Monthly Economic Discussion (MEcD): Blok Masela – Sumber Empuk Penerimaan Pemerintah

MEcD Blok Masela 2

Monthly Economic Discussion (MEcD) adalah program kerja bulanan dari divisi kajian Kanopi yang membahas sebuah tema mengenai ekonomi yang menjadi isu saat ini. Penyaji akan memberikan gambaran masalah dan beberapa pertanyaan yang menjadi pemicu diskusi, kemudian peserta dengan moderator akan berusaha menemukan jawaban untuk masalah tersebut. Tema dalam MEcD pada 16 Maret 2016 adalah “Blok Masela: Sumber Empuk Penerimaan Pemerintah” yang sedang sengit diperdebatkan, mulai dari rapat tertutup kabinet hingga ke masyarakat. MEcD diadakan di selasar Muamalat, Gedung B, FEBUI pukul 18.00 dan dihadiri 56 mahasiswa dari berbagai instansi di FEBUI maupun diluar FEBUI.

Sudah sejak 2008 nasib proyek regasifikasi Kilang Abadi, Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku maju-mundur. Jika sesuai dengan Plan Of Development (POD) yang disepakati antara Inpex Corporation selaku investor dengan SKK Migas seharusnya konstruksi kilang dimulai pada 2018 dan dapat mulai berproduksi pada tahun 2040. Namun, hingga 2016 rencana pengembangan masih belum mendapatkan keputusan resmi dari Presiden Joko Widodo sekalipun POD yang diajukan mengalami perubahan yang sebelumnya hanya akan berproduksi dengan kapasitas 2,5 juta metrik ton pertahun menjadi 7,5 juta metrik ton per tahun pada tahun 2015 silam.

Kasus ini mendapat perhatian dari pemerintah karena diperkirakan dapat menyumbang penerimaan negara lebih dari Rp 500 triliun per tahunnya selama 24 tahun kedepan. Angka fantasitis untuk dijadikan suntikan dana untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menggairahkan perekonomian negara yang cenderung lesu. Menurut perhitungan SKK Migas setiap tahunnya negara akan merugi sebesar , US$ 3,6 miliar dengan skema kilang darat sementara dengan skema kilang terapung merugi sebesar US$ 4,2 miliar. Dijelaskan juga kelebihan dan kekurangan dari setiap pembangunan kilang onshore dan offshore. Pertanyaan pemicu dari diskusi kali ini adalah menurut kalian lebih baik blok Masela dibangun dengan skema onshore atau offshore? Lantas mengapa? Regulasi seperti apa yang sebaiknya dilakukan Presiden Joko Widodo kedepannya?

Hasil diskusi dari 6 kelompok focus group seimbang 3 yang memilih offshore berpendapat dengan dibukanya offshore maka akan ada transfer teknologi, biaya pembangunan juga akan lebih murah sehingga profit yang diterima akan semakin besar. Waktu pembangunan kilang akan semakin singkat karena pembebasan lahan jauh lebih singkat yang berdampak pada pembangunan semakin cepat selesai. Pihak lain yang memilih skema onshore berpendapat akan menimbulkan multiplier effect yang lebih luas dan lebih memakmurkan penduduk setempat. Diperkuat lagi dengan ketersediaan teknologi Indonesia belum mampu menangani sendiri minyak dan gas alamnya sehingga akan menambah panjang kontrak kerja dengan asing. Saran bagi pemerintah adalah kaji ulang dampak positif dan negatif dari tiap skema terapung atau darat dan harus menyertakan analisa dampak lingkungannya. Memutuskan kontrak kerja dengan baik dengan Inpex Coorporation atau dengan pegawainya. Dan alangkah baiknya menggurangi pihak asing dalam pembangunan dan kepemilikan saham.

Mengambil kesimpulan dan memilih antara offshore dan onshore tidaklah mudah ditambah keterbatasan mahasiswa ekonomi yang melihat hanya dari segi ekonomi karena sesungguhnya masih banyak aspek sosial, teknologi, budaya, dan lainnya yang terkait dalam menentukan pemilihan skema kilang minyak dan gas kilang Abadi. Selain itu adanya kesulitaan dalam mencari hasil kajian kedua belah pihak, sehingga data yang disajikan dianggap bias karena ketidak tahuaan atas variable pembanding dalam penelitian kajian Tim Fortuga dan Kajian Poten & Partners. Apapun hasil dari onshore atu offshore jika penyajiannya dilakukan dengan jujur akan selalu menguntungkan untuk perkembangan daerah di Indonesia.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in