Output Expert Discussion: Penerapan Ekonomi Sirkular

Pembicara : Lydia Napitupulu, S.E.,M.Sc. (Dosen FEB UI)

Moderator : Alvin Ulido Lumbanraja

Sistem ekonomi tidak berdiri sendiri; tetapi juga berada dalam sistem ekosistem. Contohnya, sistem ekonomi di gurun dan sistem ekonomi kelautan menerapkan sistem ekonomi yang berbeda disesuaikan dengan kondisi alamnya. Karena inputnya dari ekosistem, mulai dari barang mentah hingga kegiatan konsumsinya, maka output yang dihasilkan dari sistem ekonomi akan kembali lagi ke sistem ekologi ketika barang habis dipakai, sehingga sebenarnya sistem ekonomi adalah sistem yang sirkular. Ekosistem adalah closed system, karena apa yang diambil hanya dari dalam bumi, tidak ada outsource yang lain.

Definisi

Restorative by design and aims to keep products, components, and materials at highest utility and value, at all times. –Ellen McArthur Foundation.

Definisi ini menunjukkan bahwa Ekonomi Sirkular memang sistem yang memakai konsep ekonomi yang sudah ada yaitu Green Economy, dengan memaksimalkan lebih lagi produktivitas. Namun apa yang membedakan Ekonomi Sirkular dengan Green Economy</em adalah, sedari awal suatu institusi atau perusahaan merencanakan bagaimana desain produk secara keseluruhan, membaginya menjadi dua fungsi yaitu bagian dari produk ramah lingkungan yang ketika habis dipakai akan terurai di alam, dan bagian dari produk yang akan masuk kembali ke dalam ekonomi dengan disassembly lalu reuse. Ekonomi Sirkular dipopulerkan oleh Tiongkok yang menggunakan sistem ini untuk menanggulangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan industri di negara tersebut.

Bagaimana caranya agar input yang masuk akan terus berada di dalam ekonomi dalam jangka waktu yang lama dan memberikan utility yang lebih besar sebelum masuk ke dalam buangan?

“That’s what happen when things are free!”

Yang terjadi di masyarakat saat ini adalah menggunakan barang tidak pada utilitas maksimalnya, dan barang dengan cepat berganti seiring dengan cepatnya tren dan preferensi berganti. Apa yang memicu perilaku seperti ini adalah perusahaan yang memproduksi barang dengan bahan baku yang semurah mungkin sehingga harga yang ada dipasaran menjadi relatif murah dan affordable, sehingga barang dengan mudah tergantikan. Barang yang tergantikan juga dengan mudah masuk ke dalam waste.

Mengikuti nature manusia, kita akan jauh lebih menghargai suatu barang ketika barang tersebut berharga mahal, susah dicari, atau stoknya telah menipis, sehingga tidak heran ketika suatu barang harganya murah atau gratis, maka barang tersebut kapan saja tergantikan. Siapa yang tidak suka barang gratis? Kecenderungan manusia untuk mengambil sebanyak-banyaknya, namun lalu yang terjadi adalah menyia-nyiakan, atau tidak menghargainya sesuai nilai yang seharusnya bisa dimaksimalkan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan agar barang-barang tersebut lebih lama berada di dalam ekonomi? Kita bisa berkaca pada beberapa negara yang telah menerapkan sistem dalam pengelolaan dan perencanaan ekonomi zero waste.

Case: Uni Eropa Zero Waste

  • Reducing the quantity of materials required.
  • Production philosophy: how goods can last.

Case: Tiongkok

  • Eco industrial park: strategi pemetaan industrisehingga kontrolnya lebih mudah. Misal, pabrik semen tidak didirikan di sembarang tempat sehingga polusinya bisa di kontrol.
  • Renting service

Indonesia

Challenge: bagaimana menumbuhkan secondary market untuk used goods.

Apa yang bisa Indonesia lakukan dalam menghargai barang ke nilai yang seharusnya yaitu:

  • Plastic and paper recycling
  • Energi biogas: aliran listrik yang dihasilkan bersifat sedikit tetapi stabil. Sehingga bisa digunakan untuk lampu jalan, tempat parkir. Hal ini dapat diterapkan di lingkungan apartemen dan gedung perkantoran.
  • Agricultural practice

Indonesia masih menerapkan contra-productive policies, yaitu kebijakan yang malah menghambat laju produktivitas, antara lain:

  • Larangan impor produk bekas: pajak produk bekas jauh lebih tinggi, padahal produk bekas bisa memaksimalkan utilitasyang tersisa dari barang misalnya, mesin yang masih bagus yang produktivitasnya lebih tinggi daripada produk baru keluaran Tiongkok, terutama untuk mesin-mesin yang Indonesia belum mampu untuk memproduksi sendiri.
  • Subsidi BBM: kenyataan bahwa sumber minyak semakin sedikit seperti ditutupi oleh pemerintah yang memberikan subsidi sehingga harga BBM menjadi lebih murah. Masyarakat perlu tahu harga BBM yang sebenarnya sehingga mereka tahu bahwa stok minyak benar-benar tinggal sedikit, sehingga laju penggunaannya melambat.

Kendala yang dimiliki Indonesia dalam Ekonomi Sirkular maupun menyumbang hal-hal baik untuk lingkungan yaitu:

  • Struktur kepemilikan: insentif, perlunya ada keringanan pajak untuk lahan yang tidak dibangun melainkanditanami tanaman sehingga menangkap air ketika hujan dan memberi oksigen.
  • Eksternalitas: orang yang menghasilkan eksternalitas positif tidak diberi reward.
  • Public goods: is not always efficient. Nature of human: semakin banyak barang, semakin mudah didapatkan, maka penghargaan atas barang itu semakin rendah.
  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in