Grandma Test: Dualisme Pasar Pesepakbola Liga Spanyol

Grandma Test - Dualisme Pasar Pesepakbola Liga Spanyol

Hidden Monopsony Rents in Winner-Take-All Markets: Sport and Economic Contribution of Spanish Soccer Players

 

Penulis                : Garcia-del-Barrio, Pedro, and Francesc Pujol

Tahun                  : 2007

Sumber               : Managerial and Decision Economics, Vol. 28, No. 1 (Jan., 2007), pp. 57-70

 

Tujuan Penelitian

Dalam studi ini, Peneliti ingin mempelajari, melihat, dan membuktikan keberadaan dualisme dari pasar tenaga kerja pemain sepakbola Liga Spanyol, berupa pasar monopsoni bagi para pemain dengan kemampuan standar, dan pasar oligopoli bagi para pemain dengan kemampuan dan talenta superstar (winner takes all market).

Metodologi

Secara umum, Peneliti mengambil keduapuluh tim yang ada di Liga Utama Spanyol, La Liga (LFP), beserta pemain-pemain dari masing-masing tim yang telah dinilai berdasarkan kemampuan mereka, sebagai populasi yang diteliti dalam studi ini. Penilaian kemampuan mereka sendiri dikumpulkan dari data performa mereka dalam jurnal olahraga Marca : Guia Marca edisi 2002 dan 2003, yang mendeskripsikan performa dari masing-masing pemain La Liga pada musim 2001/2002.

Analisa dilaksanakan dengan melakukan regresi antara variabel dependen nilai pasar dari masing-masing pemain (market value), terhadap beberapa variabel, yaitu indeks performa dari masing-masing pemain, profitability dari masing-masing pemain – karena seorang selain performa di lapangan, seorang pemain yang bisa menjual banyak merchandise untuk klub pasti akan bernilai lebih – serta klasifikasi apakah pemain tersebut memiliki market power atau tidak dalam perihal negosiasi gaji, berbiimplikasi apakah pemain tersebut tergolong memiliki kemampuan special atau tidak (superstar skills), semua didasarkan dari penjabaran matematis perbedaan antara kedua pasar.

Variabel pertama dimasukkan oleh Peneliti adalah indeks performa setiap pemain yang dikumpulkan dari dua sumber, yaitu Puntos Marca dan Liga Fantastica. Kedua indeks tersebut menjelaskan bagaimana performa setiap pemain dalam posisinya masing-masing. Karena ada peluang antara kedua indeks berkorelasi, maka regresi terhadap keduanya dilaksanakan secara terpisah.

Variabel kedua yang dipertimbangkan adalah profitabilitas setiap pemain. Cara Peneliti untuk menilainya adalah dengan menghitung berapa kali seorang pemain dicari dalam mesin pencari Google, dengan asumsi semakin banyak dicari seorang pemain, maka ia akan menjadi semakin menguntungkan dalam perihal penjualan merchandise.

Ketiga, Peneliti sendiri mengklasifikasikan para pemain yang ada di La Liga sendiri menjadi dua, yakni pemain superstar – yang diyakini memiliki struktur pasar oligopoly – serta pemain standar – yang diyakini memiliki struktur pasar monopsony. Selain diklasifikasikan demikian, Peneliti juga memilah para pemain menjadi 5 terbaik, 10 terbaik, dan 20 terbaik sebagai variabel. Klasifikasi lain adalah 20 orang yang berisikan 1 orang yang menurut indeks adalah terbaik bagi masing-masing tim. Peneliti juga mengelompokkan pemain sesuai posisi ; bek, gelandang, atau penyerang, kewarganegaraan para pemain, serta apakah pemain tersebut seorang pemain nasional atau tidak.

Hasil Penelitian

Menurut teori mikroekonomi, bila sebuah pasar memiliki keadaan ada sedikit pembeli (demander) relatif terhadap jumlah penjual (supplier), maka pasar tersebut cenderung akan bersifat monopsony. Struktur pasar ketenagakerjaan dalam dunia sepakbola adalah salah satu pasar yang memiliki ciri demikian. Bukankah ada ratusan hingga ribuan pemain yang bersirkulasi dalam suatu transfer market suatu liga utama, belum lagi jika menghitung ratusan hingga ribuan pemain muda lainnya dalam setiap level umur akademi masing-masing tim? Fenomena tersebut menggambarkan sebuah pasar yang seharusnya berbentuk pasar monopsony, dimana para pembeli jasa sepakbola, dalam bentuk klub sepakbola, dapat menegosiasikan harga – dalam hal ini gaji – dari para penyedia jasa sepakbola, dalam bentuk para pemain sepakbola, agar menjadi murah.

