Ketimpangan Sosial : Pemerintah Bukan Pahlawan Mereka   

Nadia Amalia | Wakil Kepala Divisi Kajian| Ilmu Ekonomi 2013

Jika berbicara tentang ketimpangan sosial, mungkin “hampir” seluruh masyarakat di Indonesia atau seluruh negara bagian manapun merasakan dampak darinya. Sehingga, saya merasa tidak perlu menjelaskan lebih lanjut tentang isu tersebut.

Pada artikel ini, saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang apa itu penyebab, efek atau dampak dari ketimpangan sosial melainkan mengenai sesuatu keganjilan yang mungkin berbeda dengan persepsi yang selama ini kita anggap. Sebagai masyarakat yang membayar pajak sudah tentu kita mengharapkan pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh komponen masyarakat dan salah satu diantaranya ialah penanganan masalah ketimpangan sosial. Tetapi, permasalahan yang muncul disini ialah pajak yang kita bayarkan untuk pemerintah tersebut malah mendorong ketimpangan sosial. Pernyataan tersebut mungkin membingungkan karena tak tampak efek langsung dari pembiayan pemerintah dengan ketimpangan sosial.

Jika menilik lebih jauh tentang ketimpangan sosial, terdapat dua pendorong utama dari ketimpangan sosial sekarang ini terjadi yakni perekonomian global dan inovasi. Perekonomian global yang semakin memanas turut mendorong kompetisi yang ada dalam perekonomian dunia sehingga mendorong lahirnya inovasi. Dan mengingat hampir seluruh dari sistem perekonomian dunia ialah campuran ataupun liberal menjadikan siapa yang dapat menciptakan inovasi terbaru maka ialah yang akan memimpin di pasar. Sehingga dengan kata lain, inovasi teknologi baru akan melahirkan kekayaan baru bagi individu yang menciptakan inovasi tersebut. Disinilah, asal muasal ketimpangan sosial yang terjadi sekarang.

Namun, apakah peran dari pemerintah sendiri dalam proses ini?

Saya mengambil kasus dari Amerika Serikat sebab mereka memiliki kontribusi terhadap riset dan pengembangan sebesar 2.71 % dari GDP pada tahun 2012 jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang kurang dari 1 % dari GDP. Amerika Serikat menyuntikan dana tersebut bagi sektor swasta dan akademisi untuk melakukan riset bagi kemaslahatan negara tersebut dengan secara langsung maupun tidak langsung seperti dengan subsidi pajak.

Sektor swasta yang mendapatkan suntikan dana akan melakuakn riset sehingga mendapatkan teknologi baru tercipta. Disinilah permasalahan timbul dan dipandang tidak adil bagi beberapa golongan  orang. Sektor swasta yang dibiayai secara cukup besar-besaran oleh pemerintah akan mendaftarkan teknologi baru tersebut untuk dipatenkan. Setelah itu, mereka akan mendapatkan keuntungan dengan menjadi satu-satunya penjual atas produk tersebut di pasar dan meberlakukan harga monopoli untuk profit pribadi perusahaan tersebut. Dengan itu, kaum swasta akan mendapatkan keuntungan yang lebih dan menjadi semakin kaya atas pembiayaan yang dilakukan oleh pemerintah. Dengan itu, ketimpangan yang terjadi yakni si kaya akan menjadi semakin kaya dengan bantuan suntikan dana oleh pemerintah.

Melihat kasus ini, tampaknya tak adil bagi pemerintah untuk mendorong ketimpangan sosial dengan dana yang seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. Namun, posisi pemerintah dapat dibilang sangat dilematis sebab riset dan pengembangan sangat diperlukan bagi suatu negara. Di lain pihak apabila pemerintah tak memberikan insentif bagi pihak swasta maka inovasi yang lahir dari negara tersebut akan menurun sehingga trade off  yang dihadapi oleh pemerintah cukup tinggi karena ketimpangan merupakan efek yang tak bisa dihindari dari pembiayaan riset untuk pihak swasta.

Adilkah situasi ini yang merugikan masyarakat kelas golongan bawah yang merana ditengah  kejayaan golongan kelas atas?

 

 

Referensi :

 

http://www.project-syndicate.org/commentary/publicly-funded-inequality-by-kemal-dervi–2015-03

http://www.oecd.org/indonesia/sti-outlook-2012-indonesia.pdf

http://data.worldbank.org/indicator/GB.XPD.RSDV.GD.ZS

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in