Expert Discussion 2016: Services Sector in Indonesia

2-exdis-2

Kegiatan Expert Discussion tahun 2016 diselanggarakan pada hari Kamis tanggal 21 April di Ruang Rapat lantai1 Perpustakaan FEB UI dengan Prof. Mari Elka Pangestu sebagai pembicara. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pukul 09.30 – 11.00 WIB. Topik yang dibahas dalam Expert Discussion kali ini adalah “Services Sector in Indonesia”, atau “Peranan Sektor Jasa di Indonesia”, dimana pembicara telah menyampaikan topik serupa dalam 10th Sadli Lecture and International Services Summit 2016 pada 12 April 2016. Selain itu, pembahasan dari topik ini juga sangat penting mengingat keadaan Indonesia yang tertinggal dari negara – negara ASEAN dan negara emerging lainnya dalam hal sektor jasa.

2-exdis-3

Prof. Mari Elka Pangestu selaku pembicara membuka diskusi ini dengan membahas mengenai penjelasan tentang bagaimana terjadinya jasa atau layanan itu sendiri. Jasa terjadi pada saat adanya alih daya atau “contracting out”. Proses “contracting out” ini dipengaruhi oleh tiga macam faktor, yakni ketersediaan jasa yang efisien, faktor institusi pendukung, serta urbanisasi. Selain ketiga faktor tersebut, keberadaan dari teknologi serta sifat dari jasa yang “tradeable” juga turut mendukung proses “contracting out”. Sementara itu, menurut penuturan Prof. Mari Elka Pangestu, Ph.D., peningkatan dari “contracting out” ini dapat meningkatkan produktivitas. Terdapat juga empat cara yang memungkinkan “delivery” dari jasa. Empat cara tersebut adalah perpindahan konsumen, FDI (Foreign Direct Investment), “contract across services”, dan pergerakan individu secara nyata.

Dibahas juga mengenai “four modes of supply”, yang meliputi “cross border supply”, “consumption abroad”, “commercial presence”, dan “presence of natural person”. Yang sering menjadi kendala dari perkembangan sektor jasa di Indonesia adalah keberadaan dari kebijakan restriktif yang bermuara pada terhambatnya “four modes of supply” diatas, sehingga sektor jasa kita masih tertinggal dibandingkan dengan negara – negara ASEAN lainnya. Sebagai contoh, Indonesia sebenarnya berpotensi menjadi salah satu destinasi“health tourism” seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, akan tetapi karena kebijakan dari pemerintah bersifat restriktif seperti adanya pelarangan dokter asing untuk bekerja di Indonesia, Indonesia sampai saat ini belum berhasil mewujudkan potensi tersebut. Padahal, peningkatan dari sektor jasa ternyata dapat menstimulus peningkatan pada sektor – sektor lainnya, seperti sektor manufaktur dan agrikultur, yang ditunjukkan pada tabel “Backward & Forward Linkages in Indonesia” dalam presentasi beliau.

Sebagai kesimpulan, ada tiga kondisi yang menyebabkan perkembangan sektor jasa belum optimal di Indonesia. Ketiga faktor tersebut adalah “low competitiveness”, “small share”, dan tingkat produktivitas yang rendah yang akan semakin merajalela apabila pemerintah masih menetapkan kebijakan – kebijakan yang restriktif. Hal ini dapat berdampak pada masih tertinggalnya sektor jasa Indonesia.

Sesi tanya jawab :

2-exdis-4

  1. Nadia Amalia, Ilmu Ekonomi 2013

– Apabila tingkat penggunaan ICT meningkat, maka yang semakin dibutuhkan adalah tenaga kerja yang memiliki “skill” yang tinggi. Namun, bagaimana dengan keadaan bangsa Indonesia yang notabene penduduknya memiliki skill ICT yang rendah? Bagaimana solusinya?

* Menurut World Development Report, ICT sebenarnya dapat meningkatkan produktivitas dan menurunkan kesenjangan sosial. Namun, ada dua hal yang menghambat pemanfaatan ICT secara optimal di Indonesia. Hambatan pertama adalah tingkat penetrasi internet yang masih rendah, yakni hanya sekitar 30%. Hambatan kedua adalah perilaku masyarakat Indonesia yang masih menggunakan ICT hanya untuk media sosial, padahal sebenarnya ICT dapat digunakan untuk hal – hal yang lebih bermanfaat. Oleh sebab itu, solusi dari masalah ini adalah membuat masyarakat Indonesia sadar bahwa sebenarnya ICT memiliki manfaat positif yang sangat besar dan luas, seperti misalnya menumbuhkan keahlian coding demi menambah “skill” ICT.

2-exdis-5

  1. M. Alvin, Ilmu Ekonomi 2013

– Bagaimana kesiapan Indonesia dalam menghadapi integrasi ekonomi, terutama dalam sektor jasa?

* Pada titik ini, Indonesia diharapkan untuk memasuki “4th mode”, yakni perpindahan dari tenaga kerja secara riil, seperti misalnya ada dosen pengajar dari Singapura yang diperbolehkan untuk mengajar di Indonesia. Hal ini sebenarnya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia, mengingat Indonesia berada dalam pasar yang besar, dan dengan segala sumber daya yang ada (terutama SDM), Indonesia dapat menjadi lebih dari konsumen.

2-exdis-6

  1. Iqbal Taher, Ilmu Ekonomi 2013

– Apa yang menyebabkan banyaknya kebijakan yang bersifat restriktif di Indonesia?

* Faktor utama yang menyebabkan banyaknya kebijakan yang bersifat restriktif adalah dominasi dari BUMN, yang cenderung menguasai sektor – sektor tertentu. Sektor edukasi yang bersifat nasional juga masih cenderung menutup diri dari pengajar – pengajar asing. Padahal, kebijakan yang bersifat restriktif tersebut dapat menurunkan optimisasi dari sektor jasa yang dapat membantu meningkatkan sektor – sektor lain, memiliki efek multiplier, serta meningkatkan partisipasi perempuan dalam pekerjaan. Oleh sebab itu, yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah peninjauan kembali dari kebijakan – kebijakan yang bersifat restriktif serta peningkatan transparansi.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in