Literasi Keuangan : Mengapa harus dilakukan?

Nadia Amalia / Wakil Ketua Divisi Kajian 2015

Pada perjalanan saya ke negara tetangga yang tersohor dengan industri finansial seperti Singapura dan Hongkong, saya sempat merasa bingung karena jarang sekali saya melihat kendaraan tidak tergolong mewah bagi standard Indonesia. Bahkan teman saya mengatakan bahwa guru yang mengajar pada sekolahnya mengendarai kendaraan mewah keluaran terbaru yang berasal dari Eropa. Disana pulalah pertama kalinya saya melihat antrian yang sangat panjang untuk membeli tas berharga puluhan hingga ratusan juta layaknya antrian panjang untuk membeli burger McD. Lalu apakah mereka memang memiliki standard gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia? apakah yang membuat mereka dapat membiayai hidup dengan lifestyle yang tinggi tersebut?

Pertanyaan itulah yang saya ajukan pada salah satu penduduk setempat di Hongkong. Ia pun menjawab bahwa kemampuan konsumsi mereka didukung juga oleh pendapatan mereka yang didapat dari investasi yang disisihkan dari pendapatan mereka setiap bulannya. Didukung pula dengan 70% dari penduduk Hongkong dan 68% dari penduduk di Singapura yang sudah secara melek secara finansial.

Sebelum itu, apakah itu melek finansial?  

Melek finansial ialah kemampuan untuk mengerti bagaimana uang bekerja, bagimana seseorang mendapatkannya dan mengatur keuangan mereka, bagaimana mengivestasikannya (menghasilkan lebih darinya) serta mendonasikannya untuk menolong  orang lain.

Lalu, bagaimanakah melek finansial dapat menjelaskan fenomena diatas?

Dengan rata-rata gaji dari penduduk Hongkong yakni Rp. 24.000.000, apabila mereka sudah melek secara finansial dengan menyisihkan misalnya 15 persen atau Rp. 3.600.000 dari pendapatan mereka untuk investasi dengan reksadana saham setiap bulannya.  Maka dalam 10 tahun mereka akan mendapatkan Rp 1.003.166.178 dengan asumsi return sebesar 15%. Di lain pihak, jika mereka menabung dengan cara konservatif tanpa melalui institusi finansial maka mereka hanya akan mendapatkan Rp 432.000.000 dalam 10 tahun. Dengan kata lain, dengan melek finansial mereka tahu bagaimana uang bekerja untuk mereka.

Di Indonesia sendiri, melek finansial dibagi menjadi dua agenda utama yang sering dikumandangkan oleh-oleh institusi keuangan publik seperti OJK atau IDX yakni memperkenalkan masyarakat bagaimana mereka mengatur keuangan mereka sehingga tidak terkonsentrasi pada konsumsi dan memberitahu “keberadaan” institusi dan pasar finansial.

Pengaturan dari segi finansial memang terlihat sederhana namun ternyata dalam penerapannya tidaklah mudah. Mari coba tanyakan pada diri anda sendiri apakah anda menabung secara rutin setiap bulannya? Atau uang tersebut rasanya sudah lari saja ke perut untuk agenda jalan-jalan sabtu minggu? Jika anda menjawab iya untuk pertanyaan pertama maka selamat anda sudah memenuhi syarat pertama untuk pola konsumsi sehat!

Menurut data  yang dilansir World Bank, Indonesia sendiri sayangnya memiliki tren saving yang menurun sejak 3 tahun belakangan ini. Pola konsumsi yang konsumtif kita memang menjadi pahlawan pada saat krisis 2008,  namun pada sisi lain pola konsumsi yang tidak sehat seperti low saving akan mengarah pada low investment. Apabila tidak ada kelebihan dana yang dimiliki masyarakat maka darimanakah asalnya modal untuk cukup untuk memenuhi negara yang haus investasi ini?

Padahal Investasi merupakan kunci utama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti yang dikatakan Robert Solow dalam teori pertumbuhannya .  Akibatnya, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia harus membungkus diri dengan cantik untuk mempromosikan diri kepada investor luar negeri. Hingga tahun 2013, FDI masih mendominasi dengan sumbangan 67.8% dari realisasi investasi dimana investasi domestik hanya memenuhi 32.2 % dari realisasi investasi.

Bayangkan dampaknya jika Indonesia bergantung pada Investasi asing dan krisis ekonomi melanda! Sudah tentu Indonesia terkena efek domino karena kehilangan investasi dari negara yang terkena krisis. Gawat kah? Sudah tentu!

Selanjutnya, kegiatan menabung akan percuma saja apabila uang tersebut hanya ditaruh dibawa kasur ataupun ditaruh pada celengan ayam. Karena itu, dibutuhkan peran institusi finansial yang menjadi median antara orang yang memiliki uang menganggur dengan orang yang membutuhkan dana segar untuk kegiatan mereka.

Namun, sekali lagi literasi keuangan masyarakat Indonesia ini masih sangat rendah. Sejumlah lebih dari 75 % masyarakat Indonesia masih memiliki pengetahuan yang terbatas atas produk dan jasa finansial.  Jika anda telah berinvestasi dalam pasar modal seperti dengan reksadana, maka anda telah menjadi salah satu dari 0.2 % masyarakat di Indonesia yang telah berinvestasi di dalamnya! Angka yang sangat kecil apabila dibandingkan Malaysia dan Singapura yang mencapai 13% dan 30% dari populasi penduduknya.

Sayang sekali, jika mengetahui dengan menabung dan investasi secara rutin akan menghasilkan tambahan kekayaan bagi anda apabila anda melakukannya dengan cerdas yakni dengan pengetahuan yang cukup. Tak hanya itu, Indonesia pun mendapatkan keuntungan darinya yakni secara perlahan kebutuhan Investasi dalam negeri dapat disokong dari investasi domestik.

Melihat kondisi Indonesia yang memiliki literasi keuangan yang rendah dibandingkan negara-negara tetangga, marilah kita menjadi invidu yang cerdas tentang literasi keuangan dan beraksi dalamnya mendorong untuk kemajuan Indonesia!

 

Referensi :

Tingkat Literasi Keuangan Masyarakat Didominasi Perbankan. Diakses Pada April 27, 2015, dari http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52f3aa2c56de8/tingkat-literasi-keuangan-masyarakat-didominasi-perbankan.

Gross savings (% of GDP). Diakses pada April 28, 2015, dari http://data.worldbank.org/indicator/NY.GNS.ICTR.ZS.

Investing in Indonesia. Diakses pada April 28, 2015, dari http://www.apboconference.com/presentations2014/Investing-in-Indonesia-BKPM.pdf

Subinarto, Djoko. Improving Financial Literacy. Diakses pada April 28, 2015, dari http://www.thejakartapost.com/news/2014/02/07/improving-financial-literacy.html

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in