Namun, apakah benar demikian?

Garcia-del-Barrio dan Pujol berpendapat, bahwa sebenarnya terjadi dualisme bentuk pasar ketenagakerjaan dalam dunia sepakbola, seperti yang bisa diekstrapolasi dari contoh Liga Utama Spanyol, La Liga (LFP). Bagaimana dualisme tersebut dapat terbentuk? Mereka berargumen, bahwa monopsony hanya akan terjadi pada pasar tenaga kerja pemain sepakbola yang memiliki kemampuan standar, sedangkan fenomena yang berbeda akan terlihat pada pemain dengan status dan talenta superstar.

Masuk akal? Ya. Kondisi tersebut dapat tergambarkan jelas dalam konflik antara Cristiano Ronaldo dan seorang pemain lawannya beberapa tahun silam, dimana Ronaldo menyuruh lawannya untuk tidak banyak omong karena ia tidak mendapatkan gaji yang sama dengannya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi, padahal keduanya adalah sesama penyedia jasa sepakbola, yang harusnya terjebak dengan sistem monopsony yang notabene meng-undervalue harga alias gaji dari jasa mereka?

Dalam argumennya, Garcia-del-Barrio dan Pujol menjabarkan secara matematis bahwa terdapat perbedaan dalam wage bill dari klub-klub sepakbola dengan adanya eksistensi dari para superstar dalam dunia sepakbola.

Sebelum memulai, keduanya mengklasifikasikan pemain standar sebagai A (average player) dan S (superstar player), yang terlihat dalam persamaan dibawah :

1

Di atas adalah rumusan Revenue dari sebuah klub sepakbola, dimana R dari masing-masing klub, dinotasikan sebagai fungsi dari f (footballing-related revenue) dan m (other-than-footballing-related, marketing-related revenue), keduanya dipengaruhi oleh jumlah pemain standar, pemain superstar, serta µ menggambarkan tingkat kompetitifnya liga, jumlah fans, dll.

2

Cost dari klub masing-masing sendiri dirumuskan dengan mencari total dari wf (wage for footballing activities) dan wm (wage paid for marketing and non-footballing activities), dikalikan dengan jumlah superstar dan pemain standar masing-masing klub, sehingga membentuk fungsi profit berikut:

3

Dengan demikian, tujuan dari masing-masing klub sepakbola – selain untuk glory dari klubnya masing-masing, tentunya – adalah untuk mendapatkan profit maksimal, yang digambarkan dengan persamaan berikut, yakni First Order Condition dari maksimisasi keuntungan klub:

5 setengah

45

Persamaan (4) menggambarkan kasus penggajian dari pemain average atau biasa saja (A) dan persamaan (5) menggambarkan kasus pada pemain superstar (S). Dalam hasil ini, Garcia-del-Barrio dan Pujol memperlihatkan intuisi yang dapat diambil dari perbedaan kedua persamaan tersebut. Dalam persamaan (4), terlihat bahwa gaji yang diterima pemain biasa (A) dikurangi oleh monopsony power dari para klub, tergambarkan oleh pengurangan elemen terakhir dalam persamaan. Sebaliknya, para pemain superstar (S) tidak mengalami distorsi tersebut, karena mereka sendiri memiliki market power seorang supplier yang cukup tinggi , mengingat skill set yang mereka miliki. Di sinilah terlihat bagaimana para pemain sepakbola dengan kemampuan luar biasa dapat ‘memberontak’ dari sistem monopsoni yang menggerogoti para pemain dengan kemampuan biasa lainnya.

6

Diatas, Peneliti menjabarkan bahwa asumsi yang mereka gunakan adalah bahwa klub-klub sepakbola bersedia untuk menghabiskan proporsi wage bill untuk pemain superstar mereka hingga tidak tersisa sedikitpun, karena memang mereka membutuhkan pemain tersebut. Sebaliknya, untuk pemain dengan kemampuan biasa-biasa saja, A, mereka mendapatkan keuntungan dari wage bill yang seharusnya, karena mereka memiliki monopsony rent seeking ability terhadap para pemain tersebut.

