkan bahwa langkah-langkah untuk meningkatkan integrasi lebih lanjut seperti, penghapusan batasan perdagangan atau reduksi efek bias rumah tangga sangatlah diperlukan. Pada akhirnya hal ini akan menghasilkan persatuan ekonomi, di mana ukuran suatu negara menjadi kurang relevan bagi kesuksesan ekonomi suatu negara. Demikian, penyempurnaan Pasar Tunggal Uni Eropa harus berada di garis depan dari proses integrasi Eropa, khususnya yang berkaitan dengan jumlah anggota negara kecil Uni Eropa yang besar dan terus meningkat.

Diulas oleh:

Khaira Abdillah

Staff Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in