Afrika, Masihkah Benua Tanpa Harapan?

Luh Putu Ratih Kumala Dewi | Kepala Divisi Kajian Kanopi 2015 | IE 2013

Jika mendengar kata Afrika, apakah hal pertama yang terlintas di benak anda? Kemiskinan, kelaparan, atau kekacauan? Benua yang dahulu dijuluki “the hopeless continent” kini adalah salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Lalu, masa depan apa yang ditawarkan Afrika?

International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan dalam lima tahun ke depan, tujuh dari 10 negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia adalah negara-negara Afrika. Dalam survei yang dilaksanakan oleh Bloomberg terhadap ekonom dunia, Kenya menempati urutan ketiga dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi tercepat tahun 2015 yakni sebesar enam persen, setelah Tiongkok dan Filipina. Benua Afrika dengan wilayah 30 juta kilometer persegi adalah rumah bagi 930 juta penduduk, yang merupakan 14,72 persen dari penduduk dunia dan benua terpadat kedua di dunia setelah Asia. Dengan ekonomi yang diproyeksikan terus bertumbuh, pendapatan per kapita Afrika akan terus meningkat dan melahirkan semakin banyak kaum-kaum kelas menengah. Kaum-kaum inilah yang siap mengikuti tren konsumsi dunia serta menyerap barang dan jasa yang ditawarkan oleh pasar dunia.

Permintaan barang dan jasa dari negara-negara di Afrika diproyeksikan akan mengalami peningkatan yang pesat dan berkelanjutan. Terdapat tiga kunci utama yang mendorong kenaikan pengeluaran konsumen di Afrika, yaitu: 1) Ramalan jumlah populasi yang mencapai dua milyar pada tahun 2050. Jumlah populasi di Afrika pada tahun 2050 diperkirakan bertambah dua kali lipat dari tahun 2010 dimana 66 persen dari totalnya adalah penduduk berusia produktif. Kenaikan jumlah populasi menyebabkan kenaikan tingkat permintaan Afrika terhadap barang dan jasa. 2) Penurunan tingkat kemiskinan secara signifikan. Tingkat kemiskinan di Afrika diperkirakan akan turun menjadi sebesar 20 persen pada tahun 2020 dibandingkan tahun 1980-an yang mencapai 45 persen, sehingga banyak penduduk yang keluar dari kemiskinan dan mengalami kenaikan daya beli. 3) Laju urbanisasi yang pesat. Pada tahun 2050, hampir 60 persen penduduk Afrika akan tinggal di kota yang membuat lebih dari 800 juta orang hidup dalam “urban environment”. Urbanisasi akan mengakibatkan konsumen Afrika membeli lebih banyak barang dan jasa, dan memudahkan perusahaan-perusahaan untuk menjangkau konsumen.

image001-55cde468f27e613f164567fb

Grafik 1. Pengeluaran Konsumen Afrika ($ milyar)

Sumber: Accenture, 2011.

Grafik diatas menunjukkan tren pengeluaran konsumen di Afrika yang meningkat dari tahun ke tahun dan juga diperkirakan akan meningkat di masa depan. Laporan terakhir dari African Development Bank, memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, sebagian besar negara-negara Afrika akan mencapai tingkat pendapatan kelas menengah dan kelas menengah ke bawah, dengan pengeluaran konsumen yang akan meningkat tajam dari $680 milyar pada tahun 2010 menjadi $2,2 triliun atau setara dengan konsumsi negara-negara maju di Eropa saat ini seperti Prancis dan Jerman. Afrika adalah pasar yang penuh peluang menjanjikan.

Tidak banyak negara -terutama negara-negara Asia- yang menyadari potensi besar Afrika sebagai tujuan pasar barang dan jasa. Afrika adalah negara tujuan ekspor yang tidak terlalu signifikan bagi Asia, dimana tingkat ekspor Asia ke Afrika pada tahun 2013 sebesar $187,7 milyar atau hanya 3 persen dari total ekspor Asia. Begitu juga dengan investasi, berdasarkan data dari United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD), rata-rata tingkat investasi asing langsung keluar dari Asia ke Afrika ditengarai sebesar $1,2 milyar. Tingkat investasi Asia ke Afrika jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Inggris ($30 milyar pada tahun 2003), Amerika Serikat ($19 milyar pada tahun 2003), Perancis ($11,5 milyar pada tahun 2003), dan Jerman ($5,5 milyar pada tahun 2003).

Indonesia, hampir sama dengan kebanyakan negara Asia lainnya, baru saja menyadari potensi besar ekonomi Afrika. Pada bulan April 2015 lalu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan pertumbuhan volume perdagangan Indonesia ke Afrika yang selama ini hanya sebesar 3,7 persen dari total perdagangan Indonesia bertambah hingga 80 persen dalam tiga tahun mendatang. Adakah jalan bagi Indonesia untuk ikut serta mencicipi rumput Afrika? Ada, tentu saja. Saat ini negara-negara kawasan Afrika sedang gencar memperbaiki kondisi infrastruktur di negaranya dengan menggenjot pembangunan terutama infrastruktur penghubung yang berperan penting dalam distribusi barang. Hal ini menyebabkan kenaikan permintaan kawasan Afrika terhadap material bangunan dan inilah salah satu celah kecil yang bisa dimanfaatkan pengusaha-pengusaha Indonesia untuk berekspansi ke kawasan Afrika. Selain itu, perusahaan-perusahaan produk asli Indonesia mungkin bisa meniru jejak Indomie yang sedang populer di Nigeria dengan membangun strategi pemasaran yang tepat, perusahaan ini memperkenalkan mie instan dengan bumbu yang telah disesuaikan dengan selera penduduk lokal. Afrika, benua ini tidak lagi “The hopeless continent”, sekarang Ia adalah “The full of hope continent”.

Referensi:

Accenture,. (2011). The Dynamic African Consumer Market: Exploring Growth Opportunities in Sub-Saharan Africa. Accenture. Retrieved from http://www.accenture.com/sitecollectiondocuments/local_south_africa/pdf/accenture-the-dynamic-african-consumer-market-exploring-growth-opportunities-in-sub-saharan-africa.pdf

Asian FDI in Africa. (2007). Asian Foreign Investment In Africa: Towards A New Era Of Cooperation Among Developing Countries. Retrieved from http://unctad.org/en/docs/iteiia20071_en.pdf

French, H. (2012). The Next Asia Is Africa: Inside the Continent’s Rapid Economic Growth. The Atlantic. Retrieved from http://www.theatlantic.com/international/archive/2012/05/the-next-asia-is-africa-inside-the-continents-rapid-economic-growth/257441/

Robinson, J. (2015). Photographer: Greg Baker/AF via Getty Images The 20 Fastest-Growing Economies This Year. Bloomberg. Retrieved from http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-02-25/the-20-fastest-growing-economies-this-year

unctad.org,. (2015). Bilateral FDI Statistics. Retrieved 29 April 2015, from http://unctad.org/en/Pages/DIAE/FDI%20Statistics/FDI-Statistics-Bilateral.aspx

World Trade Organization,. (2015). International Trade Statistics 2014. Retrieved 27 April 2015, from https://www.wto.org/english/res_e/statis_e/its2014_e/its14_toc_e.htm

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in