Setelah menilik bagaimana profit function dari klub dan perbedaan yang ada antara pemain biasa dan pemain luar biasa, Garcia-del-Barro dan Pujol mulai melihat bagaimana utility function dari sebuah klub, yang dapat dijabarkan sebagai:

7

Mereka menjabarkan bahwa kepuasan – atau kesuksesan dalam kasus ini – dari suatu klub merupakan fungsi dari jumlah superstar mereka (Sn), karakter spesifik klub (πn) seperti basis pendukung, serta ∑A*i/N yang menggambarkan kebutuhan klub akan pemain dengan kemampuan standar. Dengan asumsi masing-masing klub membutuhkan kebutuhan yang sama (di luar superstar), maka persamaan pun dibagi oleh N (jumlah klub dalam suatu liga). Maka, persamaan kepuasan dimaksimalkan:

8

Constraint diatas menggambarkan bahwa klub, bagaimanapun juga kondisinya, pasti tidak ingin mendapati dirinya dalam kondisi defisit, maka keuntungan klub harus minimal berupa breakeven point.

9

Terakhir, Garcia-del-Barrio dan Pujol menjabarkan wage bill (WB) untuk membayar pemain superstar dari masing-masing klub seperti persamaan diatas. Terlihat persamaan kita akan menjadi persamaan bahwa wage bill adalah gaji (dari footballing and marketing activities) akan sama dengan αn (proporsi keuntungan sebuah klub karena adanya superstar didalam klubnya) dikalikan πind (total keuntungan dari industri sepakbola Spanyol secara keseluruhan), ditambah pendapatan klub secara langsung dari keberadaan superstar secara internal klub (berdasarkan hasil sepakbola (f) dan hasil penjualan merchandise dll. (m)).

Dengan landasan teori tersebut, maka Garcia-del-Barrio dan Pujol melakukan regresi antara variabel dependen dan variabel independen yang dijabarkan pada metodologi diatas, yakni indeks performa berupa (MarketValue) terhadap (PuntosMarca) dan (LigaFantastica) secara terpisah, profitabilitas berdasarkan Google search berupa (FilteredGoogle), serta klasifikasi-klasifikasi pemain 5 terbaik, 10 terbaik, 20 terbaik, pemain terbaik tiap klub – dengan asumsi pemain tersebut memiliki klasifikasi pemain superstar (S), dan klasifikasi lain seperti kewarganegaraan dan posisi permainan, dan hasil ditemukan signifikan dalam hampir semua variabel.

Kesimpulan

Seperti hasil derivasi matematika diatas dan regresi empiris kedua model, terlihat bahwa dalam kasus La Liga, Liga Utama Spanyol, bahwa memang ada ‘segmentasi pasar’ menjadi dua jenis pasar, yaitu pasar monopsony bagi sebagian besar pemain dalam liga yang berkemampuan biasa saja, dimana mereka biasanya mengalami penggajian yang dibawah level seharusnya yang disebabkan oleh bargaining power klub dalam negosiasi gaji yang lebih kuat, dan pasar oligopoly ‘winner takes all’ bagi para pemain luar biasa dan superstar, karena kebalikan dari pasar sebelumnya, klub-lah yang mencari keberadaan mereka dalam tim, menghasilkan market power seorang oligopolis bagi pemain superstar tersebut.

Mengapa gaji dari Lionel Messi, Neymar, dan Luis Suarez meraup puluhan persen total pengeluaran Barcelona? Mengapa klub seperti Manchester City dan Paris Saint-Germain tidak henti-hentinya membeli pemain superstar baru sekalipun tim mereka sudah bergelimang bintang? Mengapa sekalipun dengan kehadiran dari Ronaldo, Bale, dan Benzema di Liga Spanyol, Liga Inggris tetap dianggap lebih menarik dan kompetitif? Semoga studi ini dapat membantu kita untuk lebih menjelaskan fenomena yang terjadi dalam dunia sepakbola Eropa, dan dunia secara umumnya.

 

 

Diulas oleh:

Natanael Waraney Gerald Massie

Kepala Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2016

 

REG

 

*mohon maaf atas kurang jelasnya gambar terakhir, adapula secara umum pada regresi terhadap variabel independen hasil ditemukan signifikan.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in